
Tatapan mata Satya menatap kehidupannya yang benar-benar begitu menyebalkan, seharusnya dia sudah bahagia. seharusnya dia sudah merasakan kebahagiaan bersama Arumi jika saja dia bisa membuat hatinya menerima semua kenyataan itu.
Tanpa terasa sudah 2 tahun lebih Arumi meninggalkan Rumah Satya, pria itu berusaha untuk mencari Arumi selama 2 tahun lebih. tak ada satu kabar pun, Satya mau tidak mau harus menerima kepahitan itu.
Siang itu Satya tidak pergi ke perusahaan, dia menatap beberapa barang yang ditinggalkan oleh Arumi. cincin yang dulu sempat disematkan dijari Arumi pun masih berada di meja Satya. pakaian pengantin Arumi juga beberapa barang-barang pribadi milik Arumi.
Di luar rumah Satya seorang wanita pengganggu luar biasa tetap saja datang ke rumah Satya.t wanita itu terus berusaha untuk mengambil hati pria itu.
"Apa tuanmu ada di rumah?" tanya Farida kepada beberapa pembantu.
"Tuan ada di kantor atas, Nona." jawab Farida.
Farida sudah mempunyai seorang anak yang mungkin berusia 2 tahun, Farida selalu mengaku kalau anak itu adalah anak Satya. sedangkan Satya sendiri dia tidak pernah mengakui anak itu.
Langkah kaki Farida berjalan memasuki rumah Satya, wanita itu membawa bocah kecil itu bersamanya. bocah kecil yang terlihat tidak terlalu berbicara lancar itu menatap rumah besar itu.
"Papa.., Papa..," ucap bocah kecil itu.
"Diam, jangan banyak bicara. kamu ini tidak berguna sama sekali sih, seharusnya kamu itu membuat pria itu menikahiku bukan malah membuat aku seperti ini. dasar anak kecil tidak berguna." Farida terus mencubit putranya tersebut.
Wanita itu selalu kasar kepada anak kecil itu, bahkan anak kecil itu selalu menangis jika bersamanya.
"Lihatlah wanita itu dia kejam banget ya." ucap salam satu pembantu.
"Iya dia benar-benar wanita murahan, lihat aja dia selalu bilang kalau itu adalah anak dari tuan Satya." jawab beberapa pembantu yang lain.
"Tapi, Tuan Satya kan pernah tidur sama wanita itu. jangan-jangan dia benar-benar anaknya." ucap wanita yang lain.
"Tidak mungkin, lihat aja wajahnya aja tidak mirip dengan tuan Satya. Masak Dia anaknya..," cibir beberapa pembantu.
"Sayang! sayang!" teriak Farida yang sudah menaiki lantai 2.
Satya dan Enggar yang ada di kantor rumah nampak mereka memperjelas pendengaran mereka.
"Mau apalagi wanita itu kemari." ucap Satya.
__ADS_1
"Saya kurang tahu, Tuan." jawab Enggar.
"Usir dia keluar dari sini, Enggar. aku benar-benar dibuat pusing kalau wanita itu di sini." perintah Satya.
"Baik, Tuan." jawab Enggar yang kemudian keluar untuk menemui Farida.
Satya selalu dibuat pusing dengan kedatangan Farida, wanita itu selalu saja meminta Satya untuk keluar bersamanya dengan alasan anak kecil itu. Farida selalu mengatakan kepada media kalau anak yang dikandung adalah anak dari Satya.
"Anda mau ke mana, nona Farida?" tanya Enggar.
"Tentu saja aku mau menemui tuanmu, memangnya aku mau ke mana lagi." jawab Farida.
"Tuan Satya sedang sibuk, Nona. lebih baik anda pergi." pinta Enggar.
"Aku tidak peduli, pokoknya aku mau bertemu dengan pria itu. Farida yang masih ngeyel ingin bertemu dengan Satya.
Enggar tidak akan membiarkan Farida untuk menemui Satya, jika wanita itu tetap melakukannya makan Satya bisa murka.
"Jika tidak Tuan Satya akan marah." Enggar yang mencoba untuk memperingatkan Farida.
