
Sebut saja namanya Tari. Dia adalah seorang mahasiswi semester kedua di sebuah universitas ternama di kota T. Akhir-akhir ini waktunya hanya terisi dengan belajar dan bersantai di kost. Dia enggan untuk pergi kemanapun karena Tari memang bukan orang yang hobi berjalan-jalan.
Lagipula keadaan saat ini masih cukup menyisakan luka dihatinya setelah ia menerima penghianatan dari kekasih yang sangat dia cintai sebelumnya. Iya, setiap hari dia menghibur diri dengan bermain sosial media. Meskipun hanya dunia maya tapi baginya itu lebih baik daripada harus bertemu dengan para penjahat yang akhirnya melukai hatinya.
Dina adalah teman satu kost yang paling akrab dengan Tari, tentu saja karena dia satu kamar dengannya. Pagi ini dia terlihat tergesa-gesa sebelum berangkat ke kampus sampai ia tersedak hingga terbatuk-batuk saat sarapan bersama Tari, Tari begitu heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
“Hei Din, kalo makan pelan-pelan dong, kenapa sih buru-buru banget,” tanya Tari.
“Ah, sorry Tar, aku udah hampir telat nih, hari ini dosen rambut singa itu ada di jam pertama kelasku, bisa mati kalo aku telat,” jawab Dina sambil membereskan peralatan makan di kamar.
“Hahahaha, kalo cara makan kamu aja kayak gitu pasti belum nyampek kampus juga udah mati kamu, hahaha...” ujar Tari sambil tertawa-tawa.
Tari segera merebahkan diri di kasur sambil bermain ponselnya, sesekali ia mengamati Dina yang begitu sibuk berdandan di depan cermin.
Kini tangan Dina sedang asyik menghias alisnya yang memang pada dasarnya sedikit gundul menggunakan pensil alis, “Eh, kamu masih santai aja, bolos lagi ya? Emang dasar ya, nih anak beneran gagal move on, ngapain sih mikirin playboy itu lagi,” tanya Dina sembari menggoda temannya yang mulai menunjukkan ekspresi muram dengan seketika.
“Aku ada jam agak siang” jawab Tari ketus. Ia segera memiringkan posisi tubuhnya untuk membelakangi Dina yang telah menggodanya.
Dina yang mengamati bayangan Tari dari cermin yang ada di depannya begitu paham kalau sahabatnya merasa tersinggung tatkala ia menggodanya tentang masalah yang menyangkut masa lalunya.
Dina mencoba mencairkan suasana dengan basa-basinya, “Berarti ntar pulang agak sorean dong? Hati-hati loh kalo nyampek jalan pertigaan dekat pabrik itu, banyak preman, katanya kemarin habis ada anak yang dirampok,” ujar Dina sambil memakai kaos kaki.
Tari spontan bangkit terduduk mendengar ucapan sahabatnya tersebut, “Eh emang bener ya berita yang beredar kemaren itu? Serem ya,” sahut Tari.
“Iya, aku aja takut lewat situ. Eh, udah ya aku berangkat dulu, byeee…..” ujar Dina sambil berlari.
Tari segera berdiri melihat Dina yang keluar kamar tanpa menutup pintunya.
__ADS_1
“Byee…….hati-hati di jalan,” jawab Tari sambil menutup pintu kamar.
Tari segera mengambil ponselnya dan bermain sosmed lagi. Jari-jemarinya begitu lincah mengetik komentar berbalas dengan teman-teman dunia mayanya itu sambil tertawa-tawa kecil sendirian. Hingga tanpa terasa hari
sudah mulai siang dan ia segera bersiap-siap menuju kampus agar tidak terlambat.
Lagi-lagi hari ini menjadi hari yang teramat membosankan baginya. Tak ada semangat, tak ada gairah, semuanya hambar. Mungkin itu pengaruh dari suasana hatinya yang sedang kacau balau akhir-akhir ini. Dan sampailah saat yang ditunggu, kelas hari ini berakhir. Tanpa basa-basi ia langsung pergi tanpa menghiraukan teman-temannya.
Dan ternyata dugaannya benar, di jalan pertigaan dekat pabrik itu ia melihat segerombolan preman sedang duduk di pinggir jalan. Tentu saja dia takut. Tari segera berhenti dan mencari angkot. Untung saja tak lama kemudian ada angkot yang lewat dan ia segera naik.
