Aku Bukan Orang Ketiga

Aku Bukan Orang Ketiga
Bab 11 : Seperti ini saja aku sudah bahagia


__ADS_3

Mira tak menyangka bahwa ayahnya akan memperlakukannya seperti itu. Ia menangis didalam kamarnya dan segera menghubungi Johan. Mira meminta agar Johan segera menjemputnya lagi dan Johan menyanggupinya. Terdengar suara ayahnya yang sedang memarahi ibunya, Mira mengintip dari balik jendela dan melihat petugas keamanan di depan rumahnya masih duduk di luar, ia segera mencari cara untuk kabur dari rumah.


Tak berapa lama ia menemukan cara untuk kabur. Mira memanggil seorang petugas keamanan itu dan memintanya untuk membelikan sesuatu di swalayan dekat rumahnya. Setelah petugas keamanan itu pergi, ia cepat-cepat membawa kopernya keluar, rupanya Johan telah menunggu di luar pintu gerbang. Mira segera memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil dan segera pergi dari sana bersama Johan.


"Mira, kamu mau tinggal dimana?" tanya Johan


"Aku nggak tahu Han" ucap Mira


Johan memegang tangan Mira, kali ini Mira merasa sangat diperhatikan oleh Johan, suasana hatinya berangsur membaik, ia segera menceritakan apa yang telah dilakukan ayahnya kepadanya.


"Johan, Ayah begitu marah padaku" ucap Mira


"Ayahmu tahu apa yang kita lakukan tadi?" tanya Johan


"Iya, dia memarahiku karena itu" jawab Mira


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan setelah ini?" tanya Johan


"Aku belum tahu, yang pasti untuk saat ini aku tidak ingin pulang ke rumah Juna ataupun orang tuaku" jawab Mira


"Kamu sudah menemukan tempat tinggal?" tanya Johan


"Belum" ucap Mira sambil menggelengkan kepala


"Bagaimana kalau kamu tinggal di apartemenku? aku punya apartemen di dekat sini" ucap Johan menawarkan


"Bolehkah?" tanya Mira


"Tentu saja Mira, apa sih yang enggak buat kamu" ucap Johan


"Lalu kamu tinggal dimana?" tanya Mira


"Aku bisa tinggal di rumah orang tuaku" ucap Johan

__ADS_1


Mereka segera menuju apartemen milik Johan. Sementara itu di rumah Mira, ayahnya telah mengetahui bahwa anaknya telah kabur. Ayah Mira semakin emosi, ia berusaha menghubungi ponsel Mira, tapi rupanya Mira tak mengangkatnya sama sekali meski telah berkali-kali dihubungi. Seisi rumah sangat panik dan berusaha mencari Mira dengan menghubungi teman-teman terdekatnya. Tetapi tidak ada yang tahu keberadaan Mira.


Malam itu Juna datang ke rumah kost Tari, seperti sebelumnya ia berusaha untuk meminta maaf pada Tari atas kejadian kemaren malam. Tari tak bisa berkata apa-apa, ia hanya terdiam mendengarkan ucapan Juna. Melihat Tari yang tetap diam Juna akhirnya membuka percakapan dengan topik yang lainnya.


"Dek, kost nya kok sepi nggak seperti biasanya, anak-anak yang lain pada kemana?" tanya Juna


"Teman-teman pada keluar Kak" jawab Tari


"Kamu sendirian di kost?" tanya Juna


"Iya Kak" jawab Tari


"Eh, adek tadi udah makan?" tanya Juna


"Udah" ucap Tari berbohong


"Tapi sayangnya kamu gak pinter bohong loh dek, kelihatan kok, hahaha" ucap Juna sambil tertawa, Tari hanya tersenyum malu saat ketahuan bahwa ia telah berbohong.


"Ya udah, cepet siap-siap sana, aku ajakin kamu keluar" ucap Juna


"Makan" ucap Juna singkat sambil tersenyum


"Loh, trus istrinya Kakak gimana? nanti nyariin  Kakak loh" ucap Tari


"Mira lagi pulang ke rumah orang tuanya" ucap Juna


"Loh Kakak kok nggak ikut?" tanya Tari polos


"Kan harus kerja, kerjaannya gak bisa ditinggal dek. Ya udah ayo cepat siap-siap, nanti kemalaman loh dek!" ucap Juna


"Iya Kak, tunggu sebentar ya" ucap Tari


Malam itu mereka berdua pergi makan malam di dekat pantai sambil menikmati pemandangan bulan purnama. Air laut sedang pasang, sehingga percikan ombak membasahi pakaian yang dikenakan oleh Juna dan Tari. Tapi tampaknya mereka tidak begitu menghiraukan karena asyik mengobrol. Suasana yang tadinya kaku kini mulai mencair, Tari pun tak sungkan untuk bercerita masalah pribadinya lagi dan lagi.

__ADS_1


Malam semakin larut dan Juna telah mengantarkan Tari ke tempat kostnya, ia segera pulang dan beristirahat. Sedangkan Tari tampaknya tak bisa tidur, lagi-lagi ia terjebak dengan perasaannya. Entah mengapa tiba-tiba ia menangis, ia tahu bahwa perasaannya tak mungkin terbalas.


Keesokan paginya Tari akan segera berangkat ke kampus, tak disangka Juna telah berada di depan kost menunggunya.


"Loh, kakak kok ada di sini?" tanya Tari spontan


"Kaget ya?" ucap Juna


Tari hanya terdiam tak bisa menjawab sepatah kata pun.


"Aku kesini mau kembaliin ini" ucap Juna sambil mengembalikan sebuah kunci


"Oh, ya ampun. Iya Kak, aku kelupaan" ucap Tari sambil tertawa


Juna segera mengembalikan kunci itu


"Itu kunci apaan dek?" tanya Juna


"Kunci kamar" jawab Tari singkat


"Loh, terus tadi malam tidur dimana?" tanya Juna


"Ya tidur di kamar lah" ucap Tari sambil tersenyum


"Kok bisa? Kuncinya kan sama aku?" tanya Juna keheranan


"Kuncinya kan gak cuma satu Kak, Dina juga punya. Jadi kemaren Dina pulang lebih dulu dari aku, makanya aku tinggal nyelonong masuk aja, gak kepikiran kalo kuncinya aku titipin di jok motor Kakak kemaren" jawab Tari


"Kamu sih pikun" ucap Juna menggoda Tari


"Kakak juga sama, pelupa. Jadi gak usah nyalahin Tari dong" ucap Tari sembari tertawa


"Oh ya, kamu mau berangkat ya Dek? Aku anterin ya, sekalian aku mau berangkat kerja" ucap Juna

__ADS_1


"Oke, makasih Kak" ucap Tari.


Juna segera mengantar Tari ke kampus. Tari sangat senang, ia mengabaikan semua pikirannya tadi malam. Baginya bisa melihat Juna bahagia dan tetap bisa berteman baik dengannya itu sudah merupakan anugerah terindah buatnya.


__ADS_2