Aku Bukan Orang Ketiga

Aku Bukan Orang Ketiga
Bab 21 : Berusaha menerimanya


__ADS_3

Tari segera memakai sandal yang baru saja dibelikan oleh Pras untuknya. Ia segera memasukkan sepatu hak tinggi yang baru saja ia lepas itu ke dalam box kemasan sandal yang ia kenakan saat ini. Pras hanya bisa tersenyum melihat wanita tercintanya itu yang lebih suka tampil seadanya daripada harus memaksakan diri untuk terlihat anggun. Mobil melaju dengan kencang, di tengah perjalanan tiba-tiba Tari meminta agar Pras memperlambat laju mobilnya. Matanya mengamati mobil yang ada di depannya.


"Bukankah itu mobil milik Redy? Mau kemana mereka berdua," pikir Tari.


"Ada apa sayang? Kamu takut saat aku mengendarai dengan kencang?" tanya Pras.


"Bukan. Lihatlah itu mobil Redy. Maksudku Dina berada dalam mobil itu," jawab Tari.


"Teman kost mu?" tanya Pras.


"Iya. Sepertinya dia mau berbelok. Kita pelan saja," jawab Tari.


"Mereka memasuki gerbang hotel," ucap Pras.


"Ayo kita ikut masuk," ajak Tari.


"Kita mau ngapain ke hotel malam-malam gini? Lebih baik kita menikah dulu sayang," goda Pras.


"Memangnya kamu pikir kita mau apa? Sudahlah ikuti saja mobil itu" perintah Tari.


"Hahaha baiklah" Pras hanya tertawa-tawa melihat ekspresi Tari yang sedikit marah.


Pras segera mengarahkan mobilnya untuk masuk mengikuti mobil Redy. Mereka melihat mobil putih itu telah berada di parkiran, tak lama kemudian Dina dan Redy keluar dari mobil tersebut. Tari dan Pras masih bertahan di dalam mobil untuk mengamati mereka. Dina dan Redy berjalan menuju resepsionis, tak lama setelah itu mereka segera berjalan dipandu oleh seorang pelayan hotel tersebut.


Tari segera keluar dari mobil dan berjalan mengikuti mereka dari jauh. Ia berjalan dengan mengendap-endap agar Dina tidak melihatnya. Tari ingin memastikan apa yang akan Dina lakukan di hotel bersama Redy malam ini. Saat Tari berusaha mengintai mereka tiba-tiba seorang pelayan hotel menghampirinya untuk menanyakan apa yang ia lakukan disana.


"Selamat malam Nona, Nona sedang apa? Ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang pelayan tersebut.


Tari begitu kaget, ia bingung mau menjawab apa, selain itu ia juga takut bila Dina tahu bahwa ia telah mengikutinya.

__ADS_1


"Maaf Mas, dia istri saya. Kami sedang menghadiri acara di hotel ini" ucap Pras yang tiba-tiba datang menghampiri Tari dan pelayan tersebut,


Tari hanya terdiam tak bisa bicara apapun.


"Oh Tuan dan Nyonya akan menghadiri acara pesta yang diselenggarakan salah satu tamu kami malam ini?" tanya pelayan tersebut.


"Iya" jawab Pras.


"Mari kami antar Tuan dan Nyonya," ucap pelayan tersebut.


"Tidak usah, cukup tunjukkan kami arahnya saja," jawab Pras sambil memberikan uang tip untuk pelayan tersebut.


Pelayan tersebut segera memberikan arahan lokasi pesta diselenggarakan, Pras hanya mengangguk seolah paham dengan apa yang diucapkan oleh pelayan tersebut sedangkan Tari terlihat celingukan berusaha mencari-cari kemana perginya Dina dan Redy. Pelayan tersebut kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Apa kamu benar-benar akan menghadiri pesta disini?" tanya Tari sambil berjalan dengan cepat mencari kemana perginya Dina dan Redy.


"Tidak. Aku hanya ingin membantumu saja," jawab Pras.


"Aku hanya menebak. Aku melihat banyak orang berpakaian formal di parkiran sana. Aku pikir mungkin disini ada acara," jawab Pras.


"Untung saja dugaanmu tidak salah. Oh ya, kemana perginya mereka ya? Kita kehilangan jejak, tadi aku melihat cuma sampai disini, aku tidak tahu mereka belok kemana," ujar Tari.


