
Wina pun memandang Kesya penuh harap sedangkan Dean berdoa dalam hatinya semoga Kesya menolaknya.
"katakan tidak please" kata Dean dalam hati.
"kalau ini yang terbaik buat Kesya, insyaallah Kesya bersedia" kata Kesya menatap semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Alhamdulillah" kata mereka semua kecuali Dean.
Haris dan Wina pun bernafas lega mendengar jawaban Kesya berbeda dengan Dean yang tidak lega mendengarnya.
"karena Kesya sudah setuju, pernikan kalian akan di laksanakan minggu depan" kata Haris membuat mereka semua kaget selain Wina dan Dean karena mereka sudah membicarakan hal ini sebelumnya.
"apa tidak terlalu kecepatan om?" protes Kesya.
"tidak kok sayang, lebih cepat lebih baik. lagi pula kalian tinggal membawa diri, kami sudah mempersiapkan semuanya" kata Wina menjawab.
"Haris kami akan ikut membantu persiapan juga" kata Aris dan diangguki oleh Haris.
"om. kok dari tadi diam terus" kata Rian mendekati Dean.
Rian memang tipikal anak yang mudah kenal dengan orang lain dan tidak pemalu.
Dean kikuk karena tiba-tiba Rian mendekatinya, Dean tak tahu harus bagaimana dengan Rian pasalnya ia sama sekali tidak akrab dengan anak kecil.
dan apa tadi katanya dia memanggilnya om, apakah dia setua itu padahal umurnya baru 24 tahun.
"om. kok nikahin kak Kesya sih, om jahat pisahin Rian sama kak Kesya, huaaaaaa" kata Rian menangis kencang dan Dean jadi panik.
Mira segera menenangkan Rian sambil menggendongnya.
"hust... sudah kak Kesya enggak ninggalin Rian kok" kata Mira menenangkan.
"huaaa hiks...hiks... beneran? " kata Rian sesenggukan karena menangis.
"wah sepertinya Kesya sangat dekat dengan Rian" kata Wina.
__ADS_1
"iya mereka memang sangat dekat, padahal saat itu Keaya kuliah di luar negeri, tapi entah kenapa Rian sangat lengket dengannya" kata Aris menjekaskan.
"sepertinya Kesya sangat cocok jadi ibu, wah jadi enggak sabar nimang cucu" kata Haris membuat mereka semua tertawa kecuali Kesya yang malu sedangkan Dean hanya cuek saja.
mereka melanjutkan obrolan sambil bercanda dan sesekali menggoda Kesya dan Dean sampai larut malam.
"enggak terasa sudah jam 10.05, sebaiknya kami pamit dulu, inu sudah tengah malam" kata Haris melihat Rolexnya dan berpamitan pulang.
mereka pun berdiri dan menuju keluar rumah untuk pulang. Aris, Mira dan Kesya mengantar sampai depan.
"Kesya kamu datang ya sekali-kali main kerumah" kata Wina.
"iya tante" balas Kesya sambil tersenyum sopan.
mereka masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan halaman rumah Kesya.
Kesya memilih untuk ke kamarnya dan istirahat.
"semoga keputusan yang aku ambil adalah keputusan yng terbaik. mah pah aku berharap kalian di sana bahagia melihat aku, aku mencintai kalian" kata Kesya dalam hati.
Kesya pun memejamkan matanya untuk beralih ke alam mimpi.
Kesya sedang bersiap-siap untuk pergi ke butiknya.
"Kesya hari ini kamu ke butik ?" tanya Mira yang sedang menuruni tangga dengan pakaian yang rapi, sepertinya ia mau keluar.
"iya tante."
"kalau bisa nanti kamu jangan kemalaman pulang ya kasian Rian sendiri nantinya. soalnya tante ada arisan dan akan pulang agak larut" kata Mira dan hanya di angguki oleh Kesya.
tantenya selalu saja mementingkan urusan sosialitanya itu ketimbang keluargnya, tahukah dia kalau Rian sangat masih sangat membutuhkan perhatian Mira.
Kesya sampai di butik dan bergegas menuju ruangannya, dia akan membuat desain baju pengantingnya sendiri. kemarin ia memberitahukan pada Wina kalau dia sendiri yang akan membuat bajunya dan Dean. Wina sangat setuju akan hal itu.
Kesya mulai menggambar pola bajunya sendiri sambil menunggu Dean datang. ya hari ini ia meminta pada Wina untuk menyuruh Dean datang karena ia akan mengukur badan Dean agar bajunya nanti sesuai.
__ADS_1
tok... tok...
"masuk saja" sahut Kesya.
" mbak, tuan Dean sudah datang" kata Fira setelah membuka pintu.
"kamu persilahkan dia masuk" kata Kesya dan di angguki oleh Fira.
tak lama kemudian Dean pun masuk ke ruangan Kesya.
Kesya pov.
tak lama setelah Fira keluar dia pun masuk Keruanganku. ia menggunakan setelan kantornya mungkin dia orang kantoran, terus terang saja aku tidak tahu apa-apa tentang dia kecuali namanya.
"silahkan duduk" kata ku senormal mungkin karena saat ini aku sangat gugup.
kulihat dia duduk di Sofa khusus untuk tamu.
"ada apa memanggilku kemari ?" tanyanya dengan nada cuek.
apakah tante Wina tidak memberitahunya kalau aku akan mengukur badannya.
"apakah tante tidak memberitahumu ?" tanyaku dan dia hanya menggeleng.
"aku akan mengukur badanmu untuk membuat baju" kataku.
"ya sudah lakukan cepat, aku punya banyak pekerjaan di kantor" katanya masih dingin.
Kesya tertegun mendengar kata Dingin Dean, ia berfikir bagaimana nanti hidupnya dengan Dean?
tapi Kesya mensugesti dirinya, mungkin Dean begini karena mereka belum kenal, bahkan baru kenarin mereka bertemu.
Kesya pun mengambil alat untuk mengukur badan Dean.
Kesya mengukur badan Dean, sedangkan Dean merasa deg-degan, karena jarak mereka terlalu dekat, hal itu tidak di sadari Kesya. ia fokus mengukur badan Dean dan mencatat hasil ukurannya.
__ADS_1
Kesya merasa Kalau Dean memperhatikannya, ia pun mendongakkan kepalanya dan pandangan mereka bertemu beberapa menit, Kesya jadi Deg-dengan, karena Dean memandanginya dengan begitu intens. ia pun memalingkan wajahnya sambil berdehem menetralkan rasa gugupnya, sedangkan Dean hanya cuek saja.
"apakah kamu sudah selesai?" kata Dean seolah-olah tidak terjadi apa-apa.