Aku Santri?

Aku Santri?
Kenyataan


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan ini, aku selalu datang ke club malam. Tidak ada alasan lain, aku hanya ingin menghilangkan rasa kesalku pada sepi. Aku pun kini bergantung narkotika, yang jelas-jelas barang-barang itu dapat merusak syaraf otakku.


Aku sangat paham bahaya keduanya bagi tubuh dan jiwaku sangat luar biasa mengerikan. Karena pernah aku melihatnya sendiri efek negatif dari mengkonsumsi barang tersebut. Aku melihatnya langsung, bukan dari cerita orang, atau dari dokter.


Tetanggaku pecandu berat. Nasibnya sekarang, bisa aku katakan sudah tidak harapan lagi untuk masa depannya. Sering sekali tanpa sebab dia jatuh terkejang-kejang dengan busa yang keluar dari mulutnya. Matanya sangat telihat masuk kedalam, omongannya selalu ngawur tidak jelas, bahkan kerjaannya hanya mencuri, yang dari hasil curiaannya itu, dia bisa membeli barang haram yang dia inginkan.


Kadang aku pun masih menangis jika aku teringat akan hal itu. Tapi, hidupku selalu membawaku kepadanya. Aku sadar diri, hidupku tidak sebahagia orang lain. Aku kesepian, aku tidak ingin seperti ini. Andai hidupku seperti dulu. Tentu aku lebih memilih menjauh dari kehidupan bodoh ini.


Ya semua itu karena hidupku pudar, tidak ada warna lagi. Hambar, tidak ada rasa lagi. Tersasar, tidak ada jalan lagi. Sampai pada hari dimana aku melihat kenyataan yang membuat semuanya hancur. Waktu itu, aku sedang asik sendiri meminum minuman beralkohol di club malam tempat biasa aku menghabiskan malamku. Seperti biasa, harapku agar pikiranku mereda dari memikirkan kehidupanku yang kelam. Tidak kusangka aku melihat ayah berjalan dan merangkul wanita yang tidak aku kenal ditempat seperti ini.

__ADS_1


Kulit wanita itu putih, pakaian ketat berwarna merah, rok yang dikenakan sangat mini, serta balutan makeup yang menambah pesonanya semakin anggun.


Tubuhku yang biasanya reflek menghampiri ayah disaat aku berjumpa, kali ini berbeda. Tubuhku terdiam kaku, dan mulutku membisu. Mungkin karena aku terbawa penasaran, untuk apa ayah kesini dengan membawa wanita asing? Bukankah tidak selaiknya laki-laki yang sudah menikah membawa wanita lain? Apalagi dia sampai merangkulnya dan berbincang-bincang manis.


Karena rasa penasaranku semakin menjadi, akhirnya aku berniat tidak langsung menemuinya. Aku ingin tahu maksud kedatang Ayah kemari. Aku berniat ingin membuntuti ayah.


Banyak pikiran-pikiran aneh yang seketika langsung bersinggah ke kepalaku. Tapi aku menepis. Jangan-jangan aku salah paham saja? Tidak, aku tidak salah paham. Bukankah ayah juga sering mengadakan rapat yang isinya sebagian wanita. Tapi sekarang agak berbeda, mereka hanya berduaan, dan ditempat seperti ini. Aku harus tahu apa yang akan mereka lakukan.


Setelah mereka berdiri lama dibagian kasir. Akhirnya kaki mereka melangkah ke arah lorong belakang. Aku penasaran kenapa harus ke lorong itu. Selama disini aku tidak pernah masuk ke daerah itu. Karena aku dengar dari para pengunjung club ini, tempat yang sedang mereka tuju adalah ruangan VIP, yang tidak sembarang orang bisa masuk, alias tempat khusus yang disediakan pemilik club untuk pengunjung yang ingin berkencan tanpa diganggu.

__ADS_1


Rasa penasaranku semakin tidak terkendali. Akhirnya setelah beberapa lama mereka masuk kedalam ruangan itu, aku mengikuti mereka dari belakang, dan sedikit demi sedikit menghampiri mereka. Tapi aku bingung, setelah ada belokan ke arah lain, jejak mereka hilang. Hanya ada lima baris kamar. Aku mulai plonga-plongo. Apakah mereka masuk kamar? Kalau iya, mereka berada di kamar nomer berapa? Aku bingung, kamar mana yang harus aku buka terlebih dahulu. Aku takut salah masuk, dan justru akan mengacaukan segalanya.


Dari kebingungan itu, aku ingin mencoba satu persatu mendengarkan dari balik pintu luar. Aku taruh telingaku di setiap pintu kamar yang ada. Aku menguping suara demi suara yang ada dalam kelima kamar itu.


Kamar pertama, aku tidak mendengar suara ayah. Walau aku yakin di dalamnya ada dua sepasang manusia. Kamar kedua, ketiga pun sama, ada sepasang manusia sedang berkencan, tapi tidak ada suara Ayah. Di kamar keempat tidak ada suara apapun yang kudengar. Mungkin memang kamar itu kosong. Sampai pada kamar pojok terkhir. Terdengar sangat jelas canda tawa khas orang dewasa. Aku yang mendengarnya pun jijik. Apakah benar yang di dalam itu ayah? Aku kenal persis suaranya. Tapi aku ragu. Ah, jika terus seperti ini aku tidak akan pernah tahu.


Akhirnya tanpa berpikir lama lagi karena rasa penasaranku sudah memuncak, aku pun memaksa mendobrak pintu kamar tersebut.


"Brakkk!!"

__ADS_1


Setelah pintu itu terbuka. Aku sangat terkejut melihat apa yang sedang terjadi.


__ADS_2