Aku Bukan Orang Ketiga

Aku Bukan Orang Ketiga
Bab 14 : Perjodohan ini sulit untuk kuterima


__ADS_3

Malam semakin larut, Tari masih berjalan kaki di trotoar jalan dekat terminal, perasaannya kacau. Ia merasa bingung dengan perasaannya saat ini. Ingin rasanya ia berteriak kencang, tapi itu tak mungkin bisa ia lakukan di tengah keramaian seperti ini. Ingin menangis pun rasanya tak bisa. Ia kemudian duduk di trotoar, kepalanya tertunduk lesu, wajahnya yang ayu kini terlihat muram. Sudah setengah jam berlalu sejak ia duduk di sana, ia masih tak beranjak dari tempatnya. Tiba tiba suara yang tak begitu asing terdengar di telinganya.


"Dek Tari" ucap Juna dari atas motor


Tari segera melihat kearah datangnya suara, "Kak Juna" ucap Tari kaget


"Kamu ngapain disini Dek?" tanya Juna


"Aku, aku...." Tari bingung mau menjawab apa


"Sama siapa? Sendirian?" tanya Juna


"Iya Kak" jawab Tari


"Mau pulang ke kost? Ayo biar kakak antar" ucap Juna


"Iya Kak" ucap Tari tak menolak sama sekali


Tari segera naik ke motor Juna, di tengah perjalanan mereka mengobrol, tapi Tari tak seperti biasanya. Ia menjadi lebih pendiam daripada sebelumnya, Tak urung hal itu membuat Juna penasaran.


"Kamu kenapa Dek? Kok tidak seperti biasanya?" tanya Juna


"Gak papa Kak" jawab Tari


"Yakin nggak papa?" tanya Juna memastikan


Tari tak menjawab, ia hanya memandangi Juna dari belakangnya. Perlahan tangannya merangkul Juna dari belakang, Juna sangat kaget. Juna segera mengurangi kecepatan motornya, Tari membenamkan wajahnya yang cantik itu ke punggung Juna. Ternyata ia sedang menangis. Juna segera mengarahkan motornya ke tepi jalan, kemudian berhenti dan mematikan mesin motornya.


"Dek Tari kenapa?" tanya Juna yang masih dalam posisi di atas motor


Tari terus menangis tanpa menjawab sepatah kata pun, ia segera menarik tangan dan mukanya dari tubuh Juna. Ia segera mengusap air matanya dengan perlahan dan masih belum bisa berkata apapun.


"Dek Tari sudah makan?" tanya Juna

__ADS_1


Tari hanya menggelengkan kepala, bibirnya masih terasa berat untuk mengucapkan sesuatu.


"Baiklah, ayo kita makan dulu" ucap Juna


"Nggak usah Kak, aku nggak lapar" ucap Tari


"Nanti sakit loh" ucap Juna


"Biarin aja" ucap Tari singkat


Juna melihat ada yang tak beres dengan Tari, tanpa bertanya lagi ia segera menyalakan motornya, dan dibawanya Tari ke sebuah tempat yang tak jauh dari bibir pantai. Disana ada sebuah tempat duduk yang cukup untuk mereka berdua. Tempat itu sangatlah sepi, tetapi disana begitu indah dengan pemandangan laut malam hari. Dari tempat itu mereka bisa melihat cahaya lampu yang berjejer rapi di tepi pantai yang tampak berkelip bagai bintang di kejauhan. Ditambah dengan tiupan angin laut yang menerpa mereka dengan bebas membuat mereka berdua nyaman untuk duduk disana.


"Kakak tahu tempat indah seperti ini dari siapa?" tanya Tari


"Dari teman" ucap Juna sambil tersenyum


"Disini sangat nyaman" ucap Tari


"Oh iya, kamu kenapa Dek?" tanya Juna sekali lagi


"Nggak papa kok nangis?" tanya Juna


"Capek" jawab Tari


"Capek hati?" tanya Juna sambil tersenyum


"Orang tuaku telah menjodohkan aku dengan seseorang Kak" jawab Tari sambil menghela napas panjang


"Dijodohkan?" tanya Juna


"Iya" jawab Tari


"Itu tidak terlalu buruk, apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Juna

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa bilang bahwa ini tidak buruk bagiku" gumam Tari dalam hatinya


Tari segera menjawab pertanyaan Juna "Aku tidak mengenalnya, tapi aku telah melihatnya" jawab Tari pelan


"Lalu apa yang kamu risaukan saat ini Dek?" tanya Juna


"Sebenarnya aku tak menginginkan perjodohan ini, tapi ayahku tetap menerima lamaran dari keluarga mereka. Aku tak mau dijodohkan seperti ini" jawab Tari


"Kenapa?" tanya Juna


"Karena aku telah mencintai orang lain Kak" ucap Tari


"Dan orang itu adalah kamu" gumam Tari dalam hati


Juna hanya terdiam mendengar ucapan Tari, ia tak berani memberikan masukan apapun karena takut akan menyakiti perasaan Tari. Ia melihat Tari mulai menangis lagi. Juna tak bisa berkata apapun untuk menghiburnya. Sesaat setelah itu Juna segera mengantar Tari kembali ke kost. Rumah kost Tari terlihat sangat sepi karena hari sudah larut malam. Tak lama setelah pintu di ketuk, Nunung muncul dari kamarnya dan membukakan pintu untuk Tari maka Juna segera berpamitan untuk pulang. Tari segera masuk ke kamarnya, ia melihat Dina telah tidur dengan pulas.


Tari segera meletakkan tasnya, ia kemudian membuka ponselnya dan ternyata ada 23 panggilan tak terjawab dari sebuah nomor baru. Ternyata ia lupa bahwa sejak di perjalanan tadi ia menyalakan mode senyap di ponselnya sehingga tak terdengar sama sekali ketika ada panggilan masuk. Tak berapa lama nomor tersebut meneleponnya lagi.


"Iya, hallo..." ucap Tari


"Tari, ini aku Pras" ucap Pras


"Iya ada apa?" tanya Tari dengan ketus


"Enggak ada apa-apa, aku cuma mau telepon kamu aja, pengen dengerin suara kamu" ucap Pras


"Kamu nggak tahu ya ini jam berapa, aku ngantuk mau tidur" ucap Tari dengan marah


"Iya aku minta maaf Tari udah ganggu waktu istirahat kamu" ucap Pras


"Ya udah, aku tutup teleponnya ya" ucap Tari segera menutup teleponnya tanpa basa-basi


"Dasar bodoh, sudah tahu aku tak suka dengannya, tapi masih saja ngotot" ujar Tari menggerutu

__ADS_1


Tari merasa kecapekan, ia segera mengambil handuk untuk mandi, tetapi udara terasa sangat dingin sehingga ia terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri sebelum tidur, tanpa terasa ia segera tertidur bersama Dina disampingnya.


__ADS_2