Aku Bukan Orang Ketiga

Aku Bukan Orang Ketiga
Bab 20 : Jalan bersama Pras


__ADS_3

Tari sedang asyik bermain sosial media dengan menggunakan ponselnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Pras menghubunginya dan ia segera mengangkat telepon tersebut. Rupanya Pras menelepon dirinya karena ingin mengingatkan bahwa malam ini mereka akan keluar untuk makan malam sesuai dengan janji mereka di hari sebelumnya.


Pras mengatakan bahwa ia sudah berada di perjalanan sejak satu jam yang lalu, mungkin satu jam lagi ia akan segera sampai di kost Tari. Setelah selesai menutup telepon Tari segera bersiap-siap. Hampir saja ia lupa jika Pras tidak menghubunginya. Ia mengenakan baju pemberian Pras kemarin, baju itu sangat pas di badannya begitupun warnanya terlihat sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Tari terlihat begitu cantik dengan riasan natural di wajahnya.


Setelah selesai merias wajahnya ia kemudian mengambil kotak yang berisi sepatu high heels pemberian Pras. Belum sampai ia memakainya tiba-tiba Dina masuk ke kamar. Terlihat rambut Dina yang masih basah setelah ia selesai mandi, Dina pun segera berdandan. Kini mereka berdua tampak sedang memandangi dirinya masing-masing di dalam satu cermin yang sama.


Dina melirik bayangan Tari yang berada di sebelahnya, ia juga melihat sepatu yang akan dikenakan oleh Tari. Dina begitu terheran dengan penampilan Tari saat ini.


"Hei, kamu malam ini ada acara ya Tar?" tanya Dina sambil memandangi Tari.


"Emm... bukan acara sih, lebih tepatnya mau nepati janji aja," jawab Tari.


 "Oh gitu ya. Aku lihat kamu sekarang beda ya," ujar Dina.


"Apanya yang beda?" tanya Tari.


"Aku perhatikan ada yang beda dari penampilan kamu," jawab Dina


"Ah biasa aja tuh," ujar Tari.


"Baju kamu bagus, sepatu kamu juga sangat mahal untuk ukuran mahasiswi seperti kita. Kamu dapat darimana?" tanya Dina


Tari hanya tersenyum.


"Dari Juna ya?" Dina bertanya lagi.


"Bukan," jawab Tari singkat.


"Oh ya? Kamu udah ada cowok lain ya? Secepat itu kamu melupakan Juna begitu saja?" tanya Dina dengan panjang lebar.


"Bukan seperti itu," jawab Tari.


 "Oh, aku ngerti. Kamu manfaatin kecantikan kamu untuk dapetin cowok lain yang bisa ngasih kamu barang-barang mahal kayak gini ya? Hebat ya kamu, udah mulai pinter juga ya," ucap Dina sambil tersenyum mengejek.

__ADS_1


Seketika Tari mulai tersulut emosi atas perkataan Dina. Tari benar-benar tersinggung mendengar ucapan Dina tersebut. Baginya, Dina sudah benar-benar jauh berbeda, ia sama sekali tak menyangka Dina akan berkata seperti itu padanya. Ia terdiam menahan kemarahan.


Tak lama kemudian terdengar suara Nunung memanggilnya dari luar pintu kamar. Tari segera membukakan pintu, dan ternyata Nunung memberi tahu bahwa Pras sudah berada di depan kost untuk menunggunya. Ia segera mengenakan sepatunya dan keluar dari kamar untuk menemui Pras. Bukannya berpamitan pada Dina, ia justru berpamitan pada Nunung bahwa ia akan keluar bersama Pras malam ini. Ia masih tersinggung dengan ucapan yang telah Dina lontarkan padanya.


Sesampainya di luar ia menjumpai Pras yang terlihat tampan dengan penampilannya malam ini. Tari segera mendekat padanya, tetapi Pras tampak diam saja memandangi Tari yang begitu cantik di depan matanya. Pras begitu terpesona dengan penampilan Tari. Karena tak tahan dengan pandangan mata Pras, ia segera berbalik badan membelakangi Pras. Seketika Pras tersadar bahwa pandangannya terlalu berlebihan yang membuat Tari merasa malu. Ia segera menyapa Tari dengan penuh kelembutan.


