Aku Bukan Orang Ketiga

Aku Bukan Orang Ketiga
Bab 22 : Aku bukan orang ketiga


__ADS_3

Sudah hampir dua jam mereka berada di Akar Wangi Resto, Pras dan Tari kemudian segera beranjak pulang ke kost. Pras memacu mobilnya dengan santai, ia sebenarnya tak ingin segera berpisah dengan Tari. Malam ini begitu berkesan baginya, ia merasa ingin sering-sering bertemu dengan Tari. Tari seperti candu baginya, semakin sering ia bertemu maka semakin ingin ia menghabiskan waktu yang lama bersama Tari.


Sejak pertama kali ia melihat Tari, ia merasa jatuh cinta padanya. Kegagalan hubungan Tari dan Ardi menjadi sebuah keberuntungan yang sangat besar baginya. Ia tak ingin melewatkan kesempatan emas begitu saja, sehingga ia harus meminta pada orang tuanya agar melamar Tari untuknya.


Di tengah perjalanan pulang Pras mengajak Tari untuk mampir ke sebuah toko kue. Ia sengaja berlama-lama disana agar bisa mengulur waktu supaya bisa tetap dekat dengan Tari. Tari yang sudah merasa kemalaman merengek untuk segera dipulangkan ke tempat kostnya. Mereka kemudian segera melanjutkan perjalanan.


"Kamu kerja dimana Pras?" tanya Tari.


"Aku tidak kerja dimana-mana," jawab Pras.


"Tidak kerja dimana-mana?" Tari begitu kaget.


"Tenang saja, aku bukan penikmat harta orang tua kok," ucap Pras sembari tersenyum.


Tari hanya terdiam.


"Aku menggeluti beberapa bisnis di bidang yang berbeda sayang," ucap Pras.


"Benarkah?" tanya Tari.


"Meskipun keluargaku orang berada, tapi aku tak ingin mengandalkan kekayaan orang tua. Aku ingin menafkahimu dari usahaku sendiri," jawab Pras.


Tari hanya terdiam mendengar ucapan Pras. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Pras adalah lelaki yang sangat mandiri. Menurutnya ini adalah satu poin positif dari Pras. Ia akan berusaha untuk mencintai Pras dan menghapus jejak Juna dalam hatinya.


Tak terasa mereka sudah dekat dengan kost, Pras merasa gelisah, ia memacu mobilnya dengan kecepatan rendah. Tiba-tiba Pras melihat mobil Redy mendahului mobilnya. Pras segera menunjukkan hal itu pada Tari. Tari melihatnya dengan teliti dan memang benar itu adalah mobil milik Redy.


"Mereka setiap hari keluar bersama, apakah setiap hari mereka juga kesana?" gumam Tari.


"Setiap hari?" tanya Pras.


"Iya setiap hari," jawab Tari.


"Biarkan saja, mungkin mereka sedang menikmati masa-masa bulan madu, hahaha" ujar Pras sambil tertawa.


"Kamu pikirannya negatif terus, kan belum tentu juga mereka tidur bersama" ucap Tari.


"Hahaha, baiklah kita mikir yang positif saja lah" ujar Pras.


Beberapa saat kemudian tibalah mereka di depan kost Tari. Disana mereka melihat Dina juga baru sampai di kost. Tari segera turun, tangannya membawa dua tas plastik berisi kue dan kotak sandal berisi high heels yang sempat ia simpan di perjalanan tadi.


Ia segera melangkah masuk membawa barang-barang tersebut ke kamar. Setelah ia meletakkan barang-barang tersebut di kamarnya ia segera keluar lagi menemui Pras. Rupanya Pras mengeluarkan sesuatu dari mobilnya. Tampak beberapa baju , tas, sampai peralatan make up. Tari merasa heran.

__ADS_1


"Ini semua untukmu sayang, aku sengaja belanja ini semua untukmu," ucap Pras.


