
Ke-esokan harinya di butik Kesya.
tok... tok...
"masuk" sahut Kesya.
"Assalamualaikum, halo sayang" kata Wina sambil membuka pintu dan masuk.
"wa'alaikumsalam bunda " kata Kesya sambil berdiri menyambut kedatangan Wina.
"bunda kok enggak bilang kalau datang sepagi ini ?, harusnya tadi Kesya jemput bunda" kata Kesya tidak enak.
"sstt... kamu tidak usah merasa bersalah, kan ini kemauan bunda. sebaiknya kamu perlihatkan desain baju penganting kalian pada bunda" kata Wina tidak sabar.
Kesya pun mengambil lembar kertas di atas meja, yang berisikan baju pengntin laki-laki.
" ini mah, tapi desainnya belum selesai" kata Kesya sambil menyerahkan kertas tersebut.
"terus desain baju kamu mana ?"
"baju Kesya sudah jadi. Kesya sudah membuatnya jauh-jauh hari" kata Kesya menjelaskan sambil menuju ruangan yang ada di rungannya.
"ini mah, silahkan di lihat" kata Kesya menunjuk baju pengantingnya yang ada didalam ruangan tersebut.
Wina yang melihat baju tersebut, sangat takjub, baju itu sangat bagus dan kelihatan sederhana, tapi sangat berkualitas terbukti dari kainnya dan modelnya yang sangat elegan.
"wow... ini sangat indah" kata Wina masih takjub.
"Kesya, bunda yakin Dean akan sangat terpesona saat kamu memakai gaun ini" kata Wina masih kagum.
pipi Kesya memerah saat mendengar penuturan calon mertuanya itu.
setelah melihat desain baju pengantin mereka, Wina mengajak Kesya jalan-jalan ke mall dan Kesya setuju.
"Kesya gimana kalau kita, belanja tas? " usul Wina saat mereka berkeliling di mall.
"baiklah," kata Kesya menyetujui.
mereka segera menuju tokoh yang menjual tas di mall.
saat mereka sedang memilih tas, tiba-tiba Kesya ditabrak seseorang dan tas yang dipegangnya terjatuh.
Kesya memungut tas itu, kemudian mendongakkan kepalanya.
"kalau berdiri jangan di jalan" kata wanita itu ketus sambil berlalu meninggalkan Kesya.
Kesya merasa pernah melihat orang itu, tapi di mana?
Kesya heran, perasaan dirinya tidak berdiri di jalan. ya sudah lah, Kesya malas memikirkan itu.
__ADS_1
setelah mengambil tas itu dan menuju ke Wina yang sedang berdiri memilih tas juga.
"bun, Kesya udah dapat tas" kata Kesya sambil menunjukkan tas yang akan di belinya.
"wah kamu pinter banget pilih tas, ini saat bagus" kata Wina sambil memperhatikan tas itu.
Wina mungkin lupa kalau Kesya ini seorang desainer, jadi lebih tahu barang yang bagus.
"bunda mau ambil yang mana? " tanya Kesya melihat Wina sedang memegang dua tas.
"bunda tidak tahu mau ambil yang mana? keduanya sangat bunda sukai" kata Wina sambil menimbang-nimbang tas itu.
"em... kalau menurut Kesya kayaknya yang sebelah kanan lebih bagus deh bun" usul Kesya.
"wah bunda juga tadi berfikir begitu, jadi bunda akan ambil yang ini saja" kata Wina menyimpan tas yang di pegang sebelah kiri dan menbawa tas sebelah kanan menuju kasir, diikuti Kesya untuk membayar belanjaan mereka.
sesampainya di kasir, Kesya hendak membayarkan belanjaan mereka, tapi Wina segera menepis tangan Kesya yang menyodorkan kartu kreditnya, Wina pun segera menyodorkan kartu kreditnya ke kasir itu.
"bunda biar Kesya aja yang bayar" kata Kesya tidak enak sambil menahan tangan Wina.
"sudah biar bunda saja, sesekali balanjaain calon mantu" kata Wina.
Kesya mengalah. ia mengedarkan pandangannya kedalam mall, tiba-tiba ia melihat seorang pria yang sangat di dikenalnya bersama seorang wanita yang menabraknya tadi.
"sayang ayok kita mau kemana lagi? " tanya Wina, Kesya pun mengalihkan. pandangannya melihat Wina.
"terserah mama saja" kata Kesya sambil tersenyum agar Wina tidak curiga.
Kesya setuju dan mereka pun keluar mall untuk menuju rumah Wina.
tapi saat di perjalan, Wina seperti melihat Dean bersama seorang wanita, tapi ia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Wina hendak mengikutinya, namun Kesya segera mencegahnya.
"Bunda kita beli baju itu yuk."
Wina menggangguk dan menuju baju yang di tunjuk oleh Kesya.
setelah membeli baju, mereka menuju ke rumah Wina.
sesampaimya di rumah mereka langsung menuju dapur untuk memasak bersama.
tak lama kemudian Dean datang, dia kaget saat melihat Kesya yang berada di rumahnya. tapi dia mencoba untuk mengabaikannnya dan berlalu menuju kamarnya.
sementara itu, Kesya dan Wina sedang memasak, sesekali tertawa saat mendengar cerita Wina tentang Dean yang masih kecil.
"wah tante enggak nyangka kamu bisa masak" kata Wina kagum pada Kesya yang ternyata bisa masak walaupun ia berasal dari keluarga berada.
"yasudah sana kamu panggil Dean makan" suruh Wina.
"kamarnya di lantai atas tepat sebelah kanan tangga" lanjut Wina saat mslihat Kesya kebingunan.
__ADS_1
Kesya sebenarnya tidak enak, tapi Wina tidak mau menerima alasannya, sehingga ia terpaksa menurut.
tok... tok...
Kesya mengetuk pintu kamar Dean.
tak lama kemudian, terlihat Dean sedang membuka pintu.
"ada apa? " tanyanya dingin.
"ehm... anu, bunda suruh aku panggil kamu makan" kata Kesya canggung.
Dean pun tanpa berkata-kata turun tangga menuju meja makan.
"ayah mana bun?" tanya Dean saat tidak melihat Ayahnya.
"Assalamualaikum, ayah datang" sahut Haris sambil memasuki rumah.
"itu ayah udah datang" kata Wina berlalu untuk menyambut suaminya.
"halo Kesya" sapa Haris saat melihat Kesya.
Kesya pun segera menyalami tangan Haris.
" pah ini masakan buatan Keaya loh" kata Keaya memberitahu kepada Haris.
"oh ya " kata Haria senang.
Wina menyajikan makanan untuk suaminya dan mereka mulai makan.
"wah masakan kamu enak banget" puji Haris memakan makanan buatan Kesya dengan lahap.
"lumayan juga" kata Dean dalam hati.
setelah makan malam, Kesya hendak pamit untuk pulang, karena sudah lumayan malam.
"Bunda Kesya pamit dulu ya" kata Kesya memberitahu Wina.
"kamu nginep malam ini ya" bujuk Wina.
Kesya jadi tidak enak.
"em Kesya besok harus ke butik pagi-pagi bun" tolak halus.
Wina mendesah kecewa mendengar ucapan Kesya.
"ya udah deh, tapi Dean harus anterin kamu ya" kata Wina sambil beranjak menuju kamar anaknya.
"Dean anterin Kesya pulang sana!" kata Wina saat melihat Dean.
__ADS_1
" bun suruh supir aja" kata Dean malas.
"bunda nggak nerima penolakan" kata Wina memaksa tapi Dean masih bergeming di tempatnya, sehingga membuat Wina sedih.