
Setiba di dalam Apartemen miliknya, Tasya langsung saja merebahkan diri di atas kasur empuk king size.
Ia menutup mata, meyakinkan diri kalau semua yang ia putuskan sudah benar adanya. Tak ada yang perlu dipertahankan lagi. Cerita antara dirinya dan sang suami telah usai, kalau terus dipertahankan, hanya ada keributan demi keributan yang terjadi, hanya ada rasa sakit yang di rasakan, dan Tasya merasa semua itu tak akan baik untuk kesehatan mentalnya.
Tasya mengambil ponsel, lalu memutar lagu dengan judul LEPASKAN AKU dari J-Rocks. Bohong kalau dirinya mengatakan sudah tak cinta dengan sang suami, rasa cinta itu pasti ada, tapi lebih dominan rasa kecewa dan rasa benci karena telah diduakan. Tasya tahu, dengan seiring berjalannya waktu, ia pasti akan bisa mengubur dalam dalam perasaanya terhadap Rama. Pria yang telah membersamai dirinya selama lima tahun.
Alunan lagu mulai menusuk kalbu, lagu yang setiap bait seakan mewakili perasaan Tasya.
~ Saat ku rasa
Semua telah berbeda
Dirimu jadi tak sama
Karena ku tahu
Kau kau inginkan aku
Tuk jadi yang sempurna
Tapi kau tahu ku tak bisa
Menjadi yang kau pinta
Terlalu lama ku terjebak
Dengan dirimu
Kini ku ingin
Pergi darimu
Takkan ada yang bisa
Menahan ku lagi
Sudahlah sudah lepaskan diriku
Jika kau rasa
Kaulah segalanya
Semua menjadi percuma
Ingin rasanya kumenjauh darimu
Buang semua cerita
Tapi janganlah kau sesali
Apa yang telah terjadi
Terlalu lama ku terjebak
__ADS_1
Dengan dirimu
Kini ku ingin
Pergi darimu
Takkan ada yang bisa
Menahan ku lagi
Sudahlah sudah lepaskan diriku
Kini ku ingin
Pergi darimu
Takkan ada yang bisa
Menahan ku lagi
Sudahlah sudah lepaskan diriku
Kini ku ingin
Pergi darimu
Takkan ada yang bisa
Menahan ku lagi
Sudahlah sudah lepaskan diriku ~
Air mata menetes dari sudut mata tanpa suara. Tasya kini merasa jauh lebih lega, karena dirinya sudah berani mengambil keputusan yang besar untuk keluar dari lingkungan toxic.
***
Di dalam sebuah rumah, seorang pria terus duduk dengan kepala menunduk, kedua tangan memegang kepala. Ada sesak yang ia rasa saat tahu sang istri sudah tak sudi tinggal serumah dengan nya.
Ingin rasanya ia menangis, tapi masih ia tahan, karena sang kekasih masih duduk di sisi nya.
''Udah ah, jangan lebay kamu Mas. Percayalah, setelah ini aku akan menjadi istri yang sempurna untuk mu, hidup kita akan bahagia dengan kehadiran malaikat kecil di antara kita. Lupakan Si Tasya itu. Toh kamu bisa lihat sendiri kan, dia sudah pergi dengan membawa barang barang miliknya, itu tandanya dia sudah menyerah dan dia tidak mau di madu. Egois sekali dia.''
Juwita terus mengoceh, dia memeluk tubuh tegap Rama. Kini, mereka sedang berada di dalam kamar utama. Tatapan mata Rama begitu nanar melihat lemari pakaian Tasya terbuka lebar dan menyisakan pakaian hanya tinggal separuh saja. Itu berarti Tasya sudah pergi meninggalkan dirinya. Hal itulah yang membuat Rama merasa begitu sedih.
''Tidak bisakah kau bersabar sayang? Tidak bisakah kau mencoba dulu, kau merasa sakit karena kau belum terbiasa. Banyak para wanita di luaran sana yang mempunyai madu tidak hanya satu, tapi hidup mereka baik-baik saja. Terlihat bahagia.''
Rama berkata di dalam hati, dengan harapan Tasya akan kembali. Kembali melihat akad nikah antara dirinya dan Juwita yang tinggal beberapa hari lagi.
***
Dan hari bahagia bagi Rama dan Juwita pun tiba, mereka menggelar akad dan pesta pernikahan di sebuah hotel ternama, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Juwita.
