
(As Irsan).
Aku semakin mengenalnya semakin membuatku sulit berkata dan bersikap wajar-wajar saja padanya,karena aku selalu memperhatikannya.
Mungkin beberapa mata selalu berhasil menangkap basah aku sedang menatap gadis itu. Peduli apa dengan mereka,aku tak pernah peduli dengan ucapan orang lain dengan segala bentuk penilaian mereka terhadapku.
Entah apa yang merasuki diriku,aku mengungkapkan perasaanku pada dira melalui obrolan telponan kami. Aku menceritakan sebagian kisah hidupku,dira dengan telaten mendengarkan,bahkan sesekali memberi masukkan dan menyemangatiku.
Aku tak tau jika saat ini membuat ku melampiaskan ke dira,bahwa aku sedang berada dititik terendahku. Aku membuat gadis itu menangis,aku bukan pria baik kini batinku sedang mengutuk kebodohanku.
(As Adira).
" Kamu egois san,kamu sanggup melampiaskan semuanya padaku. Aku berusaha agar kamu nyaman dan kembali baik saat ini. Kamu memang sulit ku pahami,aku yang tidak mengerti atau kamu sengaja membuatku seolah menjadi sumber dari kekesalanmu dan menjadi deretan bagian dari badmoodmu!". Ujar dira dari telpon,dan Dammmm! gadis ini selalu tepat sasaran mengenaiku.
__ADS_1
" Dir,aku gak tau entah apa yang aku rasakan saat ini. Hubunganku denganya memburuk!". Ujar ku melemah seketika.
" Kamu sekarang maunya gimana? kamu gak bisa dong menginginkan dua wanita sekaligus,kami bukan mainan san. Tolong tegas saja,jangan membuat aku ikut bersalah pada gadis itu. Kalau kamu bersamanya aku tetap mendukungmu dan menghilang dari kamu,dan kuharap itu keputusan terbaik!". Ujarnya membuat ulu hatiku makin sakit.
" Aku ta bisa membiarkannya begitu saja dir,aku menyayanginya. Mamaku selalu berkata jangan sakiti hati wanita,karena itu sama sakitnya menyakiti mama! Aku harus bagaimana dir,aku seegois ini karena aku takut kehilangan! ". Ucapku mulai frustasi.
" Sudah ya san,dira ngalah aja. Dira gak suka ribut,dan sekarang lebih baik kita gak usah lagi kontekan dan jalani aja seperti biasa saja. Jangan lagi kaitkan perasaan,dengan begitu isan bisa memberi jeda buat diri isan sendiri!". Ucapnya kali ini jauh memukul diriku, ia inginkan perpisahan tanpa aku mau.
" Dira gak usah merasa canggung lagi,dan biarkan isan yang menjauh. Isan akan ikut kkn tahun depan,agar dira tidak lagi melihat isan yang pengecut ini! Isan akan bilang ke mama,kalau isan akan kkn tahun depan!". Ucapku merasa sudah dititik nol rasanya.
" Apakah itu tidak berlebihan san,memilih mundur kkn hanya perkara ini? kita masih bisa berteman,lantas mengapa harus mengorbankan ini semua?". Ujar dira protes, merasa kalau keputusan ku terlalu kekanak-kanakan.
" Jangan seperti ini san,jatuhnya membuatku bersalah. Masa gara-gara ini isan gak kkn! Okey ,dira gak bakalan ninggalin isan . Isan boleh dekatin dira seperti biasa,dan maaf banget ucapan dira sebelumnya. Dan kembali lagi buat lanjut kkn ya?". Pujuk dira,tapi tidak mengurangi rasa kecewa.
" Dir,isan udah berusaha yakinkan mama,kalau isan akan kkn tahun depan saja! Dira gak salah apapun kok!". Ucap ku meyakinkan dira,kalau keputusanku bukan karenanya. Ya,walau kebenarannya memang aku lakukan demi dia.
" Yaudah gini deh san, boleh dira meminta nomor mama isan? biar dira usahain pujuk agar isan kkn tahun ini bareng dira! Tolonglah jangan membuat dira merasa bersalah,kalau isan gak abil tahun ini dirapun juga sama!". Ujar dira sedikit memberi penekanan pada bagian kata yang membuat aku berpikir keras.
__ADS_1
" Aku sudah susah payah yakin kanama dir,oh ya mama juga udah tidur!". Ucapku sedikit melindungi keputusan ku.
" Hmm baiklah,sekarang aku harus apa membuatmu tidak begini lagi! aku tak paham san,jujur aku tak tau bagaimana perasaanku padamu! Tapi, aku sadari ini tak bisa ku teruskan! aku kagum dengan kebaikkan mu dan kamu orangnya humble ,selalu bersikap friendly!". Ujarnya membuat ku sedikit melunak,ia benar aku tak seharusnya bersikap begini. Menjadi tidak etis dan tidak profesional antara masalah pribadi dan urusan studyku.
Inilah awal keretakkan kami,namun aku berusaha melupakannya. Aku merasa tidak bisa sedekat dulu,hingga kami sudah jarang komunikasi. Oh ya,hal ini terjadi sebelum aku berangkat survey.
Kalian tau rasa lelahku hilang saat pulang dari survey dan menggas motorku ke kostnya,padahal rasanya badanku remuk redam. Melihat rona wajahnya yang menawan selalu membuat hatiku tertawan.
Aku menceritakan pengalaman di tempat kami survey, ia pun akan pulang ke kampung sebelum keberangkatan kkn tersebut.
Semejak ia pulang kami benar-benar tidak lagi saling chat,dan tiada lagi dering telpon ku berbunyi saat telpon darinya. Entahlah aku merasa cukup egois padanya,dan mengulangi ha yang sama ke pada indi. Ya,diam-diam aku sering chat indi. Berkali-kali menelpon untuk melupakan dira,jahat ya ? aku menyadarinya,harus bagaimana lagi. Aku terpaksa melakukannya untuk melindungi diriku sendiri.
(As Indi).
# Bersambung..
__ADS_1
# Like dan comment ,butuh masukkan dan dukungan dari reader..
# Jangan lupa singgah di novel ku yang lain. my husband is a psychopat dan perjanjian gaib.