Aku,Kamu dan Senja

Aku,Kamu dan Senja
8.Terungkap berlahan


__ADS_3

Adira sudah selesai menggantikan baju dengan stelan yang santai,baju putih kaos pendek lengan,dengan celana jeans navi.Dira mengkuncir rambutnya sehingga,memperlihatkan lehernya yang putih.


Dira mengambil jaket army dan topi di gantungan di belakang pintu,dan bergegas keluar. Sebelum pergi dira masih memastikan penampilannya di kaca,tidak lupa ia memoleskan sedikit bedak dan lipstik. Lalu menyemprot minyak wangi seluruh tubuhnya.


Sampai di teras Adira melirik kekanan dan kiri,mencari sosok Andri.


"Baaaa...!". Andri mengejutkan Adira dari belakang.


" Aaaaaaaaa...!". Pekik Dira karena terkejut. Dira memukul Andri karena kejahilannya tersebut.


Andri tertawa terbahak-bahak,sambil keluar dari posko. Mereka melajukan motor untuk bergegas mencari makanan.


"Kita beli makan mau dimakan disana atau diposko?". Tanya Dira kepada Andri yang sedang fokus mengendari motor.


" Kita makan diposko saja, karena bendahara kita udah nitip uang makan kita. Jadi,aku ngajak kamu aja nyarinya. Biar kamu yang gotong nasinya dibelakang!". Ujar Andri sambil tertawa.


"Ngajakin Dira hanya buat gotong nasi? ihhh Andri tega deh,ngebanguni Dira cuma buat nemanin bawa nasi aja. Kalau gitu gak usah dira cantik-cantik lagi!". Degus Dira kesal,dan tampa sengaja memukul mukul punggung Andri. Andri hanya tertawa melihat tingkah gadis di belakang nya melalui kaca spion.


Mereka membeli makanan untuk semua rekan yang ada diposko, Andri memasukkan nasi di jok motornya yang lebar. Lalu,ia mengajak Adira ke sebuah warung.

__ADS_1


" Es krimmmm!". Pekik Dira kegirangan seperti anak kecil.


"Ayo dir,Andri traktir es krim mau?". Ajak Andri,mempersilahkan Adira masuk setelah ia membuka pintu. Dira menggangguk setuju.


Mereka memesan satu mangkok es krim coklat vanila dengan toping yang banyak. Andri tanpa sadar menyentuh tangan kiri Adira . Adira menoleh dan langsung menarik tanganya.


" Jangan..jangann..jangann muncul sekarang. ". Batin Dira, sesaat psikosomatis nya kumat kembali.


Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya,tanganya sudah bergetar hebat. Di lepaskannya sendok yang ia pegang. Andri melihat gelagat Adira berbeda langsung mendekati gadis itu.


" Berhenti! ". Ujar seseorang dari luar,hingga Andri menoleh kearahnya.


" Isan..!". Tutur Andri terkejut.


Brukk..


tubuhnya hampir terhempas lantai,Andri langsung menyambut pinggang gadis itu. Isan membantu Andri membukan pintu,mereka langsung membawa Adira ke rumah sakit dengan menggunakan mobil,yang sebelumnya meminta tolong dengan salah seorang mengunjung.


Selang infus melekat di urat tangan Dira. Andri masih tampak setia menjaga Adira sampai terjaga. Rahasia seperti apapun bila sembunyikan akhirnya terungkap juga. Masalah psikis Adira sudah diketahui oleh Andri dari dokter dan juga Isan. Namun tidak cerita dibalik psikosomatisnya.

__ADS_1


Isan pulang, membawa motor Andri. Karena didalam jok motor ada makanan yang harus segera dimakan. Isan merasa Andri sengaja menjauhkannya dari gadis itu.


Andri menggenggam jemari Adira,yang masih belum siuman. Gadis itu sangat tidak berdaya. Ada rasa iba dan penasaran sekaligus di benak Andri.


Masalah seperti apa yang membuat seorang Adira seperti ini,dan orang yang seperti apa yang meregut senyuman dan tawa gadis lucu ini.


Andri merasa sangat lelah,hingga terlelap dengan terus menggenggam jemari Adira. Berlahan jemari Adira mulai bergerak. Netra hitam adira mulai membuka,pandangannya belum sepunuhnya fokus. Ia merasa tanganya berat,dan menoleh.


"Andri...". Ujarnya dengan lirih ,bahkan tidak terdengar sama sekali.


Dira hendak menyentuh rambut Andri yang acak-acakkan. Namun,Andri bergerak menunjukkan ia segera bangun. Adira kembali menarik tangannya dan menutup matanya.


" Dir..ayo bangun,jangan begini. Sungguh ,liat kamu gini nyiksa aku banget!". Ujar Andri lirih,sambil mencium jemari Adira.


Adira membuka matanya berlahan, matanya berkaca-kaca dan menetea buliran air mata. Andri melihat hal tersebut langsung memeluk tubuh Adira.


"Ssttttt . .jangan nangis,kamu gak boleh nangis. Jelek tau! Kamu boleh ceritakan semuanya ke aku dan kapanpun itu. Jangan pendam lagi,kamu ada aku yang peduli kok!". Ujar Andri sambil mengelus punggung Dira dengan lembut.


Isak tangis adira semakin pecah,ia mendekap dipelukkan Andri hingga ia tertidur lelap kembali.

__ADS_1


Bersambung..


like,comment and favorite kan..


__ADS_2