Tari terpaku melihat semua itu.


"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Tari.


"Aku mencintaimu," ucap Pras.


"Mencintai tidak harus seperti ini Pras. Kalau kamu terus seperti ini aku akan mencintaimu karena uangmu, bukan karena hatimu. Apa kau ingin aku seperti itu?" ucap Tari.


Pras terdiam mendengar ucapan Tari, dia tersenyum bahagia. Wanita yang ia cintai ternyata memiliki pemikiran yang sangat baik. Ia semakin yakin bahwa ia tak pernah salah untuk memilih Tari sebagai calon istrinya meskipun ia harus menunggu dengan waktu yang lama.


Tari meninggalkan Pras begitu saja, tetapi Pras berusaha menahannya dengan memegang pergelangan tangannya. Pras berusaha meminta maaf, rupanya Tari tampak benar-benar marah. Tari tetap berjalan meninggalkan Pras, ia segera masuk dan mengunci pintu kamarnya. Dina yang telah berbaring di kasur hanya melihatnya dengan penuh keheranan.


Tak disangka Pras melihat Nunung keluar dari kamarnya, ia segera memanggil Nunung. Ia menceritakan apa yang telah terjadi antara dia dan Tari. Nunung cukup paham dengan masalah tersebut. Akhirnya Pras menitipkan barang-barang tersebut pada Nunung dan memintanya untuk membujuk Tari agar mau menerima barang-barang pemberiannya itu. Ia segera berpamitan untuk pulang.


Nunung segera membawa semuanya dan mencoba mengetuk pintu kamar Tari, tetapi Tari masih marah. Beberapa saat ia berdiri di depan pintu tetapi baik Tari maupun Dina tidak ada yang berusaha untuk membukakan pintu untuknya. Ia kemudian segera membawa barang-barang tersebut masuk ke kamarnya dan berencana untuk memberikannya pada Tari di lain waktu ketika amarahnya sudah mereda.


Dua jam kemudian Pras sampai di rumahnya, sejak tadi ia terus memikirkan Tari. Rasa cintanya semakin besar terhadapnya, ia semakin tak ingin kehilangan Tari. Ia akan berusaha untuk memahami Tari dengan baik agar tidak melakukan kesalahan lagi seperti yang telah ia lakukan tadi.


Malam telah larut, Tari tetap belum tertidur. Kini ia sedang memperhatikan Dina yang berada disampingnya. Sepertinya Dina sedang mengirim pesan kepada Redy. Ia semakin penasaran tentang apa yang telah Dina lakukan bersama Redy di dalam hotel itu. Ia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Dina.


"Din, kamu tadi habis ngapain sama Redy?" tanya Tari.


"Jalan kemana?" tanya Tari, ia memiringkan posisi tubuhnya menghadap Dina.


"Rahasia," jawab Dina.


"Rahasia? Kamu merahasiakannya dariku karena kamu pergi ke hotel bersama Redy kan?" tanya Tari.


Dina segera bangkit dari posisinya, ia segera duduk dan memandang Tari dengan penuh ketakutan.


"Kamu tahu darimana?" tanya Dina dengan gugup.


"Aku bertanya padamu, jawab dengan jujur. Apa yang sudah kalian lakukan di hotel itu?" Tari dengan tegas berbalik bertanya pada Dina.


"Aku tidak melakukan apapun," jawab Dina.


"Oh ya?" ucap Tari.


Tari segera bangkit dari posisi tidurnya. Ia segera melangkah membuka pintu lemari milik Dina. Dengan cepat ia meraih alat kontrasepsi yang tersimpan di sela-sela pakaian bertumpuk yang Dina simpan di dalam lemarinya itu. Tari membanting obat itu di depan Dina. Dina hanya terdiam, ia tak bisa berkata apapun.

__ADS_1


"Aku bisa menebak apa yang sudah kamu lakukan bersama Redy di tempat itu Din," ucap Tari.


