
Pagi ini Tari bersiap-siap untuk ke kampus, ia segera memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya. Buku-buku yang ada di rak begitu acak-acakan bercampur dengan buku milik Dina, terpaksa ia harus memilah satu persatu buku miliknya. Ia mencoba merapikan sekumpulan buku tersebut agar tidak kesusahan saat akan mengambilnya. Saat ia mencoba mengelompokkan buku-buku itu ia menemukan satu blister obat di dalam buku Dina, beberapa diantaranya telah kosong dan tinggal kemasannya saja, tetapi masih ada separuh lebih yang belum dikonsumsi.
"Obat apa ini? Apa Dina sakit ya?" gumam Tari
Ia segera mengambil obat itu dan ingin meletakkannya di lemari milik Dina, tetapi belum sampai ia meletakkannya di lemari tiba-tiba Dina merebut obat itu dari tangan Tari, itu membuatnya kaget.
"Dina, ternyata kamu sudah selesai mandi ya" ujar Tari
"Iya. Kamu ngapain buka lemari aku?" tanya Dina dengan gugup
Tari terdiam "Sejak kapan Dina keberatan aku membuka lemarinya? Bukankah biasanya Dina sering meminta aku membukanya untuk mengambilkan barang-barangnya?" gumam Tari dalam hati
"Aku cuma mau meletakkan obatmu di lemari kamu" jawab Tari dengan perlahan
"Kamu kok belum berangkat sih jam segini?" tanya Dina berbasa-basi
"Aku nungguin kamu, katanya kamu mau berangkat ke kampus bareng aku" jawab Tari
"Ah iya, aku siap-siap dulu. Kamu udah selesai ya? Tunggu aku di luar ya" ucap Dina sambil mendorong tubuh Tari keluar kamar dengan pelan.
Tari segera keluar dan Dina segera menutup pintu kamar dengan rapat. "Ada apa sih Dina? Aneh banget hari ini" gumam Tari pelan.
Tari segera melangkah keluar rumah, diluar ternyata telah ada beberapa teman kostnya diantaranya Yessa, Nunung, Rima dan Ajeng. Mereka sedang bercakap-cakap sambil memakai sepatu bersiap untuk pergi ke kampus. Tari segera berbaur dengan mereka.
"Rima, kamu tahu nggak Dina sakit apa?" tanya Tari pelan-pelan karena takut terdengar teman yang lainnya
"Sakit apa? Aku nggak ngerti sama sekali tuh" jawab Rima pelan
"Oh, Dina nggak pernah cerita apapun ya sama kamu?" tanya Tari
"Enggak, Dina akhir-akhir ini nggak pernah cerita apapun ke aku" jawab Rima
"Sama" ujar Tari
"Oh iya, kok kamu tahu kalo Dina sakit? Aku lihat dia sehat-sehat aja tuh" ujar Rima sangat pelan
__ADS_1
"Eh, kalian berdua ngomongin apa sih, rahasia banget kelihatannya" ucap Yessa
"Iya tuh, main rahasia-rahasiaan aja" sahut Nunung menimpali
"Enggak kok, bukan masalah rahasia" ucap Rima berkilah
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan kost, mereka saling bertanya mobil siapakah itu karena tak ada yang mengenalinya. Seorang lelaki keluar dari mobil tersebut. Tari tampak terkejut, tanpa berkata sedikitpun ia segera masuk ke dalam kost berniat menghindari lelaki tersebut, tetapi lelaki tersebut telah melihat ke arahnya. Ya, dia adalah Pras.
"Selamat pagi Mbak" ucap Pras pada keempat gadis yang masih ada di sana dengan sangat sopan
"Pagi, Mas mau cari siapa ya?" tanya Nunung
"Saya mau ketemu sama Tari mbak" jawab Pras
"Oh iya, tunggu sebentar mas saya panggilkan dulu" ucap Yessa
Yessa segera masuk memanggil Tari. Sebenarnya Tari menolak untuk bertemu dan meminta Yessa untuk berbohong kepada Pras kalau dia telah berangkat ke kampus sejak tadi, tetapi Yessa menolak untuk berbohong. Dengan terpaksa Tari keluar dan menemui Pras di depan kost. Keempat gadis itu kemudian segera berangkat ke kampus dan meninggalkan Tari yang sedang menemui Pras.
