Aku Santri?

Aku Santri?
Disini.


__ADS_3

Niatan hati sudah melebur menjadi satu. Aku sudah bertekad untuk tidak lagi sendiri dan sepi. Dan aku harap pilihanku untuk masuk ke pondok pesantren itu baik. Walaupun entah masalah apa yang akan aku temui disana.


Hari senin, hari yang sangat aku benci. Tapi sekarang, ia menjadi hari permulaanku untuk menapakan jejak baru. Aku ingat, Sasha pernah bilang padaku saat kita kehujanan setelah pulang sekolah dulu. Katanya:


"Kita tak boleh membenci dingin. Sebab kita pasti membutuhkannya ketika panas. Kita juga tak boleh membenci panas. Sebab kita pasti membutuhkannya ketika dingin. Itulah perumpamaan yang baik untuk tidak membenci sesuatu."


Saat itu aku merasa sangat kedinginan. Aku merasa begitu benci pada dingin. Lalu Sasha mengingatkanku untuk tidak membenci apapun. Karena hidup adalah saling membutuhkan satu sama lain. Bukan hanya pada manusia, tapi semua makhluk hidup. Kata Sasha juga, ketika hari ini satu manusia tidak dibutuhkan. Percayalah mungkin esok dia pun akan dibutuhkan. Begitu pun sebaliknya, jika satu manusia sekarang begitu sangat dibutuhkan, maka percayalah esok atau kapan pun itu, pasti dia tidak lagi dibutuhkan. Hukum alam kadang membuat kita tidak merasa nyaman. Tapi kita bisa memanfaatkannya jika kita mengerti.


Kata-kata Sasha dalam menasehatiku, membuat aku rindu sekali padanya. Apalagi kata-katanya sudah mengingatkanku untuk tidak membenci hari senin. Hari dimana ia akan menjadi permulaan bagiku.


Sasha, tolong berikan kabar angin untukku sedikit saja tentangmu disana. Setidaknya, kabar itu bisa membuat rinduku terobati. Setelah itu, aku akan mengabarimu, kalau aku disini sedang berjalan untuk menjadi hebat sepertimu. Agar kau tak payah lagi menasehati sahabatmu yang bodoh ini. Dan kelak ketika kita bertemu, aku harap kamu dan aku akan tetap manjadi sahabat yang berbeda dari orang lain. Kabari aku Sha, aku juga akan mengabarimu.

__ADS_1


Lama aku berdialog dengan diri dan halu Sasha. Membuat aku tidak sadar akan kedatangan Ibu. Bahkan ketika Ibu membuka kamar pun aku tidak menyadarinya. Mungkin karena aku terlalu asyik melamuni keindahan hari. Sayang, keindahan itu justru tidak membawa solusi. Hanya membuang waktuku saja.


"Aleya! Kok masih melamun sayang, kan sudah jam sembilang pagi." Ibu mengelus pundakku dari belakang. Dan kehadirannya membuat aku terkejut.


"Eh Ibu, kok tiba-tiba ada disini." Kepalaku menengok pelan ke belakang dengan getaran kejut.


"Udah jangan dilamunin terus. Nanti Aleya cepet tua lo. Daripada melamun, sekarang buruan Aleya mandi, terus beres-beres. Bawa pakaian, mukenah, dan perlatan lain. Setelah itu kita langsung berangkat ke pondok." Ibu membungkukan badannya dan memegang erat kedua tanganku.


"Sekarang langsung ke pondok Bu? Bukannya sekarang daftar dulu?"


"Iya Bu."

__ADS_1


"Lah kok malah nangis. Malu ah udah gede." Tangan Ibu beranjak menyapu air mataku yang jatuh dengan sendirinya.


"Ibu, apakah seperti ini sedihnya ingin berkenalan dengan Allah?" Tanyakku dengan nada tangisan.


"Iya sayang, jadilah wanita sholiha ya, jangan seperti Ibu."


Pelukan Ibu sangat hangat. Suasana pun menjadi tangis berdua. Ibu memelukku dengan tangis. Aku pun memeluk Ibu dengan tangis.


"Udah Aleya jangan nangis lagi, Ibu jadi ikutan sedih. Pokoknya Ibu percaya, kelak Aleya bisa menjadi wanita yang dicintai Allah. Ibu akan selalu mendoakan Aleya dari sini. Sekarang Aleya cepet mandi gih, keburu siang."


Anggukan kepalaku, ciuman kening dari Ibu, dan untuk kedua kalinya Ibu mengusapkan air mataku. Aku sangat bahagia, walau bahagia ini harus aku curahkan dengan air mata. Dalam hatiku berkata "Tuhan, tunggu aku. Aku akan berkenalan dengan-Mu setelah ini."

__ADS_1


Setelah persiapan sudah aku lakukan. Tibalah saatnya aku menuju ke pondok pesantren. Aku berharap disana aku akan mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Entah apa yang akan aku hadapi disana. Semoga itu adalah yang terbaik untukku.


Jam menunjukan pukul tiga sore lebih dua puluh menit. Tidak terasa perjalanan itu aku tempuh dengan tertidur lelap. Ketika aku bangun, mataku begitu terkejut. Melihat banyak manusia berbusana rapi, dengan senyum mereka yang beragam, dan dengan wajah mereka yang berseri. Tempat apa ini? Apakah ini yang dinamakan pondok pesantren?


__ADS_2