Aku Bukan Orang Ketiga

Aku Bukan Orang Ketiga
Bab 19 : Kesepianku


__ADS_3

Sejak pagi buta, Tari telah mengajak Nunung untuk pergi berjalan-jalan di tepi pantai. Di tengah perjalanan itu mereka bercakap-cakap masalah kuliah maupun masalah pribadi masing-masing. Mereka memang belum terlalu dekat satu sama lain, karena Nunung memang belum begitu lama tinggal di kost. Tanpa terasa mereka telah berjalan sangat jauh.


Langkah mereka terhenti saat menjumpai cangkang kerang yang begitu indah. Mereka segera duduk melepas lelah setelah sekitar satu jam berjalan menyusuri tepi pantai. Tempat ini tak begitu asing bagi Tari, tetapi mungkin terasa baru bagi Nunung. Mereka menoleh ke kanan dan kiri, begitu sepi tak ada orang di sekitar mereka. Hanya ada beberapa orang yang terlihat berada sangat jauh dari tempat mereka duduk saat ini.


Mereka berdua duduk terdiam sambil menatap laut. Sudah lama Tari tak merasakan aroma air laut yang begitu segar di pagi hari. Sebelumnya, seringkali ia datang ke tempat tersebut bersama dengan Dina. Tetapi untuk saat ini bahkan hanya sekedar mengobrol santai ataupun bercanda dengan Dina saja sudah sangat jarang mereka lakukan meskipun mereka berada dalam satu kamar kost yang sama. Jarak yang tercipta diantara mereka membuat persahabatan mereka semakin hari semakin renggang.


Tari merasa bahwa Dina sudah jauh berbeda dari yang pernah ia kenal sebelumnya. Setiap hari Dina hanya datang dan pergi saja, sesekali berada di kost pun hanya untuk tidur atau menunggu Redy menjemputnya. Seolah rumah kost hanya menjadi tempat penitipan barang baginya, ia terlalu sibuk bepergian bersama Redy entah kemana tanpa menghiraukan teman-temannya.


Berhari-hari Tari merasa sangat kesepian, ia merasa akhir-akhir ini semua orang yang dia cintai perlahan-lahan menjauh dari hidupnya. Sesaat Tari memejamkan mata, menghela napas panjang. Hatinya sangat merindukan seseorang, tetapi ia tak berdaya untuk mengungkapkannya. Diambilnya cangkang kerang itu untuk menggores pasir mengambar sesuatu, tangannya mulai berkreasi.


             



"Kamu lagi jatuh cinta ya" goda Nunung


"Hemm? Apa terlihat seperti itu?" tanya Tari sembari tersenyum


"Aku tidak bisa menebak suasana hati kamu" jawab Nunung


"Aku merindukan seseorang" ucap Tari sambil terus memainkan cangkang kerang itu untuk membuat goresan-goresan di pasir.

__ADS_1


"Siapa? Pras?" tanya Nunung penasaran


"Apa aku dan Pras tampak sedekat itu sampai tidak ada nama lain yang lebih pantas untuk disebut" jawab Tari


"Terus siapa? Juna?" tanya Nunung


Tari hanya tersenyum


"Bukankah Juna sudah punya istri? Apa kamu mau jadi orang ketiga diantara mereka?" tanya Nunung


"Aku cinta sama Juna, dari hati. Aku tidak pernah berharap lebih, bisa melihatnya bahagia itu sudah cukup bagiku" ucap Tari pelan, ia memandang gambar-gambar di pasir yang mulai menghilang tersapu oleh riak air di pantai


"Aku sama sekali tak ada perasaan padanya." ucap Tari


"Lalu kenapa kamu masih membiarkan Pras mendekatimu? Suruh saja dia menjauh darimu" ucap Nunung


"Bagaimanapun perasaanku terhadapnya, aku tak bisa mengabaikan atau bahkan membuangnya begitu saja. Orang tuaku telah menerima lamaran keluarga Pras" ucap Tari


"Ya, kamu tak ada pilihan lain kan? Juna juga tak mungkin bisa kau miliki. Jadi berusahalah untuk menerima Pras, aku lihat dia lelaki yang baik, wajahnya tampan, tinggi, badannya juga sixpack" sahut Nunung


"Darimana kamu tahu badannya Pras sixpack?" tanya Tari keheranan

__ADS_1


"Hahaha, aku cuma menebak aja dilihat dari postur tubuhnya. Ya kan paling tidak dia tak terlalu buruk juga untuk jadi pendampingmu kelak" ucap Nunung


"Gitu ya? Sok tau banget sih kamu. Kayaknya Pras lebih cocok sama kamu deh" ucap Tari


"Cocok darimana. Tapi aku lihat kalian serasi banget tuh, udah deh kawin aja sama dia" sahut Nunung


Lama sekali mereka bercanda dan bersantai di tempat itu menikmati suasana pantai yang indah hingga tak terasa matahari mulai tinggi. Tampaknya panas terik mulai terasa menyengat di kulit, mereka segera bangkit dan beranjak pulang ke kost. Di tengah perjalanan pulang pun mereka tampak masih sesekali bercanda.


Sesampainya di kost mereka segera masuk ke kamar masing-masing. Tari tak melihat siapapun di kamarnya, ia hanya berpikir mungkin Dina sedang berangkat kuliah atau pergi berjalan dengan Redy. Ia segera merebahkan diri di kasur, matanya memandang ke langit-langit kamar. Begitu sunyi, ia sangat kesepian.


Ia segera bangkit dan mengambil handuk untuk mandi. Saat keluar dari kamar tiba-tiba ada kurir yang mengetuk pintu, Tari segera menghampirinya. Ternyata kurir tersebut mengantarkan sebuah paket yang dikirim oleh Pras untuknya. Ia segera menerimanya dan meletakkan paket tersebut di kamar.


Beberapa saat kemudian Tari keluar dari kamar mandi, badannya terasa segar. Ia segera ke kamarnya sambil berusaha mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk. Ia melihat paket yang telah ia terima tadi, dan segera membuka isi kotak tersebut. Ternyata Pras mengirimkan sebuah jam tangan dan menyisipkan sebuah kertas di dalamnya.


"Pakailah agar kamu bisa selalu mengingatku setiap waktu" ucap Tari menirukan isi tulisan dalam kertas tersebut.


"Hah, orang ini menyebalkan sekali" gumam Tari dalam hati.


Ia segera memasukkan kembali jam tangan dan kertas itu ke dalam kotak. Entah mengapa setiap Pras memberikan sesuatu kepadanya, ia justru sangat gelisah dan merasa bersalah karena tak mampu membalas dengan perasaanya. Ia hanya bisa terdiam dan memandangi kotak tersebut.


Tak lama kemudian tiba-tiba Dina datang dan segera masuk ke kamar. Ia begitu terkejut dan segera memasukkan kotak tersebut ke dalam lemarinya. Dina tak berkata apapun, ia datang hanya untuk mengambil sesuatu dari lemarinya dan berpamitan untuk keluar lagi. Tari hanya membiarkan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2