Mereka berhenti tepat di pertigaan jalan, Tari dan Pras celingukan kesana kemari mencari Dina dan Redy, tak disangka seorang pelayan yang tadi terlihat mengantar Dina dan Redy tampak berjalan dari lorong sebelah kanan mereka.


"Apa mereka berdua kemari untuk menghadiri pesta ya?" gumam Tari pelan.


"Tidak mungkin. Lokasi pesta berada di ujung selatan sana. Mereka tidak akan berputar sangat jauh untuk menuju kesana," ujar Pras.


"Lalu, apa menurutmu mereka kesini untuk......," Tari tak ingin melanjutkan ucapannya, karena ia sendiri merasa malu dengan prasangka negatifnya itu.

__ADS_1


"Kita bisa menikah secepatnya, jadi kita tak perlu sembunyi seperti mereka untuk melakukan adegan delapan belas tahun ke atas" goda Pras.


"Apa sih kamu ini, nyebelin banget deh" ucap Tari sambil berlalu meninggalkan Pras.


Tari segera berjalan kembali ke mobil, Pras mengikuti di belakangnya sambil tersenyum-senyum sendiri melihat ekspresi Tari yang tampak malu. Mereka segera masuk ke mobil. Pras segera membawa mobil itu keluar dari area hotel tersebut.


Di tengah perjalanan Tari hanya berpikir tentang Dina. Ia kemudian teringat kembali tentang alat kontrasepsi yang pernah ia temukan di dalam lemari milik Dina. Tentang perubahan sikap dan sesuatu yang disembunyikan oleh Dina semuanya sangat mencurigakan. Tari semakin yakin dengan pikiran negatifnya karena menurutnya hal tersebut saling berkaitan. Karena terlalu memikirkan Dina, Tari tak sadar bahwa mobil telah berhenti di area parkir restoran Akar Wangi.


Pras membukakan pintu mobil untuknya, tetapi Tari tampak masih terdiam di dalam mobil. Sentuhan tangan Pras di bahunya membuyarkan lamunan Tari. Ia begitu kaget dibuatnya. Pras tampak mengulurkan tangannya untuk membantu Tari keluar dari mobil, Tari pun menerimanya. Ia segera bangkit dan keluar dari mobil itu.


Tari mengamati restoran itu dari luar, teringat kembali saat Mira mempermalukan dirinya di sana. Begitu sakit hatinya kala itu, sungguh ia tak bisa melupakan penghinaan itu sampai saat ini. Ia berdiri terdiam, matanya terpejam beberapa saat. Tari berusaha melupakan ingatan itu. Pras merasa heran dengan sikap Tari. Seolah paham, ia segera merangkul bahu Tari dan mengajaknya masuk ke dalam, tetapi Tari menahannya.


"Akar wangi," ucap Tari.


"Benar, kamu sering kesini?" tanya Pras.


"Pernah, hanya sekali," jawab Tari.


"Kenapa hanya sekali? Kamu tidak suka disini?" tanya Pras.


"Bukan seperti itu, disini terlalu mahal untuk mahasiswi seperti aku. Bisa-bisa jatah uang saku aku sebulan hanya untuk tiga kali makan disini," jawab Tari.


"Tapi masakannya enak kan?" tanya Pras.


"Ya pasti lah. Siapa juga yang mau makan dengan harga segitu jika masakannya tidak enak," jawab Tari.


"Baiklah, tak masalah. Yang penting kamu suka masakan disini," ucap Pras.


Pras segera menggandeng tangan Tari untuk masuk, Tari berjalan perlahan dan sedikit ragu, tapi ia tetap melangkah bersama Pras. Seorang pelayan segera menyambut dan memandu mereka ke tempat yang telah disediakan. Rupanya Pras telah memesan tempat itu sebelumnya. Saat ini mereka duduk di sebuah tempat khusus yang sudah disiapkan, hanya ada mereka berdua disana. Mereka duduk disamping kolam yang berhias lilin-lilin kecil di atasnya.

__ADS_1


Tari mengamati lilin kecil itu, entah mengapa kali ini ia malah terpikir sosok seorang Juna. Hatinya semakin kacau. Bukannya terlihat senang, ia malah tampak sedih melihat pemandangan yang ada di sekitarnya. Ia menatap wajah Pras, matanya berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak menahan emosi yang terpendam dalam hatinya. Ia tak sanggup berkata apapun. Tetapi baginya malam ini harus tetap berjalan dengan baik, ia tak ingin Pras kecewa dengan sikapnya. Saat ini ia hanya berusaha untuk menerima Pras dalam hidupnya.


__ADS_2