AKANKAH SEMUA BERAKHIR BAHAGIA?

AKANKAH SEMUA BERAKHIR BAHAGIA?
chapter 6


__ADS_3

Happy Reading guyss.


jangan lupa like dan vote ya.


kasih saran juga hehe.😂


***


"Dean kamu sudah pulang sayang, tumben banget cepat pulang" kata Wina melihat Dean memasuki rumah, pasalnya Dean sangat jarang pulang cepat kerumah.


"hari Dean enggak bangak kerjaan di kantor jadi pulang cepat aja" kata Dean.


" ah Bunda tahu, kamu pasti latihan jadi suami yang baikkan supaya nanti kalau sudah nikah kamu sudah terbiasa, iyakan? " kata Wina menggoda Dean.


"apaan sih Bun, lagian siapa juga yang mau jadi suami" kata Dean malu.


"hahaha ciee jadi malu gitu, kamu harus tahu habis nikah itu enak, ada yang temenin, ada yang.. " kata Wina lanjut menggoda Dean namun segera di potong oleh Dean.


" bunda jangan mulai lagi deh, Dean mau istirahat" kata Dean sambil berlalu ke kamarnya.


Wina yang melihat Dean malu hanya terkekeh, ia jadi tidak sabar melihat Dean menikah dengan Kesya.


"kayaknya aku harus usulin sama papa agar mempercepat pernikahan mereka deh" gumam Wina tak sabar.


Wina pun menelpon Haris.


"Assalamualaikum yah, hari ini bisa pulang cepat enggak?" kata Wina.


"memangnya ada apa? bunda merindukan ayah yah" kata Haris menggoda istrinya itu.


"iih yah, bunda serius. bunda mau membahas pernikahan Dean, bisa enggak" kata Winda sebel karena Haris membuatnya malu.


"iya ayah bisa kok apa sih yang enggak buat bunda, tungguin ayah ya sayang" kata Haris masih menggoda Wina.

__ADS_1


Wina yang di goda pun langsung memutuskan sambungan telpon dengan wajah memerah karena malu.


"kayaknya ada yang lagi malu-malu nih , enggak ingat umur aja" kata Dean menggoda bundanya.


tadi setelah Dean sampai kamarnya ia keluar untuk mengambil air minum dan tak sengaja mendengar ayahnya menggoda bundanya di telpon.


"ye.. kamu iri aja sama bunda. pasti kamu juga tidak sabar pengen cepat menikah kan" kata mengejek Dean balik.


Dean yang mendengarnya pun hanya berlalu meninggalkan Wina yang selalu membahas masalah pernikahannya.


beberapa menit kemudian Haris sampai di rumah.


"Assalamualaikum...Ayah pulang" kata Haris semangat.


"iih ayah kayak remaja yang lagi kasmaran aja deh" kata Wina menyambut Haris.


"jawab salam dulu dong sayang" kata Haris tersenyum menggoda kearah Wina.


"waalaikumsalam sayang" kata Wina balik menggoda Haris dan melirik Dean yang sedang duduk tak jauh dari mereka.


Wina pun memeluk suaminya, ia bermaksud membuat Dean iri.


" ya sudah kita makan yuk" kata Wina menggandeng lengan Haris menuju mejah makan dan dengan senang hati dituruti oleh Haris. Wina juga tak lupa mengajak Dean makan siang.


mereka bertiga mulai makan siang dan Wina tidak hentinya memanjakan Haris untuk membuat Dean iri dan mau menikah secepatnya, hal itu di terima dengan senang hati oleh Haris.


"ayah sini bunda suapin" kata Wina mengambil sendok Di piring dan mulai menyuapi Haris dan sesekali Haris yang menyuapi Wina.


Dean yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala seolah tidak peduli sebenarnya dia tahu kalau orang tuanya itu sedang memanas-manasinya dan hal itu berhasil


membuat Dean iri tapi apakah nanti pernikahannya akan seharmonis pernikahan orang tuanya atau malah sebaliknya, maka dari itu Dean tidak ingin buru-buru menikah ia ingin memantapkan pilihannya baru ia akan menikah setelah yakin.


setelah makan siang mereka pun mengobrol di ruang keluarga.

__ADS_1


"Dean besok kita akan ke rumah calon istrimu jadi kamu tidak usah masuk kantor besok, dan sepertinya pernikahan kamu akan kami percepat, rasanya terlalu lama jika harus menunggu bulan depan" kata Haris membuka obrolan dan Wina sedang mendengar hal itu karena suaminya menerina usulannya untuk mempercepat pernikahan Dean.


"yah, apa enggak sebaiknya kami saling mengenal terlebih dahulu?" kata Dean mencoba menawar keinginan Haris.


"kalian bisa saling nengenal mulai besok, tapi pernikahan kalian akan tetap kami percepat. lagi pula kamu tidak perlu ragu bunda sama ayah yakin kalau pilihan kami sudah tepat" kata Wina menyakinkan.


Dean memilih menyetujuinya saja. toh percuma saja menolak ujung-ujungnya ia yang harus mengalah.


"Dean ayah tahu kalau kamu ragu, tapi kamu harus percaya pada kami kalau kami akan memberikan yang terbaik untuk kamu" tambah Haris.


"ayah tahu kalau kamu sering gonta-ganti pasangan dan kamu harus menghilangkan kebiasaan itu saat menikah nanti, jangan sampai kamu menyakitinya karena dia adalah perempuan yang sangat rapuh walaupun dia terlihat tegar" kata Haris memberitahu Dean.


Keesokan harinya.


"Kesya salim dulu sama mereka" suruh Aris dan Kesya segera menyalimi tangan Wina dan Haris serta Dean.


"karena Kesya sudah datang bagaimana kalau kita memulai saja lamarannya" kata Haris.


Aris yang mendengar kata lamaran pun kaget. karena Haris lalu mengatakan kalau mereka hanya akan berbicara dulu belum lamaran.


"Haris bukankah sebaiknya kita menanyakan mereka dulu apakah mereka siap atau tidak?" tolak Aris halus.


"ah iya, tapi saat melihat mereka yang seperti ini sebaiknya kita segera melakukan pernikahan, apa lagi Dean yang kelihatannya sudah tidak sabar begitu."


Dean yang mendengar hal itu pun segera protes.


"ayah, De... " kata Dean terpotong.


"iya ayah tahu kok, kalau lihat sendirikan Aris Dean saja setuju, jadi sebaiknya kita melakukan lamaran saja. lebih cepat lebih baik" kata Haris memotong ucapan Dean.


sedangkan Aris hanya tersenyum tidak enak kepada Kesya dan Kesya hanya senyum seolah-olah mengatakan kalau dia baik-baik saja.


" kalau untuk itu aku serahkan pada Kesya" kata Aris dan Kesya pun mengangguk.

__ADS_1


Haris pun memulai acara lamarannya.


"Kesya apakah kamu mau menerima Dean sebagai suamimu? " tanya Haris.


__ADS_2