
"ah itu artinya aku makin ganteng, buktinya kamu tidak mengenaliku saat itu" kata Feno bangga.
Kesya hanya memutar bola matanya malas mendengar Feno yang terlalu percaya diri.
"oh kamu ada perlu apa sampai meminta aku datang ke sini?" tanya Kesya.
"cuma mau ketemu sahabat aku" kata Dean.
"apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Dean dengan serius.
"kok kamu nanya gitu sih?"
"aku cuma pastiin kamu bahagia atau tidak sama Dean"
" aku bahagia" kata Kesya singkat sambil tersenyum meyakinkan Feno.
tidak mungkinkan dia mengatakan pada orang kalau pernikahan mereka tidak bahagia.
"syukurlah, aku turut senang mendengarnya" kata Feno, tapi sebenarnya dia tahu kalau Kesya tidak bahagia, di tambah lagi kemarin ia meligat Dean jalan dengan seorang wanita.
mereka ngobrol dengan santai dan bernostalgia tentang masa kecil mereka. tanpa di sadari Kesya dan Feno, sedari tadi seseorang terus memperhatikannya dengan tajam dan menahan emosi.
__ADS_1
orang itu pun berlalu, karena muak melihat dua orang yanh sedang tertawa bahagia itu.
"eh, udah malam ni. aku pulang dulu ya, takutnya Dean udah pulang ke rumah" kata Kesya sambil beranjak meninggalkan Feno.
Feno tersenyum masam melihat Kesya pergi, kenapa Kesya harus bertahan dengan orang seperti Dean? buat apa Kesya harus peduli lagi dengan pria brengsek itu, sedangkan dirinya disini selalu menunggu Kesya dan berjanji akan membahagiakan Kesya.
Di tempat lain, Dean sedang duduk di ruang tamu untuk menunggu Kesya pulang. sedari tadi iya menahan emosinya. yah orang yang melihat Kesya dan Feno tadi di Cafe adalah Dean, ia tidak tahu kalau ternyata Kesya dan Feno saling mengenal terlebih lagi mereka mungkin menjalin hubungan di belakang Dean. Dean tak habis fikir bagimana bisa Sean dan Feno mengenal Kesya, sebenarnya apa yang tidak di ketahui Dean tentang mereka.
drettt...
terdengar suara pintu yang di buka.
Dean segera mendongakkan kepalanya dan dia melihat Kesya yang sedang masuk dan menghamirinya untuk mencium tangannya.
Kesya pun memilih untuk pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. ia akan berbicara dengan Dean nanti.
Setelah beberapa menit membersihkan diri, Kesya berniat untuk menemui Dean di kamarnya.
tok...tok...
lama Kesya mengetuk pintu kamar Dean, namun tidak ada jawaban, Kesya berinisiatif sendiri untuk membuka pintu kamar Dean.
__ADS_1
Krekk...
Kesya membuka pintu kamar Dean dengan hati-hati, Kesya melihat Dean yang sedang tidur di ranjangnya. Kesya pun memutuskan untuk bicara besok , karena takut mengganggu Dean yang sedang istirahat. namun saat akan menutup pintu kamar, Keaya mendengar Dean mengingau memanggil namanya.
Kesya mendekati Dean dengan perlahan, jantung Kesya berdebar saat sudah berada di depan Dean,
"Kesya..." igau Dean.
Kesya mengerutkan keningnya saat melihat wajah Dean yang memerah sambil mengeluarkan keringat, padahal kamar ini tidak panas sama sekali.
Kesya pun menempelkan telapak tangannya di jidat Dean.
"astaga panas sekali" pekik Kesya sambil menarik tangannya, pekikan itu membuat Sean yang tidur jadi terbangun.
"kamu ngapain?" tanya Dean dengan serak,
"ma...maaf ya aku nggak segaja bangunin kamu, badan kamu panas banget" kata Dean dengan gugup, karena takut Dean akan marah dengannya, tapi Kesya sangat khawatir dengan Dean, hal itu tak luput dari pengamatan Dean.
Dean hanya diam saja, karena saat ini perasaannya sangat tidak enak.
"apa kamu sudah makan?" tanya Kesya.
__ADS_1
Dean hanya menggeleng sambil memandangi Kesya.