
Rasa penasaran memenuhi pikirannya, Tari memperhatikan gerak-gerik Dina selama berada di kost. Sejak pulang dari kampus dan bertengkar dengan perempuan misterius itu kini ia begitu murung di kamar. Sejak ia bergaul dengan Redy, Dina begitu tertutup tentang masalah pribadinya. Segala sesuatu tentang perasaan, hubungan, maupun masalahnya tak pernah ia bagi sedikitpun pada sahabatnya. Hari-harinya dihabiskan dengan jalan bersama Redy hampir setiap hari. Malam telah tiba Dina begitu sibuk berdandan di depan cermin, tampaknya ia akan keluar lagi.
"Percuma lah kamu berdandan tapi muka cemberut terus, gak ada cantik-cantiknya sama sekali" ujar Tari menggoda sahabatnya.
"Masa sih? Bisa aja kamu" ucap Dina sembari melihat dirinya di cermin.
"Hei Din, kamu mau kemana?" tanya Tari
"Mau jalan" jawab Dina singkat
"Sama siapa?" tanya Tari
"Ya sama Redy lah" jawab Dina
"Hah? Sama Redy? Apa aku gak salah dengar?" ucap Tari dalam hati
"Sama Redy?" Tari mempertanyakan lagi dengan ragu
"Iya, kenapa?" Dina bertanya balik
"E...Nggak papa, cuma tanya aja" jawab Tari
"Bukankah tadi siang Dina bertengkar sama Redy" gumam Tari dalam hati
"Aku berangkat dulu ya Tar" ucap Dina
"Iya hati-hati" ucap Tari
Dina segera keluar dari kamar, belum sampai ia menutup pintu tiba-tiba Ajeng datang menghampirinya. Ternyata Ajeng datang untuk mengembalikan syal milik Dina yang kemarin dipinjam olehnya untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya. Ajeng segera memberikan syal itu pada Dina dan mengucapkan terimakasih. Karena Dina malas untuk menaruh sendiri ke lemarinya, maka ia pun meminta Tari untuk memasukkan syal itu ke lemarinya.
Dina segera pergi keluar dengan terburu-buru, karena Redy telah menunggunya di luar. Tari segera membuka lemari milik Dina dan meletakkan syal tersebut di antara tumpukan baju yang tertata rapi. Tetapi pandangannya tertuju pada sesuatu. Tari melihat obat yang kemarin ia temukan saat merapikan buku. Obat itu tampak terselip diantara tumpukan pakaian Dina. Ia teringat bagaimana ekspresi Dina yang begitu aneh saat ia memegang obat itu, seperti ada sesuatu yang ingin disembunyikan oleh Dina darinya. Tari segera mengambilnya, ia memperhatikan kemasan obat itu dengan seksama.
"Obat apa ini? Tampaknya tidak ada keterangan kegunaan obat, hanya ada beberapa gambar anak panah yang tampak berurutan" gumam Tari pelan
Ia masih memperhatikan obat itu, dibolak-balik berkali-kali tapi tak ada keterangannya. Tari segera mencari kardus kemasan obat itu yang mungkin masih disimpan oleh Dina. Lama ia mengobok-obok lemari milik Dina tapi tampaknya ia tak menemukan sesuatu yang berhubungan dengan obat itu. Tari kemudian duduk dengan menggenggam obat itu tetapi tiba-tiba ia teringat pada Ajeng.
__ADS_1
"Oh iya, kakaknya Ajeng kan seorang dokter, mungkin aku bisa meminta Ajeng untuk mempertanyakan obat ini pada kakaknya" ucap Tari pelan.
Tari segera berlari ke kamar Ajeng dan Rima berada. Ia mengetuk pintu dengan sangat tidak sabar. Mendengar suara Tari yang memanggil-manggil nama mereka Rima segera membuka pintunya. Ternyata Ajeng dan Rima sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya.
"Ajeng, Rima maafin aku ya udah ganggu waktu belajar kalian berdua" ujar Tari
"Iya nggak papa, ada apa Tar?" tanya Rima
"Eh, aku mau minta tolong sama Ajeng" jawab Tari sambil duduk di pinggir kasur yang tergeletak di lantai.
