
Pagi hari, Tasya berdiri di depan cermin meja rias yang berukuran besar, yang ada di dalam kamarnya.
Tasya tengah mempersiapkan penampilannya untuk menghadiri sidang perdana proses perceraian antara dirinya dan Rama. Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin, penampilan nya sudah terlihat sempurna.
''Udah, anak Mama sudah sangat cantik,'' Bella menghampiri Tasya.
''Makasih, Ma. Mama doakan, ya, agar semuanya berjalan dengan lancar,''
''Iya, Sayang. Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk mu,'' Bella mengelus punggung sang putri.
Setelah itu mereka berjalan menuju meja makan, mereka akan sarapan pagi bersama.
__ADS_1
Bella juga sudah sangat cantik, Bella akan menemani Tasya ke kantor pengadilan. Selain itu, setelah pulang dari kantor pengadilan nanti, ia akan mengunjungi Butik milik Tasya.
Bella dan Andi merasa begitu bangga kepada Tasya, karena Tasya sudah berhasil membangun Butik yang cukup besar. Tanpa bantuan mereka sedikit pun. Semua murni karena kerja keras Tasya sendiri. Tasya yang sedari kecil selalu mereka manjakan, ternyata juga bisa menjadi wanita mandiri. Sungguh, Andi dan Bella bangga sekali. Karena Tasya tidak pernah menggunakan nama baik orangtuanya untuk mendongkrak usaha nya, dan Tasya juga tidak pernah merepotkan orang tuanya.
Tapi mereka jadi bingung sendiri, harus dikemanakan harta mereka yang sudah menggunung? Hehehe . . . Kasih sama pembaca setia aja Pak Andi.
Kedua orang tua Tasya sudah banyak memberi sumbangan kepada panti asuhan, panti jompo serta anak yatim piatu. Bahkan mereka sudah menjadi donatur tetap diberbagai tempat.
Di tempat berbeda, ternyata keluarga Rama juga akan menghadiri sidang.
Juwita, Dira, Jeni serta Papa nya Rama sudah bersiap-siap. Mereka dari tadi asyik menggunjing keluarga Tasya. Saat ini mereka lagi duduk di ruang tamu, menunggu Rama yang masih bersiap di kamar atas.
__ADS_1
''Hahaha . . . Sok-sokan menggugat cerai, mandul aja belagu! Pasti tidak akan pernah ada pria yang betah hidup sama si mandul itu. Enggak munafik sih, semua pria yang bergelar kan suami pasti ingin memiliki keturunan untuk menjadi pewaris harta nya kelak,'' Dira berucap membicarakan Tasya.
''Iya, ya, Kak. Percuma saja wajah cantiknya itu,'' timpal Juwita. Sebenarnya di dalam hati, Juwita tidak yakin kalau Tasya mandul. Tetapi Juwita merasa sangat senang begitu Dira membicarakan tentang pewaris. Karena ia yakin, kelak anaknya lah yang akan menjadi pewaris utama harta kekayaan keluarga Rama. Karena Dira mempunyai anak perempuan. Sedangkan Juwita begitu yakin kalau ia akan melahirkan anak laki-laki.
''Duh . . . Menyedihkan sekali, emang kaya raya sih, tapi mau di wariskan kepada siapa tuh harta orang tuanya yang banyak, Si Tasya aja tidak bisa punya anak. Makanya jadi orang jangan tamak!'' kali ini Jeni yang bersuara, dan sang suami tersenyum mendengar itu.
Hubungan mereka menjadi tidak baik karena dulu Papa nya Rama pernah dikalahkan oleh Papa Tasya dalam urusan bisnis, hingga perusahaan Papa nya Rama hampir saja bangkrut. Dan sejak itu keluarga Rama sangat membenci keluarga Tasya, hingga kini mereka masih menyimpan dendam.
Tidak lama setelah itu Rama datang, lalu mereka segera berangkat ke kantor pengadilan agama.
Setelah sampai di tempat tujuan, mereka langsung saja berjalan memasuki ruang sidang, dan ternyata Tasya datang lebih awal. Tasya dan keluarga nya sudah duduk di tempat yang telah di sediakan. Melihat kehadiran Tasya, lagi-lagi Rama merasa teramat rindu. Rasanya ingin sekali Rama memeluk tubuh Tasya, apalagi Tasya terlihat sangat cantik. Dan rasa cemburunya masih saja ada melihat Sean dan Jonas juga ikut hadir. Rama merasa begitu sulit untuk menghapus rasa cintanya terhadap Tasya, padahal ia sudah berusaha sangat keras untuk melupakan sosok Tasya.
__ADS_1
Bersambung.