Akad Nikah Suamiku

Akad Nikah Suamiku
Melamar 1


__ADS_3

Malam harinya, setelah berpikir cukup keras, akhirnya Sean menemui sang mama yang tengah duduk di sofa ruang keluarga. Ada yang ingin dia bicarakan.


''Ma.'' Sapa Sean, lalu duduk di samping sang mama. Sarah yang tadi tengah menatap layar televisi yang menyala, lalu menoleh ke samping, ke arah sang putra.


''Iya, ada apa, Nak?''


''Ma, em . . .,'' ragu Sean berucap.


''Iya, ada apa? Katakanlah, Mama akan mendengarkan apapun yang ingin kamu bicarakan. Kok tumben banget kamu ragu-ragu begitu pengen ngomong sama Mama, penting banget, ya?'' sang mama lalu menatap wajah lekat sang putra yang teramat tampan rupawan. Meskipun hanya memakai piyama tidur, ketampanan Sean tak luntur sedikit pun.


''Ma, jadi begini, aku ingin Mama batalkan perjodohan antara aku dan Alicia,'' ucap Sean hati-hati.


''Apa maksud mu Sean? Bukankah selama beberapa Minggu ini kamu sudah menghabiskan hari-hari bersama nya. Bukankah kamu sudah belajar untuk menerima nya?'' tanya Sarah keheranan.


''Mama benar. Tapi aku tetap tidak bisa mencintai Alicia, Ma. Kasihan dia kalau aku harus pura-pura mencintai nya, dan kasihan juga dia kalau aku terus memberikan harapan yang terlalu besar kepada nya,'' jelas Sean.


Sarah menghela nafas panjang.


''Sean, apalagi yang kamu tunggu? Kamu harus segera menikah! Pokoknya Mama tidak mau tahu, karena Mama sudah tidak sabar lagi ingin menimang cucu,'' tegas sang mama.


''Sean akan menikah, Ma. Sean akan segera melamar Tasya. Masa iddah nya sudah berakhir, Mama sama Papa temani aku untuk melamar Tasya besok malam,'' ucap Sean lagi. Kali ini dia berucap begitu yakin.

__ADS_1


''Tasya lagi? Ah . . . Bagaimana kalau Tasya tidak menerima lamaran mu Sean? Nanti kamu sakit hati lagi, murung lagi, ke luar negeri lagi,'' ujar sang mama. Karena dia tahu, sudah sering kali Tasya menolak cinta anak laki-lakinya itu. Dia kira Sean sudah menyerah, tapi nyatanya tidak. Sean adalah tipekal pria yang sulit untuk jatuh cinta serta sulit untuk melupakan seseorang yang sudah di cintainya. Di zaman sekarang, pria seperti Sean ini sangat lah langka. Beruntung sekali kalau Tasya bersedia menerima lamarannya.


''Kita coba dulu, Ma. Jangan kasih tahu Tasya maupun Mama dan Papa nya. Kalau Tasya masih tetap menolak cinta aku, maka aku pasrah sajalah, Mama mau menjodohkan aku sama siapa, aku akan terima,''


''Baiklah kalau begitu. Besok Mama dan Papa akan menemani kamu ke rumah Tasya.'' Sang Mama mengelus pipi mulus sang putra. Sebenarnya dia kasihan melihat Sean yang cinta mati sama Tasya, tapi begitulah, cinta memang aneh. Sulit untuk menyadarkan seseorang yang lagi jatuh cinta.


* * *


Keesokan malamnya, benar saja, Sean dan kedua orangtuanya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah orangtua Tasya.


Perihal Alicia, Sarah sudah mengatakan semua kepada Alicia, beruntung nya Alicia tak banyak protes, dan dia menerima saja. Meskipun ia merasa teramat kecewa dan sakit hati sama keputusan Sean, karena dia sudah terlanjur berharap.


Setibanya di rumah orangtua Tasya, Bella dan Andi menyambut kedatangan keluarga Sean dengan senang hati dan begitu ramah. Mereka mempersilahkan Sean beserta kedua orangtuanya duduk di sofa ruang tamu.


''Duh, kalian pada rapi sekali, emang mau ngapain sih, Jeng? tanya Bella kepada Mama Sean. Mereka berdua merupakan teman dekat.


Sean dari tadi terlihat begitu gugup. Suhu tubuhnya mendadak menjadi panas dingin.


''Tasya mana, Jeng?'' tanya Sarah, Mama nya Sean.


''Tasya ada di kamar nya, Jeng. Eh, emang mau ngapain sih?'' tanya Bella lagi begitu penasaran.

__ADS_1


''Tante, sebenarnya aku beserta Mama dan Papa ke sini karena kami ingin melamar Tasya. Aku masih mencintai Tasya, dan aku siap menerima semua kekurangan dan kelebihan nya. Insya Allah aku akan menjaga Tasya sepenuh hati ku,'' ungkap Sean yakin.


Mendengar itu, Mama dan Papa Tasya merasa terkejut. Tapi akhirnya mereka tersenyum senang. Mereka sebenarnya dari dulu juga setuju sekali kalau Tasya menikah dengan Sean, tetapi Tasya selalu mengatakan kalau Sean sudah dia anggap seperti kakak nya sendiri.


Bella lalu berjalan ke lantai atas, ia akan memanggil Tasya.


''Ada apa sih, Ma?'' tanya Tasya. Tasya sedang asyik membaca novel kesukaan nya. Dia menutup novelnya dengan cepat begitu melihat sang mama menghampiri nya.


''Yuk kebawah, di bawah ada Sean,'' ucap Bella seraya memegang kedua tangan Tasya.


''Apa, Sean? Beneran Ma?'' tanya Tasya girang dangan wajah mendadak berbinar terang. Entah kenapa repleks saja ia merasa senang mendengar Sean berkunjung ke rumah nya, karena sebenarnya dia sudah sangat merindukan sosok pria tampan yang sudah menemaninya sedari belia.


* * *


Di tempat berbeda, Rama terlihat begitu panik. Sekarang dia sedang berada di rumah sakit, karena Juwita akan segera melahirkan.


Karena Juwita kesulitan melahirkan secara normal, akhirnya sang Dokter mengambil tindakan lebih lanjut. Juwita terpaksa harus melahirkan secara Caesar.


Rama tidak bisa menemani Juwita di dalam ruangan, karena dia takut sama darah.


Kini, Rama tengah berdiri dengan perasaan tak tenang di depan pintu ruang bedah. Dia tak sendirian, ada Jeni, Dira, Papa nya, Mama nya Juwita serta Jack. Mereka sudah tidak sabar lagi ingin melihat bayi nya Juwita.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2