
"hust... udah, nanti kak Kesya akan tengokin Rian kok" kata Kesya sambil melap air mata Rian.
itu semua tidak luput dari pendangan Dean, ia merasa haru saat melihat Rian kecil begitu dekat dengan Kesya. tanpa ia sadari ia menarik ujung bibirnya.
"Rian memang selalu menangis saat Kesya akan pergi, dulu bahkan ia tidak mau makan saat Kesya akan pergi ke Inggris, sampai Kesya meneleponnya" kata Aris memberitahu Dean, Dean hanya diam mendengarkan.
saat Rian tenang, kesya dan Dean pun pamit.
setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit. Dean memasuki pekarangan rumah yang cukup luas.
Kesya memperhatikan rumah minimalis yang ada di depannya dari dalam mobil, rumah itu terlihat sangat indah dan mewah dengan warna cat kuning emas ditambah lagi dengan halaman cukup luas, namun halaman itu terlihat tidak terawat. dapat di lihat dari banyaknya rumput liar yang tumbuh.
Dean memutup pintu mobil dengan sedikit membantingnya saat melihat Kesya tidak kunjung turun juga.
Kesya pun masuk nengikuti Dean ke dalam rumah, bahkan sampai kamar, karena Dean menuju kekamar.
"Kamu ngapain ikut aku terus sih" kata Dean kesal, karena Kesya terus mengikutinya.
"terus aku harua gimana?" tanya Kesya bingung.
Dean pun segera menarik Kesya keluar kamar dan menunjuk pintu di sebelah kamarnya.
" kamar kamu disitu"
__ADS_1
" emang kita enggak sekamar?" Tanya Kesya bingung.
"kamu pikir aku sudih sekamar sama jalang seperti kamu" kata Dean menyakiti hati Kesya.
"AKU BUKAN JALANG" kata Kesya marah dengan mata yang berkaca-kaca.
Dean yang mendengarnya pun hanya tersenyum miring.
"terserah kamu mau ngomong apa, tapi bagi aku kamu adalah seorang jalang yang akan aku buang ketika bosan nantinya" kata Dean sambil berlalu masuk ke kamarnya.
Kesya sangat sakit hati mendengar kata Dean, ternyata Dean hanya menganggap dirinya sebagia seorang jalang.
Kesya masuk ke kamarnya dan menangis terisak, karena perkataan Dean. ia tifak menyangka ternyata ia salah mengambik keputusan, ia harus bagaimana sekarang?
berbeda dengan Dean, ia merasa sedikit bersalah mengatakan kata itu pada Kesya. tapi bukankah perkataannya benar? terus kenapa ia harus merasa bersalah? tidak ingin terlalu memikirkannya, Dean memilih untuk mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk, karena cuti menikah.
tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.30, Kesya bangun dengan mata bengkak, karena menangis tadi.
Kesya merasa haus dan lapar, ia pun keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air minum.
saat membuka kulkas ia tidak melihat apapun yang bisa di makan. ia pun menuangkan air di gelasnya, kemudian minum.
Kesya ke kamarnya untuk bersih-bersih dan akan ke supermarket untuk belanja.
__ADS_1
beberapa menit kemudian, Dean masih fokus dengan kerjaannya, sampai ia merasa haus, ia pun turun untuk mengambil air minum.
Saat membuka kulkas, ia melihat banyak bahan makanan, seperti Kesya belanja tadi. saat akan naik ke kamarnya, ia mencium aroma makanan dari meja makan. saat melihat ke meja makan, ternyata di situ tersedia ayam kecap dengan sayur bening juga capcai dan kerupuk, disana Dean melihat note yang di tulis Kesya.
*aku sudah masak, jika kamu lapar makanlah.
Kesya*
Dean merasa tidak enak dengan Kesya, apalagi tadi ia berkata kasar padanya, namun Kesya masih tetap memperhatikannya. Dean pun duduk di kursi dan makan masakan buatan Kesya.
Kesya yang melihat Dean memakan makanannya pun senang, setidaknya Dean mau makan makanannya.
Kesya sudah bertekad akan membuktikan kalau dirinya bukan jalang, seperti yang dikatakan Dean tadi pagi kepadanya.
Saat selesai makan, Dean pun menuju kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya. sedangkan Kesya membereskan bekas makan Dean saat Dean sudah pergi.
Setela membereskan meja makan, Kesya memilih untuk menonton.
Drett...drett...
Kesya merasakan getaran dari ponselnya dan melihat tenyata Wina menghubunginya.
"Assalamualaikum bunda" salam Kesya saat menjawab telepon dari Wina.
__ADS_1
"waalaikumsalam sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Wina.