
Juna terus menggenggam tangan Rachel dan tidak berani melepasnya. Matanya sudah sangat bengkak dan wajahnya tampak pucat karena sudah hampir 2 hari Juna mogok makan menanti Rachel hingga tersadar.
"Jun,makan dulu"
Bujuk Lisa.
Juna malah meneteskan air mata lagi.
"Gimana saya bisa makan Bu,liat kondisi Rachel kaya gini?"
Alex menepuk bahu Juna mencoba menenangkannya.
"Jun, kamu harus makan. Kamu denger kan kata dokter kalau Rachel belum tentu kapan akan sadarnya. Kamu harus punya tenaga buat nunggu Rachel"
"Iya Jun. Lo tau kan gitu-gitu Rachel galak anaknya. Kalau dia tau Lo gak makan. Bisa ngomel dia nanti"
Adrian memberikan sebungkus roti pada Juna.
"Saya tau kamu sedih. Kita semua juga disini sedih. Tapi kamu harus tetep semangat dan yakin Rachel bakal sadar secepatnya. Makan ini. Saya gak mau liat Rachel sedih karena kamu yang gak makan"
Adrian memberikan sebungkus roti pada Juna dan Juna pun menerimanya.
Perlahan Juna memaksakan dirinya untuk memakan roti tersebut walaupun terasa sangat sulit.
"Ma..ma..."
Bibir Rachel mulai berucap perlahan membuat semuanya kaget.
Juna tersenyum senang lalu mengusap air matanya.
"Rachel...Rachel buka matamu sayang"
Juna mengelus rambut Rachel dan perlahan Rachel membuka matanya.
Samar-samar Rachel melihat Juna dihadapannya dengan wajah yang pucat namun tersenyum senang.
"Ka..kamu...kamu siapa?"
####
__ADS_1
Semua orang nampak sedih dan kecewa dengan hasil pemeriksaan dokter.
"Tapi dok, itu sementara kan? Adik saya bisa sembuh dan inget lagi kan dok?!"
"Kebanyakan hal seperti ini memang wajar terjadi pada korban yang mengalami benturan kepala cukup keras dan kebanyakan semuanya bisa normal kembali seiring berjalannya waktu"
Juna meremas rambutnya frustasi namun mama dan papanya mencoba menenangkannya.
"Bantu dia mengingat semuanya, itu akan mempercepat proses pemulihannya"
"Baik dok ..terimakasih banyak dok"
"Iya,saya permisi dulu"
Dokter tersebut pergi meninggalkan mereka.
"Jadi sekarang yang Rachel inget cuma nenek,kakek dan Jihan..."
"Dia belum inget kalau dia sama papa dan kakaknya sudah membaik"
Nenek menarik nafas dalam.
"Tenang Alex, kami pasti usahakan Rachel mengingat apa yang sudah dia lupakan"
"Jun,gue bakal usahain Rachel inget lagi sama Lo..."
####
Jihan,kakek dan nenek mengantar Rachel ke kamar kontrakannya. Rachel melihat sekeliling dan dia merasa memang tidak asing dengan tempat tersebut.
"Cantik..."
"Kan Lo yang nata, ya jelas lah menurut Lo cantik"
Rachel tersenyum simpul.
"Rachel,kakek sama nenek akan kembali ke rumah. Kamu disini ditemenin Jihan,gapapa?"
Rachel mengangguk pelan.
__ADS_1
"Gapapa kek, Rachel juga udah mendingan kan"
Kakek dan nenek memeluk Rachel lalu pergi meninggalkannya dengan Jihan di sana.
"Han,gue laper"
"Mau order makan?"
Rachel terdiam.
"Gue pengen makan,tapi gue gak tau makan apa itu"
Jihan mengerutkan alisnya.
"Lo pengen makan sesuatu tapi Lo gak tau makanan apa itu,gitu?"
Rachel mengangguk pelan.
"Gue tau..."
Jihan mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
"Lo ngapain?"
"Udah,nanti Lo bakal tau gue ngapain tadi"
Rachel heran melihat Jihan tersenyum aneh.
"Gue takut liat Lo cengar-cengir gitu"
Jihan memanyunkan bibirnya.
"Gue seneng tau,Lo bisa pulang dari rumah sakit setelah 2 Minggu di sana. Walaupun Lo belum inget semua"
Ucap Jihan pelan hampir berbisik.
"Maaf Han, gue jadi nyusahin lo.."
Jihan tersenyum simpul.
__ADS_1
"Gue cuman berharap Lo cepet inget semuanya Hel. Gue pingin semua temen gue balik kaya dulu lagi"
###