
Jam menunjukkan pukul 8 malam,Bagas dan Alex pun baru saja pulang dari kantornya dan masuk kedalam apartemennya.
"Kok gelap Gas?"
"Bik?"
Bagas mencoba memanggil pelayannya namun tidak ada jawaban membuat Bagas dan Alex waspada.
"Pa,hati-hati takutnya ada orang jahat lagi" ucap Bagas seraya mencoba mengarahkan Alex supaya berdiri di belakangnya.
Bagas melepaskan ikat pinggangnya untuk dia jadikan senjata jikalau ada orang asing didalam apartemen mereka.
Perlahan mereka maju ke arah saklar lampu terdekat dan saat dinyalakan...
"Kejutan....!!!"
Rachel melompat senang sambil ditemani Juna dkk nya.
Alex yang senang melihat kehadiran Rachel di sana langsung saja memeluk putrinya tersebut.
"Rara...kamu udah sembuh sayang?"
Rachel mengangguk pelan.
"Rachel udah inget kok pa"
Bagas mengusap Rambut adiknya tersebut.
Rachel melepas pelukan papanya dan memeluk Bagas.
"Kakak seneng kamu udah sembuh"
"Aku minta maaf kalau aku sempet nyusahin kalian"
Bagas melepas pelukannya lalu menangkap wajah adiknya tersebut.
"Kakak yang minta maaf. Seandainya kakak bisa ngelawan mereka, kamu gak mungkin kejebak sama pancingan mereka"
"Harusnya papa sama Bagas bisa jagain kamu. Tapi malah kita yang bikin kamu di dalam masalah"
"Gak kok pa. Juna udah cerita semuanya. Itu semua karena Jasmine yang cerita tentang aku sama Juna ke Johnny. Makanya psikopat itu bikin ulah"
"Tapi kasian Jasmine,harus meninggal karena dipaksa minum banyak obat tidur sama Johnny"
"Tapi pa, Jasmine itu kan adiknya Johnny. Kok Johnny malah suka sama Jasmine?"
"mereka saudara tiri Hel. Jasmine anak angkat di keluarganya Johnny"
"Oh...gitu... Kasian Jasmine. Oh iya pa,Minggu ini aku mau ke makam mama. Udah lama aku gak kesana"
Alex tersenyum pelan.
__ADS_1
"Iya,papa sama Bagas juga bakal temenin kamu kesana"
"Jun,kamu ikut?" Tanya Bagas.
"Harus..."
###
"Jun..."
"Hmmm?"
Rachel mengeratkan pelukannya pada Juna sedangkan Juna masih setia mengelus rambut Rachel dengan mata yang sudah terpejam.
"Selama aku lupa sama kamu,kamu pernah gak sih kesel sendiri sama aku?"
"Bohong kalau aku gak kesel. Tapi aku sadar kamu bisa sampai kaya gitu karena aku"
Juna melepaskan pelukannya lalu menangkap wajah Rachel supaya menatapnya.
"Berhenti nyelametin nyawa aku Hel. Kamu tau gimana menderitanya aku setiap liat kamu berkorban buat aku? Apalagi waktu kemarin di rumah sakit,waktu suster bilang kamu berhenti bernafas. Rasanya aku pengen banget bunuh diri hari itu juga"
Juna meneteskan air matanya.
"Jangan nangis..."
Rachel mengusap air mata Juna.
Juna menangis terisak meluapkan segala kesedihannya.
Rachel yang mendengar ucapan Juna pun ikut menangis.
"Maaf...maaf kalau aku bikin kamu khawatir. Cuma aku mikir kamu selalu ada dalam bahaya karena aku. Aku bakal lebih ngerasa bersalah kalau sesuatu terjadi sama kamu"
Juna mendekatkan wajahnya pada Rachel lalu mencium bibir Rachel. Ciuman tersebut berubah menjadi ******* pelan menumpahkan rasa rindunya pada Rachel.
Setelah beberapa saat,Juna melepaskan ciumannya dan mengecup kening Rachel.
"Kamu berharga banget buat aku Hel. Aku punya mimpi panjang yang pengen aku lewatin sama kamu. Jadi jangan pernah tinggalin aku dengan alasan apapun"
####
Rachel dan Juna mengayuh sepedanya menyusuri jalan perbukitan yang masih asri tersebut.
Rachel baru saja pulang dari sekolahnya yang dulu mengajak Juna berkenalan dengan teman-temannya di sana.
Setelah tiba di rumah nenek dan kakek,Rachel dan Juna memarkir sepedanya.
"Pak,nih oleh-oleh"
Rachel memberikan sekotak cemilan untuk security di rumah.
__ADS_1
"Wah,non Rachel masih inget aja. Makasi ya non"
Juna tersenyum bangga melihat sikap Rachel yang selalu peduli pada orang disekitarnya. Rachel mengambil kantong plastik yang menggantung di sepedanya.
"Ayo kita masuk"
Rachel dan Juna pun masuk kedalam rumah.
Di ruang tamu sudah ada kakek,Nenek,papa dan kakaknya yang tengah berbincang.
"Kalian sudah pulang. Sini duduk. Bik,buatkan 2 teh"
"Baik nyonya"
Rachel dan Juna pun ikut bergabung bersama keluarganya.
"Nih kek oleh-oleh"
"Apa ini Hel?"
Kakek membuka plastiknya dan ternyata isinya buah jambu biji.
"Jangan bilang kamu..."
"Gak...Juna sama yang lain tadi yang manjat. Bukan aku"
Nenek menepuk bahu suaminya itu.
"Kamu mau nuduh cucuku hah?"
"Iya mana aku tau. Biasanya kan dia yang nimbrung diatas pohon"
Alex dan Bagas kaget mendengarnya.
"Ra,kamu sering bikin kakek sama nenekmu khawatir?"
"Enggak kok pa, kalau disini anak cewek cowok sama. Sama-sama bisa bikin ulah"
Nenek dan kakek tertawa pelan.
"Gimanapun,Rachel besar di desa Lex. Sikapnya yang berani dan nekat itu karena pengaruh lingkungannya disini"
Alex menggeleng pelan.
"Tapi sekarang dia udah besar. Udah punya pacar pula"
"Nenek..."
Rachel tertunduk malu membuat semua tertawa.
"Mamamu pasti bangga punya anak berani seperti kamu,sayang"
__ADS_1
###