
Hari ini Satya mendapatkan sebuah undangan dari salah satu perusahaan yang ada di Cina, pria itu belum memutuskan mau ke negara itu atau tidak. namun yang jelas Satya terus mencari keberadaan wanita yang sudah dia lukai terus-menerus tersebut.
"Tuan." Panggil Enggar.
"Kamu tahu, Enggar. semakin hari aku seperti seorang pria gila, wanita itu selalu datang ke rumah dan menyatakan kalau anak kecil itu adalah anakku. Aku tidak perlu mengatakan apapun karena aku tahu dia bukan anakku." ucap Satya.
"Lalu Kenapa anda tidak melakukan tes DNA saja, Tuan?" tanya Enggar yang membuat Satya tersenyum.
"Buat apa aku harus melakukan tes DNA jika aku tahu kalau anak kecil itu bukanlah anakku." jawab Satya.
"Tapi untuk membuktikan kalau dia bukan putra Anda, Anda harus melakukan hal itu agar orang-orang yang ada di luar sana tidak mencaci maki anda." Enggar terus berusaha untuk meyakinkan bosnya tersebut.
"Biarkan saja, Enggar. biarkan semuanya seperti ini, aku sudah terjebak pada permainanku sendiri. aku benar-benar hancur karena semua yang kulakukan sendiri. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat saat ini." jawab Satya.
TOK..
TOK..
TOK...
suara kantor di ketok oleh seseorang. pria itu sudah beberapa hari ini enggan pergi ke perusahaan, serasa Satya benar-benar sudah kehilangan semuanya. 2 tahun dia mencoba untuk mencari keberadaan Arumi, namun tidak pernah ada hasilnya.
"Buka pintunya, Enggar." pinta Satya.
Enggar berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu, terlihat di sana Rani sudah membawa makanan serta minuman untuk dua orang itu.
"Letakkan saja di sini, Enggar. kamu istirahatlah, temani anakmu itu." ucap Satya.
"Baik, Tuan." jawab Enggar yang kemudian keluar dari ruangan Satya.
Satya menatap bocah kecil yang digendong oleh Rani, seandainya dia tidak melakukan kesalahan itu mungkin dia akan meminta maaf bahkan mungkin juga saat ini Satya sudah mempunyai kebahagiaan. rasa rindu yang benar-benar membuat Satya seperti kehilangan arah, Satya tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Di tempat lain di sebuah negara Arumi nampak mempersiapkan makanan yang dipesan oleh Kazuki.
"Silahkan Anda menikmati masakan ini, tuan."
Arumi meletakkan makanan yang tadi dia buat kemudian meninggalkan tamu itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Kazuki.
"Tentu saja saya akan meninggalkan tempat ini." jawab Arumi.
"Tunggu sebentar di sini, Kamu duduk di sana." pinta Kazuki.
Arumi tidak menolak wanita itu duduk di kursi bersebelahan dengan Kazuki.
Tatapan mata yang begitu lembut, senyum yang begitu hangat membuat Kazuki Salah tingkah. pria yang memang selalu dipanggil dengan pengusaha berhati batu itu nampak terus menetap Arumi.
"Masakanmu enak juga." ucap Kazuki.
"Terima kasih, Tuan." jawab Arumi.
__ADS_1
Terlihat Kazuki menikmati masakan yang dibuat oleh Arumi, sesaat kemudian pria itu mencicipi makanan yang lain.
"Kamu berasal dari mana? katanya kamu berasal dari Thailand ya?" tanya Kazuki.
Arumi hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, dia tidak mengiyakan ataupun mengatakan tidak.
"Yang aku dengar seafood di Thailand lumayan menantang?" tanya Kazuki.
Arumi hanya tersenyum, wanita itu tidak lama tinggal di Thailand karena setelah itu Bos dari Arumi meminta Wanita itu pergi ke Cina.
"Nona Alin." Panggil salah satu pekerja.
"Iya." jawab Arumi.
"Nona Alin, ada salah satu tamu yang ingin bertemu dengan Nona." ucap salah satu pekerja.
"Memangnya ada apa?" tanya Arumi.
"Saya tidak tahu, Nona. katanya dia kemari karena dia harus mengambil pajak bangunan." jawab pegawai Arumi.
