
Pagi ini Dina tampak begitu rapi, seperti biasa ia ada janji untuk jalan bersama Redy. Sepertinya mereka memang menjalani hubungan khusus, tapi sayangnya Dina masih enggan untuk berbagi cerita cintanya kepada teman-teman terdekatnya. Tampaknya ada sesuatu yang ditutupi olehnya, tapi Tari tak mau terlalu ikut campur dengan masalah pribadinya.
Dina semakin hari semakin jauh dengan teman-teman di kost. Hampir setiap hari ia pergi dengan Redy entah kemana, kalau bukan pagi pasti siang, sore atau malam hari mereka pasti ketemuan. Kuliahnya juga tidak teratur bahkan ia sering tidak masuk kelas gara-gara pergi jalan bersama pria itu. Ajeng dan Rima pun juga merasakan ada yang aneh dengan sikap Dina, tetapi mereka tak berani untuk bertanya.
Tak terasa hari telah sore, Ajeng bersiap untuk mengikuti latihan seni bela diri di kampus. Sedangkan Rima meminta agar Tari mau menemaninya menghadiri acara ulang tahun temannya nanti malam.
"Tari, kamu bisa nggak temani aku ke acara ulang tahun temanku nanti malam?" tanya Rima
"Nanti malam? Emm...gimana ya, kayaknya aku nggak bisa" jawab Tari
"Ayolah Tar, tolongin aku, aku malu kalo harus berangkat sendirian kesana" pinta Rima
"Kamu ini, minta cowokmu yang anterin dong. Masa cewek sama cewek, hahaha" ucap Tari seraya menggoda temannya itu
"Apaan sih Tari, aku nggak punya cowok...." kata Rima
"Itu cowok yang di pesantren sebelah kampus bukannya cowok kamu ya?" goda Tari
"Ah, apaan sih Tari bukan cowokku, cuma temen aja kok" ucap Rima
"Oh temen ya, boleh dong kalo aku yang telponin dia biar dia yang temenin kamu ke acara ulang tahun temanmu nanti" ujar Tari dengan penuh semangat menggoda temannya yang begitu polos itu.
__ADS_1
"Ah enggak, aku nggak suka sama dia, beneran Tar" ucap Rima
"Hahaha...." Tari hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah temannya itu
"Mau ya Tari? kalo kamu nggak mau antar ya udah, aku gak jadi datang ke acara itu aja deh" ucap Rima dengan pasrah
"Iya deh aku temenin, emang acaranya dimana sih?" tanya Tari
"Di Akar Wangi Resto, tenang aja ini bukan acara yang besar, temenku cuma ngundang lima sampai enam orang yang akrab sama dia. Bener ya kamu mau antar aku" ucap Rima dengan penuh semangat
"Jadi ceritanya aku jadi tamu tak diundang nih?" ucap Tari
"Bukan, bukan gitu. Aku udah ngomong ke dia kok kalo aku ngajak kamu. Mau ya temenin aku" ucap Rima
Malam telah tiba, Tari dan Rima segera berangkat menuju ke pesta. Disana beberapa teman Rima menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka untuk segera duduk di kursi yang telah disediakan. Pesta ini sangat sederhana, setelah acara tiup lilin dan selesai memotong kue ulang tahun mereka semua segera menyantap hidangan yang telah disediakan.
Rupanya ada maksud tersembunyi dari Rima untuk mengajak Tari ke acara tersebut. Rima memperkenalkan Tari pada salah satu teman lelakinya. Tampaknya teman lelaki Rima itu sangat agresif mendekati Tari, tentu saja Tari merasa sangat tidak nyaman karena hal itu. Rasanya ia ingin pergi dari acara itu tapi ia tak mau membuat Rima kecewa. Dan ia tetap berada disana meskipun rasa bosan sudah menyelimuti dirinya.
Tanpa sengaja ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Ternyata Juna dan istrinya juga berada di tempat itu, ia memperhatikan Juna yang sedang makan bersama istrinya itu dari tempatnya duduk saat ini. Karena Tari yang begitu fokus melihat ke arah Juna sampai ia tidak mendengarkan perkataan teman-teman Rima yang mengajaknya bicara.
Sekali lagi ia memandang Juna dan alangkah terkejutnya ketika matanya saling berpandangan dengan Juna. Juna melihat kearahnya dan segera mengenali siapa yang dilihatnya itu. Segera Juna menghampirinya. Sebenarnya Tari merasa sangat senang melihat Juna, tetapi ia menahan perasaan itu.
__ADS_1
"Kok kebetulan sekali ketemu disini Dek, bagaimana kabarmu? Lama sekali kita tak berjumpa" ucap Juna
"Aku baik-baik saja Kak, ini aku lagi nganterin temanku kesini. Kakak kesini sama mbak Mira ya?" ucap Tari berbasa basi.
Dari kejauhan Mira melihat Juna dan Tari yang sedang mengobrol, ia tampak biasa saja. Mira bahkan segera menghubungi Johan dengan saling berkirim pesan. Tak berapa lama kemudian Mira tersenyum, sepertinya ia baru saja mendapatkan sesuatu. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan mengambil tasnya. Ia segera menghampiri Tari dan Juna.Tiba-tiba Mira marah-marah tak jelas pada Tari.
"Hei kamu! dasar wanita perusak rumah tangga orang, berani-beraninya ya kamu godain suami saya lagi" ucap Mira dengan nada yang sangat tinggi.
Semua orang segera melihat ke arah mereka. Tari tak bisa berkata apa-apa karena ini sungguh diluar dugaannya.
"Mira kamu apa-apaan sih?" ucap Juna
"Aku tahu kok kamu berusaha menggoda suami aku, dasar pelakor, wanita murahan" ucap Mira
"Mira cukup!" teriak Juna
"Kenapa? kamu lebih pilih dia daripada aku?" ucap Mira,
"Hei kalian lihat semua wanita ini adalah perusak rumah tangga orang" Mira melanjutkan kata-katanya.
"Cukup Mira, cukup!" bentak Juna
__ADS_1
Tari hanya bisa menangis mendapat perlakuan seperti itu dari Mira. Ia segera berlari keluar, Rima segera mengikuti di belakangnya. Mira tersenyum puas setelah mempermalukan Tari di depan banyak orang. Juna segera menyelesaikan pembayaran makan malam bersama istrinya. Juna menarik lengan istrinya dengan keras. Mira meronta kesakitan diperlakukan Juna seperti itu.