"Kamu tahu dari mana kalau aku kost disini?" tanya Tari
"Hmm, dasar diktator sialan" Tari menggerutu lirih
"Apa?" tanya Pras sambil tersenyum
"Bukan apa-apa" jawab Tari
"Oh iya, aku bawakan sesuatu untuk kamu" ucap Pras, ia segera berbalik ke mobil dan mengambil sesuatu. Pras menenteng dua buah tas berukuran sedang di tangan kirinya dan buket bunga di tangan kanannya.
"Ini untukmu Tari" ucap Pras sambil memberikan tas dan bunga yang telah ia bawa.
"Apaan sih kamu" ucap Tari, ia merasa kesal karena Pras memperhatikannya dengan sangat berlebihan.
"Aku mohon, pakailah ini besok malam, aku akan datang menjemputmu jam tujuh malam" ucap Pras
Tari hanya terdiam
__ADS_1
"Tari, kamu mau kan?" tanya Pras
"Orang ini seenaknya saja, dia pikir aku ini bonekanya?" ucap Tari dalam hati
"Tari, kok kamu malah ngelamun sih. Kamu mau kan?" tanya Pras sekali lagi
"Iya" jawab Tari dengan separuh hati
Tari segera membawa masuk barang-barang yang dibawakan oleh Pras, saat akan membuka pintu kamar tiba-tiba Dina keluar dengan terburu-buru, ia segera berlari tanpa menghiraukan Tari sama sekali. Tari segera masuk kamar dan meletakkan barang yang ia bawa, ia segera berlari mencoba menyusul Dina. Tetapi ternyata pagi ini Redy telah menunggunya di pinggir jalan seperti biasanya. Tari ingin memanggilnya, tapi ia mengurungkan niatnya. Sepertinya Dina telah sangat berubah sejak ia mengenal Redy, ia seolah menarik diri dari teman-temannya di kost. Pagi ini pun Dina mengabaikan janjinya pada Tari untuk berangkat ke kampus bersama karena ada Redy yang menjemputnya. Tari hanya memandang mobil Redy yang telah berlalu membawa pergi temannya itu.
"Hei, sayang kamu lihat apa?" tanya Pras
"Apaan sih kamu, nyebelin banget. Jangan panggil aku kayak gitu" jawab Tari dengan ketus
"Kenapa aku gak boleh panggil kayak gitu?" goda Pras
"Udah ah, aku mau ke kampus" ujar Tari
"Aku anterin ya" kata Pras
"Enggak usah" ujar Tari
"Ya udah kalau gak boleh anterin kamu, aku akan ikut ke kampus" kata Pras
"Ah, apaan sih kamu, enggak boleh ikut!" ucap Tari
"Kalo gak boleh ikut aku akan tinggal di kost kamu, aku akan tungguin kamu sampai pulang nanti dan akan tetap disini" ujar Pras
"Kamu ini ternyata susah dibilangin ya" ucap Tari
"Semakin kamu menolak aku akan semakin memaksa" goda Pras sambil tersenyum-senyum
"Ih, bodo amat, capek ngomong sama kamu" ucap Tari sambil meninggalkan Pras, tetapi Pras mengikutinya dari belakang.
Tari merasa jengkel karena Pras mencoba mengikutinya berjalan. Tari tetap berjalan tanpa menghiraukannya. Pras mencoba mengajaknya ngobrol tetapi Tari tetap diam tak menjawab sepatah kata pun. Tak berapa lama ada angkot yang lewat dan berhenti di depan mereka, Tari segera menaiki angkot tersebut. Tak disangka Pras juga ikut naik ke dalam angkot tersebut. "Oh Tuhan, ini cowok kenapa sih ngikutin terus" ucap Tari pelan. Tari hanya bisa pasrah saat Pras benar-benar mengikutinya berangkat ke kampus.
__ADS_1