"Pajak bangunan, maksudnya apa?" tanya Arumi.
Memang di tempat itu setiap tahun beberapa preman meminta uang untuk keamanan dengan alasan pajak bangunan, Arumi yang baru tinggal selama 2 tahun dia baru tahu kalau ada hal seperti itu.
"Aku akan menemui dia, maaf tuan saya harus pergi sebentar." pamit Arumi yang kemudian pergi.
Kazuki dapat melihat beberapa orang yang masuk ke restoran, pria itu meminta Daichi untuk melihat apa yang terjadi.
"Awasi terus pria itu, jangan sampai pria itu membuat onar saat aku makan, Daichi." pinta Satya.
"Ada apa ya, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arumi.
"Aku kemari karena harus mengambil upah dari tempat ini, setiap enam bulan seharusnya kalian menyetor kepadaku." ucap si pria.
"Maksudmu?" tanya Arumi.
"Kamu ini wanita bodoh ya? di sini itu ada pajak wilayah, Jadi jika kalian tidak membayar padaku kalian harus bersiap-siap diganggu oleh para preman di sini." jawab si pria yang ada di dekat Arumi.
Daichi menatap para preman itu, nampak pria itu benar-benar begitu geram, tatapan mata Daichi melihat sekitar 6 orang tersebut.
"Memangnya apa yang akan kalian lakukan?" tanya Daichi yang berada di belakang tubuh Arumi.
Enam pria tersebut nampak menatap seorang pria yang ada di belakang tubuh Arumi.
"Siapa kamu?" tanya para preman.
"Ternyata kamu semua ini penjahat baru ya? jika kalian penjahat lama Kalian pasti sudah mengenal aku." jawab Daichi.
"Jangan banyak basa-basi, katakan Siapa kamu?" tanya si pria.
Daichi tersenyum, sesaat kemudian pria itu menatap Arumi.
__ADS_1
"Maaf Nona, jika ada sedikit kerusakan Bos saya yang akan menanggungnya." ucap Daichi yang membuat Arumi sedikit kebingungan.
BUGG..
BUGG..
BRAKK..
seketika Daichi langsung memberikan tendangan dan pukulan kepada para preman tersebut.
"Kalian ini kalau mau menjadi penjahat harus sungguhan, jangan menjadi penjahat macam seperti ini." ucap Daichi.
Daichi terus memberikan pukulan bahkan pria itu memberikan bogem mentah ke wajah 6 pria tersebut. Daichi adalah petarung yang sangat luar biasa, kalau zaman dahulu sih bisa dibilang Daichi adalah samurai hebat. hanya dalam hitungan menit saja Daichi membuat 6 merica itu pria itu langsung terkapar tidak berdaya.
"Apa sudah selesai, Daichi?" tanya Kazuki.
"Sudah, Tuan." jawab Daichi.
"Minta anak buah kita untuk membuang mereka, mereka ini mengganggu acara makanku saja." ucap Kazuki.
Anak buah Kazuki membawa 6 pria tersebut, Sedangkan Kazuki sendiri nampak dia menatap Arumi.
"Aku akan ke sini setiap hari, Masakanmu sangat lezat, suaramu begitu menggoda. wajahmu benar-benar cantik." ucap Kazuki yang kemudian pergi meninggalkan Arumi.
Terlihat Arumi benar-benar dibuat bengong dengan tamu yang barusan datang tersebut.
"Nona, semua kerusakan ini akan dibayar oleh Tuan saya." ucap Daichi.
Pria itu memberikan cek kepada Arumi, orang-orang yang ada di dalam restoran dibuat terkejut dengan semuanya itu. ada segerombolan orang yang tiba-tiba datang kemudian dibasmi seperti nyamuk oleh seorang pria dan anak buahnya.
"Aku sudah bilang kan, Nona Alin. Kalau pria itu adalah pria berbahaya." ucap Mei.
"Kamu benar, Mei." jawab Arumi.
Setelah hari itu Kazuki setiap hari menyempatkan diri untuk ke restoran Arumi, bahkan pria itu menganggap tempat itu adalah tempat luar biasa.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatanmu
- Gairah cinta isteri muda
- One night stand with mister William
- Gairah terlarang
- Isteri bayaran tuan Presdir
__ADS_1
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)