Aku, Kamu Dan Cinta

Aku, Kamu Dan Cinta
part 16


__ADS_3

Rachel mendapat banyak jahitan di telapak tangan kirinya. Dia bahkan tidak menangis sama sekali. Hanya saja wajahnya sangat pucat dan tubuhnya lemas.


"apa gak sakit? "


"dikit... "


"apanya yang dikit? Darahnya banyak keluar"


Juna melihat baju mereka yang berlumuran darah.


"baju kamu sobek"


Rachel terkekeh pelan.


"masih bisa ketawa? Kayaknya otak kamu udah gak sehat Hel... "


"dulu aku udah sering nangis. Jadi udah capek aja nangis"


Bagas dan Alex masuk ke ruang rawat dengan wajah panik.


"Rachel... Tanganmu"


Alex melihat tangan Rachel yang terperban.


"cuma luka kecil pa. Gak sampe putus kok"


Bagas dan Alex melebarkan matanya kaget.


"udah aku bilang om, kayaknya Rachel perlu di cek otaknya"


"emang aku gila? "


Semua tertawa pelan.


"Febry pa... "


"papa tau, Juna sudah cerita tadi. Papa bakal pastiin dia dihukum berat"


"maaf om, gara-gara aku Rachel jadi gini"


Alex tersenyum dan mengusap kepala Juna.


"bukan salahmu. Febry juga pasti nyerang kamu karena kesal sama kami. Kami yang harusnya minta maaf sama kamu sampai terlibat masalah seperti ini"


"tuh kan bener kataku tadi. Tadi juga Rachel bilang gitu pa"


"iya... Iya... Salahku... "


Alex tertawa pelan.

__ADS_1


"kalian pacaran apa musuhan sih? "


"pacaran... !"


###


Adrian berlari menuju lantai 2 kamar Rachel disusul oleh Edo.


Di depan kamar Rachel sudah ada Bagas yang tengah duduk sambil bermain ponselnya.


"kak Bagas... "


"Adrian? Kok lo disini? "


"kepala sekolah ngirim kita kesini" jelas Edo.


"Rachel gimana? " tanya Adrian khawatir.


"dia baik-baik aja, cuman masih lemes soalnya lumanyan kehabisan darah gara-gara lukanya."


Badan Adrian langsung terasa lemas membayangkannya.


"dimana dia sekarang? "


"didalem lagi istirahat "


"Febry bener-bener gak ada otak"


"gitu-gitu juga dia mantan lo bray"


"gue boleh liat kedalem? "


Bagas melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 11 siang.


"tapi jangan lama-lama. Ntar pacarnya dateng bisa panjang urusannya"


"iya. Thanks kak "


Adrian membuka pintu kamar Rachel perlahan dan terlihat Rachel yang tengah menonton youtube di laptopnya.


Matanya beralih pada boneka besar yang ada di sudut kamarnya.


"perasaan warna boneka yang waktu ini aku beliin bukan yang itu" gumamnya heran.


"Rachel? "


Rachel menoleh lalu membuka earphone nya.


"pak Adrian. Sama siapa pak? "

__ADS_1


"sama pak Edo"


Adrian melihat tangan Rachel yang diperban.


"kok bisa? "


Rachel mengangkat tangannya itu sambil tersenyum.


"anggep aja pengorbanan"


Adrian meremas spray kasur Rachel menahan kesal.


"kamu tau itu bahaya kan? "


"ini cuma luka kecil pak. Kalau aku diem terus pisaunya sampe kena Juna, mungkin aku bakal nyesel seumur hidupku"


Adrian merasa kagum sekaligus cemburu.


"kamu udah makan? "


Rachel menggeleng pelan.


"belum laper"


"tapi ini udah siang. Mau makan apa? Biar aku orderin"


"aku? "


Rachel mengerutkan alisnya.


"gak usah terlalu formal, ini bukan disekolah"


"nanti aja pak nunggu Juna pulang"


"kenapa nunggu dia? "


"masakan dia enak"


"tapi keburu kesiangan Hel"


"gapapa pak... Lagian aku tadi makan sekitar jam 9. Masih kenyang"


"mau aku kupasin buah? "


"gak pak makasi. Tadi kak Bagas udah bikinin aku jus buah"


Adrian sudah habis akal. Rencananya supaya bisa menyuapi Rachel makan setidaknya. Tapi Rachel seakan tetap kekeh menutup segala jalannya.


Rachel yang melihat raut wajah menyerah pada Adrian, Rachel hanya bisa menahan tawanya.

__ADS_1


"maaf pak, tapi harus ada hati yang harus di prioritaskan"


###


__ADS_2