
Aleya Ibtasamah Hababi, sebuah hadiah nama dari Ayah dan Ibuku. Nama yang begitu membuat ramai suasana hati. Walau tidak untuk hari-hariku.
Hari-hariku begitu suram. Setiap waktunya ia hanya menatap pemandangan halaman rumah dengan bunga matahari yang kuning, kolam berisi ikan koi yang besar, pohon mangga tak berbuah walau sudah bertahun lamanya, dan pagar rumah tinggi berwarna biru muda dan hijau.
Ayah dan Ibuku dikenal orang dengan manusia kaya. Mereka tidak tahu jika rumah sebesar istana ini hanyalah warisan kakekku.
Kakekku sekarang sudah tiada. Kabar miring tentang kematian kakekku begitu beragam. Tapi aku malas membahas tentang itu. Yang pasti, karena kakek sudah tiada, hidupku menjadi seperti ini.
Membosankan sekali hidup. Walau nafasku di kelilingi segala fasilitas, dari wifi, laptop apple, handphone, televisi, AC, dan keranjang yang begitu empuk nan imut. Tapi itu tidak membuat hari-hariku berwarna.
Dulu sekali, Ibuku sering di rumah menemani kesendirianku. Hari-harinya hanya ada untukku. Aku minta apapun padanya pasti dia beri.
Aku juga sering diajaknya jalan-jalan ke mall. Membelikanku boneka, adalah kebiasaan terindah yang selalu ibu lakukan untuk membahagiakan anaknya.
Kala malam datang, ibu juga selalu menemaniku tidur sambil menceritakan kisah masa lalunya. Namun sekarang, dia begitu sibuk di luar sana, membantu ayah mengurus perusahan kakek.
Sekarang di rumah bak istana ini, hanya tinggal aku dan Bi Ina, pembantu rumahku yang sudah enam tahun lamanya.
__ADS_1
Bi Ina sangat baik. Bahkan ketika larut malam, dia sering mengingatkanku untuk shalat isya. Namun tetap saja itu tidak sama seperti aku bersama ibu.
Seperti kejadian hari ini, kala subuh menghampiriku yang tertidur lelap.
***
"De Aleya, bangun sudah waktunya shalat subuh. Yuk shalat dulu bareng Bibi." Bi Ina berusaha membangunkanku sambil mengelus-elus pelan kepalaku.
Berat sangat tubuh ini untuk segara beranjak dari kenyamanan. Aku tahu persis, Bi Ina tidak akan pergi sebelum aku bangun. Dia akan terus membangunkanku.
Kesal memang. Tap mau bagaimana lagi, itu gara-gara Ayahku. Ayah sering sekali menyuruh Bi Ina membangunkanku kala subuh datang. Hingga tiap hari Bi Ina selalu saja membangunkanku. Walau dalam hati ini, aku tidak suka.
"Nanti dede tidur lagi kalau Bibi tinggal. Ujung-ujungnya Bibi yang dimarahin ayah."
"Gak kok Bi, tenang aja. Bilang aja kalau dede lagi sakit." Aku menarik selimutku dalam-dalam. Sampai sekujur tubuhku tertutup. Berharap Bi Ina segera beranjak pergi.
"Jangan begitu De, inikan perintah Allah juga. Kalau De Aleya gak shalat nanti De Aleya kena dosa lo."
__ADS_1
Semakin hari telingaku bosan mendengar Bi Ina mengoceh seperti itu. Yang ada bukan semangat ingin beribadah, malah justru emosi yang muncul.
"Bukan Bi Ina kan yang kena dosa?!" Aku membuka selimutku sambil membentak Bi Ina.
"De Aleya kok tidak seperti biasanya. Apa karena Bi Ina sudah tidak baik lagi?"
"Bukan urusan Bi Ina, pokoknya sana keluar. Aleya mau tidur lagi. Hari ini ada upacara di sekolah. Aleya gak mau pingsan lagi gara-gara kurang tidur. Bi Ina tau kan kalau Aleya punya penyakit?"
Kekesalanku memuncak. Tuhan tidak lagi aku ingat sama sekali. Rasa kesal dan sisa kantuk membuatku hilang rasa. Aku mulai bangun sambil mendorong sedikit demi sedikit Bi Ina keluar dari kamarku.
"De Aleya, nyebut de, nyebut!."
"Udah pokoknya Bi Ina keluar. Besok jangan bangunin Aleya lagi. Aleya bisa bangun sendiri.!" Bi Ina terus aku dorong keluar. Sampai depan kamarku aku tutup pintu keras-keras.
Aku sadar, perbuatan yang seperti itu tidak sepatutnya aku lakukan. Mungkin jika Ibuku tahu, aku akan kehilangan uang jajanku selama sebulan. Itu sangat tidak mengasikan.
Sudahlah, persetan dengan itu, aku menuju ke keranjangku lagi. Selimut tak lupa aku taruh di sekujur tubuhku. Aku melihat handphone, jam masih menunjukan pukul empat lebih lima puluh menit. Lumayanlah ada dua jam lagi buat tidur. Aku tidak mau dibully gara-gara aku sering pingsan ketika upacara.
__ADS_1
***