"Minta tolong apa Tar?" tanya Ajeng
"Kamu pernah lihat obat ini nggak?" tanya Tari sambil menunjukkan obat tersebut.
"Ah, obat apa ini? Aku nggak pernah lihat" Ajeng bertanya balik sambil merebut obat itu dari tangan Tari, ia melihatnya dengan teliti.
"Aku juga tidak pernah lihat obat kayak gitu, obat apa ya ini" ujar Rima
"Emang kamu dapat dari mana obat itu?" tanya Rima
"Dari lemari Dina" jawab Tari "Kemaren aku nemuin itu terselip di antara bukunya Dina, tapi Dina aneh banget ekspresinya, dia kayak kaget, gugup, takut gimana gitu ekspresinya" Tari melanjutkan ucapannya.
"Masa sih?" tanya Ajeng
"Iya, kayak ada yang ditutupin gitu deh" jawab Tari
"Kira-kira Dina sakit apa ya? Kayaknya dia baik-baik aja tuh" ujar Rima
"Jangan-jangan sakit parah yang kaya sejenis kanker, tumor, jantung atau apa gitu ya?" ucap Ajeng
"Husss.....gk boleh ngomong gitu, kan belom pasti juga, nanti kalo salah dugaan malah dikiranya kita lagi doain dia supaya jadi sakit" ucap Rima
"Eh, Ajeng kakak kamu kan dokter, coba aja tanya sama dia" ucap Tari
__ADS_1
"Oh iya, bener kata Tari. Coba deh tanyain kakakmu Jeng" pinta Rima
"Ok, aku akan fotoin obat ini dan tanyain sama kakakku" ucap Ajeng
Ajeng segera mengirim foto obat tersebut pada kakaknya yang seorang dokter, ia menanyakan obat penyakit apakah itu. Beberapa saat mereka menunggu akhirnya Ajeng mendapatkan balasan pesan dari kakaknya.
"Eh, kakak udah balas pesanku" ucap Ajeng, ia segera membuka ponselnya
"Ayo cepat baca" ucap Tari
"Itu adalah alat kon-tra-sep-si" ucap Ajeng menirukan isi pesan
"Alat kon-tra-sep-si? Apa itu alat kontrasepsi?" tanya Rima
"Coba tanyain lagi sama kakakmu" pinta Tari
"Iya iya, ini lagi aku ketik, sabar dulu" ucap Ajeng
"Tring-ring" ponsel Ajeng berbunyi, ternyata balasan pesan dari kakak Ajeng
"Ayo buka cepet Jeng" ucap Rima
"Iya iya sabar. Nih aku bacain. Un-tuk-ce-gah-ke-ha-mi-lan" ucap Ajeng
"Oh cegah kehamilan" ucap Tari dan Rima hampir bersamaan dan tanpa sadar
"Apa? cegah kehamilan?" Tari mengulang kata-katanya karena begitu kaget
"Hah? cegah kehamilan?" sahut Rima spontan
"Hamil?" Ajeng begitu kaget
Mereka bertiga saling berpandangan tak percaya dengan isi pesan dari kakaknya Ajeng, tapi mereka tahu kakaknya Ajeng adalah seorang dokter pastilah ia mengerti tentang bermacam-macam jenis obat. Tari segera menyadari ada hal yang tidak beres dengan hubungan Dina dan Redy, ia mulai berpikiran negatif tentang Dina. Tari segera bangkit dari duduknya. Ia berpesan kepada Rima dan Ajeng agar semua hal ini menjadi rahasia bagi mereka. Ajeng dan Rima cukup paham, mereka berjanji akan menyimpan rahasia itu dengan baik.
Tari segera kembali ke kamar dan mengembalikan obat itu ke tempatnya semula. Tari mulai paham sedikit demi sedikit, tapi ia masih belum begitu yakin dengan dugaannya. Ia pun tak mungkin untuk langsung bertanya kepada Dina saat ini, Tari akan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara padanya.
__ADS_1