"Pokoknya aku mau menemui dia, mau tidak mau dia harus menemuiku. Memangnya kenapa sih aku tidak boleh kemari? aku ke sinikan bersama dengan putranya, Aku ingin putranya itu tahu kalau Papanya tidak pernah mau menemui dia." jawab Farida.
"Pergilah dari sini, Jika kamu tidak mau pergi dari sini jangan salahkan aku jika aku langsung memberikanmu sesuatu yang tidak akan pernah kamu pikirkan!!" seru Satya yang membuat Farida langsung menghentikan langkah kakinya.
Tentu saja Farida sangat mengenal siapa sebenarnya Satya, jika wanita itu tetap bersikeras untuk menemuinya maka dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal.
"Sayang, aku kemari karena Putra kita ingin bertemu denganmu." ucap Farida.
"Aku sudah bilang kan Jangan pernah mengatakan kalau dia adalah Putraku, dia bukan Putraku sampai kapanpun dia bukan Putraku!" seru Satya.
Terlihat pria itu mencoba untuk menenangkan dirinya, walaupun bocah kecil yang digendong oleh Farida bukanlah putranya namun Satya tidak ingin membuat bocah kecil itu ketakutan dengannya.
"Sayang, Kamu bicara apa sih? Tentu saja dia adalah putramu, Kenapa kamu tidak mau mengakuinya?!" seru Farida.
"Pergilah dari sini sebelum aku melemparmu keluar dari rumah ini." jawab Satya.
__ADS_1
Kedua mata yang sudah memerah membuat Farida melangkahkan kakinya, dia tidak ingin membuat Satya marah. jika sampai dia membuatnya marah Farida tahu apa yang akan dilakukan oleh pria itu.
"Dia tetap saja tidak mau mengakui anak ini, bagaimana caranya aku membuat pria itu mau mengakui anak ini. jika tetap seperti ini aku tidak akan bisa menikah dengannya." ucap Farida yang benar-benar menunjukkan wajah aslinya.
"Enggar, cepat kamu cari tahu siapa saja yang sudah berhubungan dengan wanita itu. Aku tidak mau terus-menerus di pojokkan oleh wanita itu, Aku tidak mau mengakui sesuatu yang tidak pernah aku lakukan." ucap Satya.
"Baik, tuan. saya akan segera mencari tahu mengenai semua yang tuan inginkan." jawab Enggar.
Setelah mengatakan itu akhirnya Enggar segera bergegas untuk mencari apa yang diinginkan oleh tuannya tersebut, dia harus mencari tahu mengenai kebenaran anak yang dikandung oleh Farida. jika sampai anak itu benar-benar anak dari Satya, mungkin Satya akan mengakuinya. namun jika anak itu bukanlah anak Satya maka Farida harus menerima konsekuensi dari kebohongannya tersebut seperti apapun.
Satya benar-benar tidak pernah mau mengakui anak itu adalah anaknya, dia tidak pernah mau menerima kehadiran anak itu, seperti apapun usaha Farida tetap Satya Satya tidak mau menerima bocah laki-laki itu.
Farida benar-benar sangat frustasi, dia diusir dari rumah Satya setiap kali dia ingin membawa anak itu bertemu dengan Satya.
Niat hati dia ingin membuat Satya luluh dengan kehadiran anak itu, namun sayangnya Farida harus menerima kepahitan kalau Satya tidak akan pernah mau menerima bocah tersebut bagaimanapun usahanya.
"Brengsek, brengsek, brengsek. Kenapa pria itu tidak pernah luluh dengan kehadiran anak ini, Seharusnya dia terpikat oleh anak ini. Dasar kurang ajar, aku harus mencari cara untuk membuat pria itu mau mengakui anak ini, jika tidak aku tidak akan pernah bisa menikah dengannya." ucap Farida yang terlihat menatap jalanan.
Bocah berusia 2 tahun itu tidak bisa menangis, entah apa yang terjadi kepada anak itu. namun yang jelas Farida selalu menyiksa anak itu agar Satya mau menerima kehadirannya.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatanmu
- Gairah cinta isteri muda
- One night stand with mister William
- Gairah terlarang
- Isteri bayaran tuan Presdir
__ADS_1
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)