
Andri dan isan tengah meluap emosi satu sama lain,Kini wajah mereka memerah menahan amarah.
" Sungguh aku gak akan ikhlas kalau kamu yang dekatin dira!". Tegas isan.
" Kamu gak akan tau apa yang gadis itu lewati,sampai detik ini sejauh mana engkau mengenalnya. Pikir pake otak,kamu juga nyakitin dia! Kamu punya pacar yang jelas masih suka ngejar dia!". Degus Andri.
" Setidaknya aku jujur sama dia,apa kamu sudah ngomong kedia? Hahaha sifat kamu sangat busuk an!". Ujar isan sambil tertawa nyengir.
" Setidaknya, dia selalu tersenyum bersama ku! dan kamu gak ada hak melarang aku mendekatinya!". Tegas Andri.
" Kalau dia sama kamu,aku takkan pernah ikhlas dan akan aku pastikan . Kebusukkan kamu terungkap!". Ujar isan.
Andri meninggalkan isan,lalu masuk didalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya ,yang terasa lelah sekali. Ia menatap Adi ,pria itu sangat pendiam dan tertutup. Ia hanya mengenggam Al-Qur'an dan menghafal kalam didalam kitab tersebut.
" Dia hafidz rupanya!". Pikir Andri, seketika ia terlelap mendengar lantunan kalam suci yang Adi bacakan.
Isan masih merenung di teras,sambil mengusap gusap wajahnya. Sosok dira ,sangat berpengaruh dalam hidupnya.
" Dia tidak mengetahui masa lalu mu dir. Kamu akan kembali terluka dir,kalau ia memaksa masuk di hatimu! Tiada saat ini yang jelas mengenalmu ,selain aku adira". Batin isan,rasanya kepalanya berat dan sakit.
"Brukkkk.."
Tubuh isan terhempas jatuh ke lantai,Adi yang mendengar ada suara di depan,langsung berhambur keluar.
Mata mahasiswa kedokteran ini membulat tajam,melihat tubuh isan tergeletak pingsan.
" Andri...Andri...! ". Pekik Adi,sehingga Andri terperanjat dari tidurnya,dan langsung menghampiri Adi.
Adi langsung memeriksa tubuh isan,ia pingsan. Andri langsung mendekati Adi ,mereka mengotong tubuh isan ke kamar.
__ADS_1
Dibaringkan tubuh isan di tempat tidur,lalu membuka jendela dan menghidupkan kipas,biar udara segar dapat segera menyadarkan isan. Diolesi sedikit minyak angin aroma terapi di ujung hidung isan.
Adi tau ,isan pingsan karena stress. Andri melihat kondisi isan agak sedikit iba,ia membantu menjaga isan sampai pria itu sadar.
Adira mendengar suara keributan didepan ,langsung berhambur keluar. Ia melihat tubuh isan digotong oleh kedua pria . Isan pingsan,ia menghentikan langkahnya. Karena,Adi memberi isyarat untuk jangan masuk.
Adira merasa tida tenang,tangannya sedari tadi basah karena gelisah.
" Aku harus menghubungi Andri! ". Ucap dira,lalu menekan tombol panggilan. Tersambung ,lalu terdengar suara pria tersebut.
" Hallo..Assalamualaikum an?". Ucap dira.
"Waalaikumussalam dir,ada apa?". Tanya Andri.
" Isan kenapa? sakit apa dia?". Tanya dira khawatir.
" Gimana kondisinya sekarang? ". Tanya dira.
" Masih tiduran,mungkin sebentar lagi siuman!". Ucapnya dengan nada datar.
"Andri gak suka kalau dira nanyain isan sama andri?". Ucap dira merasa Andri tidak tertarik membahas masalah isan.
" Gak kok dira,Andri cuma lagi kecapean aja kok!". Jawab Andri, sedikit berbohong.
" Yaudah deh,dira mau keluar dulu! ". Ucap dira hendak mengakhiri obrolan.
" Ayoklah andri temanin dira,mumpung masih sore ni!". Ajak Andri.
"Yakin gak apa an,tapi katanya capek?". Tanya dira memastikan.
__ADS_1
" Yaudah ayolah sekarang!". Ucap dira,dan keluar dari dalam kamar menuju teras.
Ia melihat Andri menggunakan jaket denim biru tua,dengan celana jeans dongker.
" Tumben siapnya cepat?". Ujar Andri sabil menyunggingkan senyuman termanisnya.
"Ngapain cantik depan andri!". Ucap dira sambil menjulurkan lidahnya.
" Mau hilang malam ini,sebelum esok kita sibuk proker ke kantor desa?". Ujar Andri menunggu persetujuan dira.
" Ayoklah an,emang mau kemana?". Tanya dira penasaran.
"Gak kejutan namanya,kalau sudah dikasih tau diawal". Ucapnya sambil menghidupkan motornya.
" Seriuslah...?". Tanya dira memastikan dan duduk di atas motor. Lalu,mereka menghilang dari posko.
Adi menatap kepergian mereka dibalik jendela kaca, pria ini memang tidak banyak bicara, wajah tampan yang ia miliki tertutupi dengan sikap dingin dan kaku. Bahkan tiada yang tau ,seperti apa Adi tersenyum dan tertawa.
Adi masih telaten menunggu isan sadar,sekali-kali ia kembali membuka Al-Qur'an dan membacanya.
Dira dan Andri menikmati senja dengan mengelilingi desa,hingga kekota dengan sepeda motor tersebut.
Tempat mereka kunjungi masih dirahasiakan oleh Andri,ia sangat antusias membawa dira pergi.
Ditatapnya gadis itu dari kaca spion,senyuman dira masih bertengger manis di wajahnya. Sangat menggemaskan ,surai hitam pekatnya tergerai dan melambai-lambai tertiup angin.
Bersambung...
like,comment, dan favorite ya? I love you all,thank you for reading my stories..
__ADS_1