Aku Bukan Orang Ketiga

Aku Bukan Orang Ketiga
Bab 2 : Juna, aku berharap padamu


__ADS_3

Sejak pertemuan itu Tari dan Juna semakin akrab, dan saling bertukar nomor telepon. Juna adalah seorang lelaki yang cukup dewasa, dan pribadi yang bertanggung jawab. Usia antara Juna dan Tari terpaut sekitar lima tahun, mereka cukup sering berkomunikasi. Tari dengan keadaannya yang patah hati itupun mulai tak sungkan untuk bercerita masalah pribadinya. Tak disangka Juna adalah lelaki yang bisa menjadi pendengar yang baik, ia selalu


mendengarkan keluh kesah Tari yang manja dan kekanakan itu.


Sore itu Tari bersantai di belakang rumah kostnya bersama dengan teman-temannya.


“Eh Tari, aku lihat akhir-akhir ini kamu happy banget ya, katanya patah hati” ujar Rima


“Ya iyalah happy, kan Tari udah ada kak Juna yang setia mendengar curahan hati yang patah hahaha” sahut Dina menggoda Tari


“Ah apaan sih Dina sok tau banget deh” ujar Tari yang tersipu malu.


“Aduh ngaku aja deh, ntar keduluan orang baru tau rasa kamu” balas Ajeng sambil mencubit pipi Tari yang memerah itu.


“Enggak kok, kita cuma adek kakak aja beneran,” ucap Tari


“Ah aku nggak percaya sama sekali, masa adek kakak tiap malam telpon terus, aku aja sampe gak bisa tidur dengerin kamu ngobrol” balas Dina dengan penuh semangat.


“Emm….gimana yah, doain aja deh, semogaaa………semoga apa ya………..” ucap Tari sambil tersenyum manis


“Ciyeee.......yang lagi kasmaran” goda Rima


“Kak Juna, kak Juna Tari mengagumimu” sambung Ajeng sambil tertawa-tawa


“…ring…ring…ring” ponsel Tari berdering, segera diambilnya dan ternyata Juna menghubunginya.

__ADS_1


“Iya hallo,, ada apa Kak?” ucap Tari


“Kamu malam ini sibuk nggak dek?” tanya Juna


“Enggak kak, ada apa?” jawab Tari


“Eh aku mau ngajak kamu dek, itu di jalan Pattimura ada rumah makan seafood, katanya disana masakannya enak loh, mau kesana nggak dek?” tanya Juna lagi


“Emm,,,iya kak aku mau, jam berapa ya?” balas Tari


“Jam 7 aku jemput di kost kamu ya” kata Juna


“Iya kak, sampai jumpa” balas Tari


Hari mulai malam, Tari segera bersiap agar Juna tidak menunggunya terlalu lama saat menjemputnya di kost nanti. Ia segera berdandan rapi, tangannya pandai sekali menggunakan make up, dengan sedikit sentuhan saja dia tampak sangat cantik. Memang pada dasarnya Tari adalah seorang gadis yang cantik, kulitnya halus, putih bersih, dengan wajah ayu dan tubuh yang seksi, banyak lelaki yang terpesona dengan kecantikannya.


Tak berapa lama, Juna telah berada di depan kost Tari. Tari segera keluar dan berpamitan kepada teman-temannya. Mereka berdua segera pergi untuk makan malam sesuai janji. Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi Tari, karena ini pertama kalinya Juna mengajaknya keluar berboncengan menggunakan motor gede yang biasa dipakai Juna.


Malam semakin larut, Juna mengantar Tari sampai di depan kost, setelah itu ia segera berpamitan pulang. Tari yang sudah disambut oleh para sahabatnya segera masuk kamar dan menceritakan semua yang ia lakukan bersama Juna saat makan malam tadi. Ini begitu membahagiakan sampai merekapun ikut larut dalam kegembiraan yang dirasakan oleh Tari.


Ditengah malam itu Tari terbangun dari tidurnya, ia tak bisa melupakan senyum manis dari seorang Juna. Baginya Juna adalah seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab, sopan, dan bisa memahami dirinya. Satu hal yang


menjadi kelebihan seorang Juna adalah dia sama sekali tidak mengambil kesempatan dari seorang perempuan yang berjalan bersamanya. Tidak seperti kebanyakan lelaki yang pernah ia jumpai sebelumnya. Dia sangat menghormati seorang wanita.


Pagi menjelang, Tari segera bangun untuk bersiap pulang ke kampung halaman, begitupun Dina dan teman-teman lainnya segera bersiap karena libur semester akan segera tiba. Sudah lama ia tak pulang kampung rasanya sangat rindu. Tapi jika harus teringat masa lalu membuat hatinya teramat sakit.

__ADS_1


Bagaimana tidak, lelaki yang begitu ia cintai, Ardi tega menghianati cintanya. Dan yang menjadi orang ketiga antara Tari dan Ardi tak lain adalah sepupu Tari sendiri yaitu Fina. Fina adalah sepupu terdekatnya, dimana ia selalu menjadi tempat curhat Tari terutama masalah hubungannya bersama Ardi. Tapi mengapa mereka begitu kejam dengan menyembunyikan kebohongan, hubungan mereka telah terjalin selama berbulan-bulan sejak Tari menuntut ilmu di kota T. Seketika usai sudah persahabatan dan persaudaraan antara Tari dan  Fina yang telah terjalin sejak kecil. Semua tak tersisa, hanya ada kebencian yang mendalam. Melihat merekapun Tari tak sudi.


Lalu ketika harus pulang kampung, bagaimana Tari akan merasa nyaman melihat mereka? Rasa malu pada keluarga besar akibat ulah Ardi dan Fina sangat membuat Tari merasa tidak nyaman. Itu membuat Tari enggan untuk pulang kampung. Tapi mau bagaimana lagi, libur panjang sudah didepan mata. Tak mungkin bagi dirinya untuk bertahan di kost tanpa teman-teman, pasti ia akan sangat kesepian.


Seketika Tari teringat kembali pada Juna, segera ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Juna.


“Pagi kak Juna, apa kabar?” sapa Tari lewat telepon.


“Pagi juga dek, kok tumben pagi-pagi telpon kakak, ada apa?” sahut Juna


“Ah, gak ada apa-apa kak, aku Cuma mau ngucapin terimakasih sudah ditraktir makan sepuasnya sama kakak” ujar Tari


“Ah, sama-sama aku juga makasih sama adek udah mau temenin kakak makan” ucap Juna


“Kakak, hari ini Tari mau pulang kampung, Tari pasti kangen deh sama kakak” ucap Tari


“Hahaha……kok bisa itu loh” kata Juna sembari tertawa


“Ya sudah kak, aku tutup dulu telponnya ya kak” ucap Tari sambil buru-buru menutup teleponnya.


Ia tersadar dengan apa yang ia ucapkan barusan, “mampus deh, keceplosan, oh Tuhan…..apa yang sudah ku ucapkan, bikin malu aja, aku ini kan cewek, masa mengungkapkan perasaan seperti itu” gumamnya dalam hati.


Tak berapa lama anak-anak kost sudah mulai berhamburan keluar rumah meninggalkan kost untuk pulang ke kampung halaman masing-masing, tak terkecuali Tari dan Dina. Perjalanan satu semester ini terasa begitu sulit


bagi Tari, cukup menguras emosi.

__ADS_1


__ADS_2