Dina terdiam.


"Siapa Redy itu? Siapa wanita yang bertengkar denganmu itu?" tanya Tari.


Dina tetap terdiam, matanya berkaca-kaca.


"Aku harap kamu tidak bertindak bodoh Din, kamu pasti akan menyesal dengan apa yang sudah kamu lakukan. Kamu merusak dirimu sendiri, masa depanmu," ucap Tari.


"Redy akan menikahiku," ucap Dina sambil meneteskan air mata.


"Menikahimu? Benarkah? Lalu siapa wanita itu?" tanya Tari.


"Dia akan menceraikannya," ucap Dina.


"Jadi dia istrinya Redy? Sejak kapan kamu jadi bodoh seperti ini Din? Jika Redy benar mencintaimu, dia tidak akan merusakmu seperti ini," ujar Tari.


Dina terdiam.


"Dia tidak akan meninggalkan istrinya," ucap Tari.


"Aku rela jadi istri keduanya," ucap Dina sambil menangis.


"Dimana hatimu hingga kamu bisa menyakiti hati perempuan lain dengan menjadi orang ketiga dan merusak rumah tangganya?" tanya Tari.


"Kamu jangan munafik Tari, kamu sendiri bagaimana? Kamu juga merusak rumah tangga orang lain kan," ucap Dina.


"Apa maksud kamu Din?" tanya Tari.


"Kamu jangan berpura-pura baik di depanku Tar, aku tahu kamu yang merusak rumah tangga Juna dan istrinya. Kamu masih punya muka untuk mengatakan aku orang ketiga? Lihat dirimu sendiri Tari!" ucap Dina dengan nada tinggi.


Dadanya begitu sesak mendengar perkataan Dina, Tari menangis mendengar Dina mencaci maki dirinya.


"Aku tidak seperti itu," ucap Tari lirih.


"Aku dan kamu tak ada bedanya Tari, aku tahu sampai saat ini pun kamu masih begitu mencintai Juna, kamu jalan sama lelaki itu hanya untuk menghindari Juna kan? Kamu memanfaatkannya untuk kepentingan kamu sendiri, bukankah kamu lebih jahat dari aku?" ucap Dina masih dengan nada yang tinggi.


"Aku tidak seperti itu," ucap Tari sambil menangis.


"Hanya ada satu perbedaan antara aku dan kamu Tari, bedanya adalah aku bukan seorang pengecut seperti kamu. Aku mencintai Redy dan aku menghadapi kenyataan ini apapun yang terjadi. Sedangkan kamu, kamu hanya bisa lari dari kenyataan dan menyeret orang lain untuk ikut masuk dalam jurang kehancuranmu juga. Kamu egois Tari. Kamu bodoh, lebih bodoh dari aku," Dina terus memaki Tari.

__ADS_1


Seisi kost mendengar pertengkaran mereka. Tari yang tak tahan dengan caci maki Dina segera berlari keluar kamar, ia segera masuk kamar mandi. Tari menangis sejadi-jadinya tanpa mempedulikan penghuni kost lainnya. Hatinya begitu sakit. Keributan malam itu akhirnya membuat ibu pemilik kost datang ke kamar Tari dan Dina. Nunung segera mencari Tari untuk menenangkannya.


Ibu kost mengarahkan mereka untuk tidur terpisah malam ini. Nunung segera membawa Tari untuk masuk ke kamarnya. Rupanya Tari bersedia untuk tidur di kamar Nunung. Sampai dini hari pun Tari masih tetap tak bisa tidur memikirkan kata-kata Dina yang tadi ia dengar. Ia merasa bahwa ia tak pernah berusaha merusak rumah tangga Juna dan istrinya, akan tetapi tidak semua yang diucapkan Dina itu salah. Tetapi hatinya terasa begitu sakit, sakit yang teramat dalam.


__ADS_2