Aku Santri?

Aku Santri?
Niat


__ADS_3

Tuhan sudah mengetuk hatiku. Seiyanya itu sudah cukup bagiku untuk merenung. Kejadian demi kejadian tidak mungkin semua tiada maksud. Tuhan mungkin mempunyai skenario-Nya sendiri.


Kakek pergi, dan membuat suasana rumah menjadi sepi, Sasha yang tiba-tiba berangkat ke negeri orang, Ferry meninggal karena tawuran, Farhan yang wataknya berubah hingga membuat duniaku hitam, Saeful ayah tiriku yang meninggal karena jatuh dari tangga, dan aku yang rusak dan ingin mencoba memperbaiki.


Semua itu mungkin sudah diatur rapih oleh Tuhan untukku. Tapi apa spesialnya aku di mata-Nya, bukankah aku hanya sekadar manusia biasa yang tidak tahu diri?


Tuhan benar-benar membuatku bingung. Betapa lemahnya otak ini untuk memikirkan kehendak-Nya yang paradoks. Atau jangan-jangan, peristiwa demi peristiwa yang berjalan di kehidupanku merupakan teguran untuk diri ini?


Kalau iya, berarti benar kata Sasha, melihat masa lalu adalah satu-satunya cara untuk mengingatkan kembali bahwa kita bukanlah manusia yang suci. Kita butuh banyak perbaikan diri. Terutama menutupi lubang-lubang dosa yang pernah kita lakukan, dan itu susah jika kita masih melakukannya. Walau harus menggunakan kalimat ampuh untuk merayu Tuhan sekali pun.


Tuhan sudahlah, aku menyerah dengan kehendak-Mu yang terlalu tidak masuk akal menurut manusia sepertiku. Aku ingin sekali mengenal-Mu lebih dalam. Tapi, dimanakah?


Lama aku mengurung diri di dalam kamar. Berdialog dengan anganku tentang Tuhan. Akhirnya, aku terbesit ingin merasakan bagaimana jika aku belajar lebih dalam tentang-Nya. Bukankah itu ide yang baik?


Selain itu, aku juga ingin sekali bisa seperti Sasha. Wanita yang tangguh akan pendiriannya, pengetahuannya luas, dan tangannya masih suci. Tidak seperti aku, kotor, oleh pegangan laki-laki yang tidak seharusnya aku lakukan.


Oiya, aku ingat, Ibu bilang kalau dia pernah belajar di pondok pesantren. Setahuku pondok pesantren memang dibangun untuk memperdalam hukum Tuhan. Bagaimana jika aku mengikuti jejak Ibu? Tapi, kalau dilihat-lihat, Ibuku biasa-biasa saja dalam beragama. Dia seperti tidak terlalu dekat dengan Tuhan. Bahkan dia tidak mampu membimbingku untuk berkenalan dengan-Nya. Hanya sedikit perkara saja yang kadang Ibu sering marah kalau aku tidak melakukannya.

__ADS_1


Saeful ayah tiriku justru terbalik. Dia selalu memarahi Bi Ina jika aku tidak melaksanakan shalat Subuh. Pada kenyataannya malah dia yang terjerumus ke lembah hitam. Dan bodohnya, tanpa Saeful mengajariku, aku justru telah mengikuti jejaknya.


Aneh, sebenarnya dimana aku harus belajar mengenal hukum Tuhan, jika yang aku lihat setiap hari justru berbalik arah.


Ayah tiriku mungkin sudah masuk kadar orang bejad pada umumnya. Walaupun dia tidak pantas dikatakan orang baik. Tapi ketika tidak banyak orang yang tahu, jiwanya menjadi baik, bahkan dia sering mengingatkanku untuk melakukan kebaikan. Dan Ibu, seorang yang jelas baik hati. Tapi apa yang tidak dilihatnya dari orang lain sangat tidak pantas dikatakan orang baik. Dia tidak bisa membimbingku, yang hanya bisa dia lakukan hanya bercerita dan membelikanku boneka.


Aku bingung, yang diinginkan Tuhan sebenarnya seperti apa? Mana yang lebih baik dari keduanya? Sebab aku tidak bisa membenarkan baik pada sesuatu yang belum aku ketahui. Aku menyerah Tuhan, Engkau terlalu canggih untuk menegur kesombongan otakku.


Akhirnya, niatku semakin kuat untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Aku akan meminta Ibu agar aku bisa segera berdiam diri di pondok pesantren. Aku harap dengan itu, aku akan selalu bersama-Nya.


Setelah lama aku berbaring di kamar. Berdialog mesra dengan pikirku sendiri. Akhirnya aku putuskan, aku akan mengenal Tuhan.


"Tuuut!" Suara handphone berbunyi.


"Assalamu'alaikum Bu?"


"Waalaikumussalam. Iya ada apa sayang?"

__ADS_1


"Ibu, Aleya pengen hidup di pondok pesantren seperti Ibu?"


"Hah!? Kamu serius? Bukanya Ibu dulu sudah pernah menawarkan? Tapi Aleya nya gak mau."


"Aleya lupa Bu. Pokoknya sekarang Aleya pengen di pondok pesantren. Lagian, Aleya kan sudah dikeluarkan dari sekolah. Daripada di rumah gak ada kegiatan. Boleh ya Bu?"


"Justru Ibu pengen Aleya itu mondok. Aleya tahu sendiri kan kalau pergaulan di luar sana sudah tidak wajar lagi. Bahkan Aleya sendiri sudah merasakannya. Nah, sebenernya Ibu tuh gak mau Aleya kenapa-kenapa. Makanya Ibu pernah menyuruh Aleya buat mondok. Lagian waktu itu kamu lebih mau sama ajakan Saeful buat sekolah negeri. Ujung-ujungnya malah Aleya juga yang kena imbas."


"Aleya lupa Bu, kan waktu itu Aleya habis jatuh dari tangga sekolah, jadi Aleya gak inget. Pokoknya Aleya sekarang mau di pondok pesantren."


"Yaudah kalau begitu, nanti Ibu daftarin Aleya ke pondok Subulussalam. Pondok dulu Ibu, Ayah kamu, dan Papanya Sasha belajar. Tapi Ibu mau tahu, kenapa Aleya tiba-tiba pengen mondok?"


"Ceritanya panjang Bu, yang pasti Aleya pengen kenal Tuhan lebih dalam."


"Owalah syukurlah, yaudah kalau gitu, besok Ibu pulang, terus kita langsung daftar ya."


"Iya Bu, Aleya tunggu ya. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Waalaikumussalam. Jangan lupa makan ya."


Sampai disini, apa yang aku pikirkan tentang Ibu dan Saeful juga masih salah. Dari itu aku yakin, Tuhan itu hebat, membuat aku tidak tahu apa-apa tentang hidup. Tuhan, tunggu aku, aku akan mengenal-Mu.


__ADS_2