
Di perjalanan Tari terus menangis, ia tak menyangka akan dipermalukan di depan banyak orang seperti itu oleh Mira. Rasanya begitu sakit atas tuduhan itu meskipun Tari sebenarnya sangat menyukai Juna tapi semua tuduhan itu benar-benar tidak sesuai kenyataan.
Sesampai di kost Tari segera masuk kamar, tak disangka Dina sudah berada di dalam kamar. Tak berapa lama ponsel Tari berdering, ternyata Juna yang menghubunginya. Ia enggan untuk mengangkat telepon, sampai berkali-kali tapi tetap tak diangkat.
Keesokan paginya Tari terbangun dengan mata yang sembab akibat menangis semalaman. Rima segera mencari sahabatnya itu, ia merasa bersalah karena telah mengajaknya ke acara itu yang membuat Tari mengalami kejadian yang sangat memalukan itu.
"Tari, kamu udah bangun. Maafin aku ya" kata Rima
"Kenapa kamu minta maaf Rim?" ucap Tari
"Aku gak nyangka kamu bakal mengalami kejadian memalukan seperti tadi malam" ucap Rima
"Ini semua bukan salah kamu, gak papa kok, aku baik-baik saja" ucap Tari
"Harusnya aku gak maksa kamu buat temenin aku ke acara itu Tar" ucap Rima merasa bersalah
"Gak papa kok Rim, beneran deh" ucap Tari meyakinkan
"Tenang aja Tar, aku udah bilang ke teman-temanku kalo itu semua nggak bener, mereka pasti akan percaya" ucap Rima
"Biarin aja mereka anggap aku kayak gitu, yang penting aku gak seperti itu" ucap Tari
__ADS_1
Tiba-tiba Nunung datang mencari Tari, ia mengatakan bahwa di depan kost ada seorang lelaki mencari Tari. Tari segera beranjak dari kamarnya dan langsung keluar, rupanya Juna telah menunggunya diluar. Tari ingin menghindar, tapi Juna menahannya.
"Dek Tari, tunggu. Jangan pergi. Aku ingin bicara" ucap Juna sambil memegang pergelangan tangan Tari
"Kakak kenapa kemari?" Tari bertanya dengan sedikit menunduk menghindari pandangan Juna
"Tolong maafin aku dan istriku ya Dek" ucap Juna
"Tolong jangan kemari Kak, aku tidak mau ada salah paham lagi" ucap Tari
"Dek Tari masih marah?" tanya Juna
"Enggak kok Kak, Tari nggak mau terjadi seperti kemaren lagi" ucap Tari "ya udah Kak, aku mau mandi, mau ke kampus, tolong Kakak segera pulang" ucap Tari sambil meninggalkan Juna.
Di lain tempat, Mira rupanya mengatur janji dengan Johan. Mereka bertemu di pantai yang ada di dekat jalan Diponegoro. Mereka berdua segera naik ke dalam mobil dan meninggalkan kota T. Mira tak ingin berlama-lama di rumah Juna. Ia meminta Johan agar membawanya pergi dari kota itu dan kembali ke rumah orang tuanya.
Hari semakin siang, Juna pulang di sela-sela jam istirahatnya. Sesampainya di rumah ia kaget karena Mira tak ada di rumah dan rumah dibiarkan dengan pintu terbuka begitu saja. Ia segera memasuki kamar, ternyata barang-barang Mira sudah tidak ada sama sekali. Juna menyadari bahwa istrinya pergi dari rumah. Ia segera menelepon Mira berkali-kali tapi tak satupun panggilannya diangkat oleh Mira. Ia semakin cemas, segera ia memberi kabar kepada pak Seno.
Tidak jauh berbeda dengannya, pak Seno pun kaget dengan kabar yang ia dengar. Pak Seno segera menutup teleponnya dan menyadari bahwa Mira pasti meninggalkan rumah bersama Johan, ia sangat marah dan segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah pak Seno tidak menjumpai anaknya, ia segera duduk di ruang tamu, sepertinya saat ini ia sedang menunggu anaknya pulang dengan penuh kemarahan.
Ya, dugaan pak Seno ternyata benar. Mira pulang bersama dengan Johan, dilihatnya dari balik jendela Mira sedang bermesraan dengan Johan layaknya orang yang saling jatuh cinta. Emosi pak Seno memuncak, ia segera keluar rumah dan tanpa basa-basi langsung menyeret Mira tanpa ampun. Mira menjerit minta tolong, tapi pak Seno menyuruh para petugas keamanan yang berjaga di rumahnya untuk mencegah Johan masuk.
__ADS_1
Pak Seno segera melempar Mira ke lantai, ibunya Mira dan asisten rumah tangga mereka yang mendengar segera berlari menuju ke arah suara jeritan itu. Mereka sangat kaget atas kedatangan pak Seno yang tiba-tiba bersama dengan Mira. Para asisten rumah tangga yang melihatnya segera kembali ke tempat masing-masing karena tak berani menyaksikan pertengkaran antara ayah dan anak itu. Ibunya Mira mencoba meredam kemarahan pak Seno, tapi sia-sia. Johan segera pergi setelah petugas keamanan menghentikannya masuk.
"Ayah, kenapa Ayah sangat kasar pada Mira?" tanya Mira
"Kamu masih bisa bertanya setelah apa yang kamu lakukan hari ini!" ucap pak Seno kesal
"Apa yang sudah aku lakukan? Apa aku berbuat kesalahan?" ucap Mira berteriak
"Kamu masih tidak merasa bersalah?" tanya pak Seno
"Apa salah jika aku pulang ke rumah orang tuaku sendiri Ayah?" Mira berbalik bertanya
"Rupanya kamu masih menganggap kami orang tuamu setelah kamu mempermalukan ayah dan ibumu seperti ini" ucap pak Seno
"Kapan aku mempermalukan Ayah?" tanya Mira
"Sebagai perempuan yang sudah bersuami, tidak seharusnya kamu kabur dari rumah suamimu bersama pria lain!" ucap pak Seno
"Oh jadi Juna sudah mengadu pada Ayah? Ayah lebih percaya omongan Juna daripada Mira" ucap Mira
"Apa yang kamu lakukan bersama Johan sejak kalian berada di luar rumah tadi, kamu pikir ayah tidak tahu kalian berciuman?" ucap pak Seno dengan penuh kemarahan
__ADS_1
"Jadi itu yang sudah membuat Ayah semarah ini? Tenang saja Ayah, sebentar lagi aku akan melayangkan gugatan cerai pada Juna" ucap Mira dengan nada tinggi
"Plak........" tamparan keras mendarat di pipi Mira, pak Seno sangat emosi mendengar perkataan anaknya itu sehingga tanpa sadar ia telah menampar Mira dengan keras. Mira hanya bisa menangis setelah mendapatkan tamparan keras dari ayahnya. Mira segera berlari masuk ke dalam kamar, sedangkan ibunya hanya bisa menangis melihat pertengkaran suami dan anaknya itu.