
Mira tetap bersikeras tak ingin pulang ke rumah Juna, sedangkan ayahnya telah memerintahkan asisten rumah tangga untuk mengemasi barang-barang Mira. Mira hanya bisa menangis pada ibunya memohon agar tidak dipulangkan ke kota T, tetapi ibunya tak bisa berbuat apapun untuk menolong Mira karena ini sudah menjadi keputusan ayahnya.
Beberapa kali ibunya Mira berusaha membujuk pak Seno agar mau mendengarkan keluhan putrinya dan mengurungkan niatnya untuk mengirim putri mereka ke rumah suaminya. Tapi itu tidak mengubah jalan pemikiran pak Seno sedikitpun. Pak Seno malah semakin yakin untuk memulangkan Mira ke rumah suaminya, menjaga agar putrinya tidak salah langkah menjalin hubungan terlarang dengan mantan pacarnya.
Semua barang-barang yang dikemas sudah masuk dalam mobil begitupun Mira dan ayahnya, mereka akhirnya berangkat menuju kota T. Di perjalanan Mira sibuk dengan ponselnya, dia mengirim pesan kepada Johan. Ayahnya terlihat tidak senang karena tahu anaknya pasti masih berhubungan dengan Johan. Pak Seno segera merebut ponsel Mira.
"Ayah sudah peringatkan kamu, tapi kamu tetap seperti ini. Apa yang kamu cari dari Johan?" tanya pak Seno
"Mira nggak suka ayah seperti ini, Mira bukan anak kecil lagi" jawab Mira
"Ayah salah telah memanjakanmu selama ini. Semua ini membuatmu bersikap seperti anak kecil, tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk" ucap pak Seno
"Ayah, Juna tidak ingin tinggal bersamaku. Lalu apa aku harus terus membujuknya untuk mau pulang dan tinggal bersamaku? aku capek" ucap Mira
"Sebelum kamu bertemu Johan sikapmu tidak seperti ini pada Juna" ucap pak Seno
"Ini semua bukan karena Johan, ini semua salah Juna sendiri" kata Mira
__ADS_1
"Bukankah dulu kalian sudah sepakat akan tinggal di rumah Juna, karena kamu terbiasa hidup enak makanya kamu tidak betah tinggal disana, ayah cukup paham Juna seperti itu karena ingin kamu bersikap lebih dewasa dan mandiri. Lalu dimana letak kesalahan Juna?" kata pak Seno dengan nada sedikit meninggi
"Juna tau aku tidak bisa hidup seperti itu, seharusnya dia bisa mengerti aku" kata Mira
"Apa selamanya kamu akan menjadi seperti anak kecil? Ingat Mira, kamu menikah dan pada saatnya kamu akan menjadi seorang ibu, seharusnya kamu bisa belajar mulai saat ini" ucap pak Seno mencoba memberikan pengertian.
"Ayah, sudah seharusnya Juna memberikan aku kehidupan yang layak. Kalau tahu seperti ini aku lebih memilih menunggu Johan pulang dari luar negeri daripada harus menikah dengan Juna" ucap Mira dengan seenaknya.
"Apa yang kamu cari dari Johan? Johan itu tidak serius sama kamu, buktinya dia tidak pernah berani melamarmu" kata pak Seno
"Kamu salah" pak Seno menghela napas panjang kemudian melanjutkan kata-katanya "Ayah sudah pernah berbicara empat mata dengan Johan. Tapi dia tidak bisa memberikan jawaban apapun tentang pertanyaanku kapan dia dan orang tuanya akan datang untuk melamarmu" ucap pak Seno dengan nada pelan
"Tidak mungkin," ungkap Mira tak percaya
"Ayah mengira waktu itu dia belum siap berumah tangga karena usianya masih muda, tapi ternyata ayah salah" ucap pak Seno
Mira hanya terdiam
__ADS_1
"Ayah beberapa kali melihat dia bersama perempuan lain. Ayah juga meminta pak Beni, sopir ayah yang lama untuk mencari tahu kebenarannya. Ternyata benar dia tidak baik untukmu Mira, mengertilah" ucap pak Seno
"Bohong. Ayah bohong, ini semua tidak benar. Ayah hanya ingin aku membenci Johan makanya Ayah berbicara seperti ini" ucap Mira
"Terserah, Ayah tak ingin memaksamu untuk percaya. Tapi Ayah hanya ingin mengingatkan kamu, jangan sampai kamu menyesal suatu saat nanti" ucap pak Seno
"Cukup Ayah, Mira tidak akan menyesal. Tolong Ayah berhenti mengatur hidup Mira, Mira bukan anak kecil lagi" ucap Mira.
Mira segera mengambil ponselnya kembali yang sempat diambil paksa oleh ayahnya. Selama beberapa jam perjalanan, Mira dan ayahnya saling terdiam tanpa bercakap satu kata pun. Sejak perdebatan dengan ayahnya tadi Mira hanya sibuk memperhatikan ponselnya. Ia terus berkomunikasi dengan Johan tanpa menghiraukan peringatan ayahnya. Begitu pula dengan Johan yang semakin gencar mendekati Mira, tampaknya ia memang sengaja masuk ke dalam kehidupan rumah tangga Mira dan Juna.
Pak Seno hanya diam melihat tingkah anaknya tersebut karena percuma baginya mengeluarkan banyak kata sedangkan anaknya sendiri sudah tidak ingin mendengarkan kata-katanya. Ia hanya bisa berharap semoga Juna mampu mengubah sikap buruk anaknya tersebut. Setelah beberapa lama di perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Juna.
Mira hanya diam dengan ekspresi yang tidak begitu bersemangat. Juna menyambut kedatangan mereka dengan sangat senang karena ayah mertuanya juga ikut datang menemani istrinya pulang. Sesampai di rumah itu Mira langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya. Berbeda dengan putrinya, pak Seno sangat senang bertemu menantunya itu, mereka berbincang dengan sangat akrab.
Tak terasa waktu berjalan cepat, hari sudah sore dan pak Seno segera berpamitan pulang. Mira tetap tak mau bertemu dengan ayahnya karena kemarahan masih menyelimuti hatinya. Juna hanya bisa memohon maaf kepada ayah mertuanya atas kelakuan istrinya itu.
Hari berganti, Mira tetap seperti sebelumnya. Sejak pertemuan dengan Johan ia tak bisa menghindari, mereka masih sering berkomunikasi tanpa sepengetahuan Juna. Juna menganggap sikap acuh istrinya terhadapnya itu karena ayah mertuanya yang memaksa Mira agar pulang ke rumahnya. Juna masih begitu sabar menghadapi istrinya.
__ADS_1