"Selamat malam calon istriku yang cantik," sapa Pras sembari tersenyum.


"Apa sih kamu ngomong kayak gitu," jawab Tari sambil berbalik badan menghadap Pras


"Apa aku salah ngomong?" tanya Pras dengan sedikit menggoda Tari.


"Iya," jawab Tari singkat.


"Lalu yang benar bagaimana?" goda Pras.


"Kamu lebay deh," ujar Tari


Tari hanya terdiam.


"Selamat malam Nyonya Prasetyo," ucap Pras


"Kamu apaan sih, bikin kesel aja deh," ucap Tari kesal.


"Baiklah ayo kita berangkat, nanti keburu malam, waktu kita cuma sebentar," ucap Pras.


Mereka berdua segera berjalan menuju mobil, tetapi baru beberapa langkah Tari berjalan tiba-tiba kakinya terkilir karena tak terbiasa memakai high heels sebelumnya. Untung saja Pras segera menolongnya sehingga ia tak sampai jatuh ke tanah. Pras memegang erat pergelangan tangan Tari, tanpa sengaja ia melihat Tari tak memakai jam tangan yang ia berikan padanya.


"Maaf aku merepotkanmu" ucap Tari sambil berusaha berdiri dengan dibantu oleh Pras.


"Kaki kamu sakit?" tanya Pras, ia segera menuntun Tari untuk duduk di kursi yang ada di depan kost.


"Tidak papa kok, aku hanya tidak terbiasa menggunakan sepatu hak tinggi seperti ini," ucap Tari

__ADS_1


"Maaf tapi biar aku lihat dulu kakimu" ucap Pras sambil memegang kaki Tari.


"Aku nggak papa kok," ucap Tari berusaha menolak


"Apa seperti ini terasa sakit?" tanya Pras sambil menggerakkan kaki Tari dengan tangannya.


"Tidak. Aku nggak papa kok" jawab Tari.


Dari seberang jalan terdengar suara mobil yang datang, mereka berdua melihat ke arah mobil tersebut. Mobil itu tak terlalu asing bagi mereka. Dina segera keluar menghampiri mobil tersebut, ia kemudian segera masuk ke dalamnya, dan mobil itu segera berjalan meninggalkan kost.


Mereka kemudian segera berjalan lagi menuju mobil. Pras segera membukakan pintu mobil untuk Tari, dan Tari segera masuk ke dalamnya. Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Pras segera menyalakan mesin dan memacu mobilnya berjalan menjauh dari kost.


Pras begitu bahagia bisa berjalan bersama perempuan pujaan hatinya tersebut. Tari hanya terdiam, ia sedikit merasa malu karena Pras terus-terusan memperhatikannya sejak tadi. Pras mencoba membuka percakapan agar suasana tidak terasa kaku.


"Sayang, kenapa kamu tidak memakai jam tangan yang aku berikan untukmu?" tanya Pras.


"Aku tidak ingin memakainya," jawab Tari.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka modelnya?" tanya Pras.


"Bukan begitu," jawab Tari.


"Terus kenapa kamu tidak memakainya?" tanya Pras penuh penasaran.


"Aku hanya tidak ingin terus-terusan ingat kamu saat memakainya" jawab Tari dengan sedikit melamun.


"Hahaha....." dengan spontan Pras tertawa mendengar jawaban dari Tari.


"Ah... emm.... Maksud aku bukan begitu," ucap Tari berusaha meralat kata-katanya yang tanpa sadar telah ia ucapkan tadi.


"Hahaha, jadi kamu benar-benar teringat terus sama aku ya saat memakai jam tangan itu, entah kenapa aku malah begitu senang mendengar jawaban kamu yang seperti itu" ucap Pras sambil tertawa-tawa kecil.


Tari hanya terdiam, ia merasa malu karena telah mengucapkan hal itu tanpa ia sadari. Sebelum melanjutkan perjalanan Pras membawa Tari untuk mampir ke sebuah took. Pras membelikannya sebuah sandal yang nyaman untuk Tari pakai, ia tak mau Tari teluka karena memakai sesuatu yang tak nyaman digunakan olehnya. Setelah itu mereka segera melanjutkan perjalanan kembali.

__ADS_1


__ADS_2