
''Tadi ada seorang wanita yang menghubungi kamu, Mas,'' kata seorang wanita yang bernama Alicia. Usai berkata seperti itu, ia menyesap minuman cokelat yang ada di hadapannya.
''Siapa?'' tanya Sean dengan mata menyipit menatap Alicia. Sean baru saja menjatuhkan bokongnya di atas kursi kosong di depan Alicia.
''Nama nya Anastasya, ada emot love love di ujung namanya. Hehehe, aku lihat layar ponsel mu menyala di sertai deringan, terus aku angkat aja deh. Dia menanyakan kamu, aku katakan kamu lagi di toilet, lalu setelah itu panggilan terputus. Maaf kalau lancang,'' jelas Alicia. Gadis periang yang usianya dua tahun di bawah Sean.
Alicia lah yang akhir akhir ini menemani Sean menghabiskan hari. Mereka belum berpacaran dan belum memiliki hubungan khusus, tapi Sean terus mencoba untuk bisa menerima dan mencintai Alicia. Karena Alicia adalah wanita yang di jodohkan oleh sang mama dengan diri nya.
Mendengar itu, Sean sedikit salah tingkah dan merasa malu, karena ia tertangkap basah oleh Alicia masih menyimpan nama seorang wanita dengan emot hati tersebut. Lalu setelah itu Sean langsung saja melihat riwayat panggilan, dan benar saja sekitar sepuluh menit yang lalu Tasya menghubungi dirinya.
Repleks sudut bibir Sean tertarik ke dalam, ia tersenyum simpul. Entahlah, rasanya ia bahagia mengetahui Tasya sudah mau menghubungi dirinya secara duluan.
__ADS_1
''Dengan cara sederhana begini saja sudah membuat aku bahagia, apalagi kalau Tasya sudah menjadi istri ku. Duh, tidak bisa aku bayangkan, bisa sebahagia apa aku setiap hari nya,'' Sean berkata di dalam hati.
''Eh, tapi, tidak. Aku akan terus bersikap abai dan menjaga jarak dari Tasya, dengan begitu, kalau dia ada rasa terhadap aku, dia pasti merasa kehilangan aku,'' sambung Sean di dalam hati.
Tanpa Sean sadari, dia sudah mengabaikan keberadaan Alicia dan tanpa ia sadari, ada hati yang tersakiti saat mengetahui bahwa pria yang ia harap menjadi suami ternyata menyimpan hati dengan wanita lain.
Iya, sejak pandangan pertama dan sejak pertemuan pertama kali nya, Alicia sudah jatuh hati sama sosok pria bertubuh tegap, berparas rupawan.
***
Tidak terasa hari demi hari berjalan begitu cepat. Kini, usia kandungan Juwita sudah memasuki usia sembilan bulan. Hanya tinggal menghitung hari lagi ia akan melahirkan.
__ADS_1
''Duh, perut besar ku ini sungguh mengganggu. Begini salah begitu salah, aku benar-benar enggak bisa tidur dengan nyaman,'' gerutu Juwita. Ia lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
''Kamu yang sabar dong, Sayang. Tidak lama lagi anak kita akan lahir, kamu dan aku bisa bernafas lega setelah melihat kehadiran nya di dunia. Duh, pasti wajah anak kita mirip sama, Mas. Mas sudah tidak sabar lagi ingin melihat dan menimangnya,'' Rama ikutan duduk bersandar di kepala ranjang. Ia duduk di samping Juwita, lalu mengelus perut Juwita yang buncit.
Mendengar perkataan sang suami, Juwita jadi salah tingkah karenanya.
''Iya, Mas. Pasti wajah anak kita mirip sama kamu, secara kamu 'kan Papa nya,'' timpal Juwita dengan senyum simpul. Juwita memang pandai sekali dalam menyembunyikan aib nya.
Selama beberapa Minggu ini, Juwita tak pernah tenang menjalani hari-harinya. Karena Alvino terus saja menghubungi nya, meminta uang dalam jumlah yang tidaklah sedikit. Karena tidak ingin semua kebohongan nya terungkap, mau tidak mau Juwita tetap mengirimkan uang tersebut. Hingga, rekeningnya ludes tak bersisa.
Bersambung.
__ADS_1