Tari celingukan kesana kemari melihat suasana di dalam angkot yang begitu sepi. Di dalam angkot tersebut hanya ada ia bersama sopir yang seumuran dengan ayahnya.
“Pak, angkotnya kok kosong sih jam segini?” tanya Tari kepada sopir angkot tersebut.
“Iya mbak, anak-anak sekolah jam segini udah pada pulang, jadi sudah sepi penumpang mbak,” jawab sopir tersebut dengan ramah.
Sesaat mereka terdiam sebelum akhirnya sopir itu bertanya kepadanya.
“Oh iya, mbak mau turun dimana? ini nanti cuma nyampek jalan Diponegoro sudah berhenti, soalnya ini juga saya sudah mau pulang mbak,” Tanya sopir tersebut.
“Wah jadi nanti gak nyampek jalan Kartini ya pak? padahal mau turun sana,” ujar Tari dengan raut muka yang sedikit kecewa.
“Mohon maaf mbak gak bisa, nanti mbak naik angkot lagi yang ke arah kota G aja mbak, itu ada sampek jam 9 malam loh,” ujar sopir tersebut mencoba memberi saran.
“Iya deh pak nanti aku turun jalan Diponegoro aja,” Tari mencoba untuk menurut pada saran yang diberikan oleh sang sopir angkot kepadanya.
Sebenarnya jarak antara rumah kost dan kampus cukup dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki, tapi kalau naik angkot harus mengikuti jalan satu arah sehingga harus berputar jauh berkali-kali lipat. Ya, tapi itu adalah yang terbaik ketika hari sudah mulai malam.
__ADS_1
Tak berapa lama ia telah sampai di jalan Diponegoro, jalan ini sungguh indah ditambah pemandangan daerah pesisir pantai yang sejuk saat sore hari, rasanya ingin berlama-lama disini. Sambil menunggu angkot ia duduk
di tepi jalan dan tak lupa bermain sosmed.
Karena percakapan dunia maya yang terlalu seru, salah seorang teman sosmednya menanyai dimana posisi Tari sekarang, tentu saja ia langsung mengambil foto dirinya dan memposting ke sosial medianya, berharap temannya tahu lokasi dimana ia berada saat ini.
“Benar ini mbak Tari yang ada di sosmed ya?” tiba-tiba seseorang bertanya dari belakang.
Tari segera menoleh. Ia melihat seorang lelaki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Lelaki itu tampan dan terlihat ramah.
Sedikit bingung, “Iya benar, mohon maaf mas ini siapa ya?” Tari berbalik bertanya.
“Saya Juna mbak, teman sosmed mbak Tari yang tadi bertanya lokasi mbak dimana,” jawab lelaki tersebut ramah.
“Oh, mas Juna ya, kok kebetulan banget bisa ketemu disini,” ujar Tari.
“Iya mbak, tadi saya habis ngantar saudara, saya melihat mbak duduk disini dan wajahnya tidak asing menurut saya, makanya saya bertanya lokasi mbak dimana, eh ternyata bener ya,” ujar Juna seraya tersenyum.
Tak berselang lama sebuah angkot ke arah kota G datang, Ia segera berdiri dan melambaikan tangannya agar angkot tersebut bersedia berhenti untuknya. Tari pun segera berpamitan pada Juna untuk pulang ke kost.
“Maaf ya mas Juna, angkotnya sudah datang, saya mohon pamit ya, saya takut kemalaman sampai di kost nanti,” ujar Tari.
“Iya mbak, hati-hati...” sahut Juna, tangannya memberikan isyarat agar Tari segera masuk ke dalam angkot tersebut.
Belum sempat Tari duduk, ia menolehkan kepalanya kebelakang untuk mengucapkan terimakasih pada Juna, “Makasih mas, mas Juna juga hati-hati dijalan,” sambung Tari.
Tangan Tari melambai-lambai begitupun Juna yang membalas lambaian tangan tersebut dengan diiringi senyuman yang manis tersungging di bibirnya.
__ADS_1
Hari ini benar-benar melelahkan bagi Tari. Tapi percakapan di sosmed dan pertemuan dengan Juna hari ini cukup menyenangkan juga baginya. Tak disangka ia bertemu dengan teman sosial media yang setiap hari berbalas komentar dengannya.