Rasanya Juwita sudah tidak sabar lagi ingin menjadi istri dari seorang CEO. Bangga tentunya kalau dia bisa menjadi Ibu Bos di perusahaan milik Rama.
__ADS_1
Kini, semua anggota keluarga sudah memenuhi lokasi pesta.
Sebentar lagi akad nikah akan segera di mulai.
Rama sudah siap dengan pakaian serba putih yang membaluti tubuh nya. Sedari tadi ia duduk di pinggir kasur di dalam kamar dengan perasaan gelisah tak menentu. Ia terus berusaha menghubungi Tasya, tapi panggilan darinya tak kunjung diangkat oleh sang istri pertama. Besar harapannya Tasya akan hadir menemani dan menyaksikan dirinya yang sebentar lagi akan melakukan akad nikah.
Semenjak kepergian Tasya hari itu, tak pernah lagi ia kembali ke rumah dan tidak pernah lagi mereka bertemu. Ada rindu yang begitu menggebu dirasakan oleh Rama kepada sang istri, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, karena selama beberapa hari ini, Juwita selalu berada di dekatnya, mereka selalu bersama-sama mengurus dan memantau segala kebutuhan untuk pernikahan.
''Rama, ayo. Sang pengantin wanitanya sudah siap, begitu juga dengan penghulu dan yang lainnya.''
Jeni, Mama nya Rama datang menghampiri Rama.
''Iya, Ma.'' Sahut Rama lesu.
''Yang semangat dong.'' Dira, sang kakak bersuara seraya menepuk kecil bahu Rama.
''Aku memikirkan Tasya.''
''Sudahlah Rama, wanita keras kepala seperti dia tidak usah dipikirkan lagi. Tak ada gunanya sama sekali,'' ucap Dira lagi.
Setelah itu Dira dan Jeni menggamit tubuh Rama, mereka berjalan berdampingan menuju ruang resepsi pernikahan.
Setibanya di ruang resepsi, benar saja, Juwita dan yang lainnya sudah duduk di ruangan itu. Juwita tersenyum senang melihat kedatangan sang calon suami, tetapi tidak dengan Rama, Rama merasa biasa saja menatap Juwita, karena bagi nya, Tasya tetap lah yang paling cantik. Kalau Juwita tidak hamil, mungkin Rama tidak akan pernah menikah dengan nya.
Rama duduk di samping Juwita dengan wajah yang begitu murung.
Lalu setelah itu penghulu pun bersuara, mulai membaca doa dan setelah itu beliau meminta agar Rama dan Jack saling berjabat tangan. Iya, Jack lah yang akan menjadi wali dari Juwita, karena dirinya merupakan kakak laki-laki satu-satunya Juwita.
''Bagaimana? Apakah sudah bisa kita mulai?'' tanya penghulu.
''Bisa.''
Jawab para saksi bersamaan.
''Baiklah, bismillahirrahma . . .''
Ucapan pak penghulu terputus saat seorang wanita bersuara.
''Tunggu dulu!'' seru wanita yang berjalan dengan langkah kaki gemulai memasuki ruang resepsi. Wanita itu tampak sangat cantik dan anggun, bahkan sang pengantin wanita kalah cantik dengan dirinya. Semua yang hadir di ruangan itu terkesima melihat dirinya.
Kebaya berlengan panjang yang ia pakai dengan rok dari kain batik sebagai bawahan begitu pas membaluti tubuh indahnya. Rambutnya ia sanggul, dan parasnya yang cantik dilapisi dengan makeup yang begitu natural. Tasya tampak begitu cantik.
Tasya lalu meminta agar di beri jalan, orang-orang yang sudah mengenal siapa dirinya lalu memberi jalan.
Lalu Tasya duduk tepat di samping Jeni, sang mertua.
''Wah, cantik sekali bidari,'' Jack gemetaran melihat sosok wanita yang ia kagumi selama ini sudah duduk di depannya. Tak pernah sebelumnya ia melihat Tasya dari jarak cukup dekat seperti sekarang.
Begitu juga dengan Rama, Rama berulangkali membuka tutup matanya untuk meyakinkan dirinya kalau apa yang ia lihat memang benar adanya.
Rama merasa senang melihat kedatangan sang istri yang tampak baik-baik saja. Tak ada mata merah dan tak ada air mata. Rama beranggapan kalau Tasya sudah bisa menerima semuanya, menerima kehadiran Juwita diantara mereka. Kini, Rama sudah merasa lega.
Bersambung.
__ADS_1