Aku Santri?

Aku Santri?
Dia Yang Pergi


__ADS_3

"Berapa meter lagi rumah Sasha?" Tanya Farhan sembari dia menyalakan motornya.


"Itu dibelakang toko kue. Aku jalan kaki saja. Biar kamu duluan."


"Oke, gue duluan nih ya."


Memikirkan banyak hal dalam satu waktu memang membuat hati begitu tidak menyenangkan. Merasa rumit, bingung, dan rasa tidak menentu.


Bi Ija pergi, Ibu jarang di rumah, Ayah apalagi, Ferry pun sudah tiada, dan sekarang Sasha sahabatku satu-satunya, akan dia akan menambah kesedihanku itu?


Aku tahu hari ini Farhan kembali. Tapi itu hanya sedikit menghilangkan kesepianku. Ibarat setitik air yang ditaruh diatas sekilo beras putih. Air itu tidak akan sedikitpun dapat membuat beras matang. Begitulah hidupku, bertumpuk-tumpuk masalah setiap harinya datang bertubi. Tapi hanya setitik kebahagiaan yang berusaha menepisnya.


"Aleya, buruan!" Teriak Farhan dari depan rumah Sasha.


Sepertinya aku harus segera menyusulnya. Mulutku sudah tidak sabar ingin berucap maaf pada Sasha. Kaki juga merasakan ketidak-sabaran itu. Dia berlari kecil melaju menuju rumah Sasha. Semoga dia berkenan memaafkanku. Ya, aku sahabat terbodoh yang dia miliki.


"Rumahnya sepi, apa biasanya seperti ini?" Tanya Farhan sambil mengangkat kepalanya di depan gerbang.


"Gerbangnya juga dikunci, gimana nih?" Imbuh Farhan.


"Memang seperti ini rumah Sasha, kalau jam maghrib seperi ini biasanya Sasha pergi ngaji di masjid. Ayah dan Ibunya juga ke masjid. Kan Ayahnya Sasha Imam besar masjid desa kita."


Ucapan itu hanya sekadar untuk pelampiasan agar hatiku tidak tersakiti dengan kabar yang akan aku terima. Aku yakin, Sasha dan keluarganya tidak ada di rumah. Aku yakin karena mobil Pajero milik ayah Sasha tidak ada. Tidak seperti biasanya di jam-jam seperti ini.


"Assalamu'alaikum! Assalamu'alaikum!" Teriak Farhan di depan gerbang.


"Punten! Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Sudah Han, sepertinya dirumah tidak ada orang. Mungkin benar kata Bu Yasmin."


"Kenapa?"


"Dia pindah sekolah."


"Tapi kan kita belum tahu pasti sebelum denger langsung dari Sasha. Pokoknya lo tenangin diri dulu. Dibawa santai aja. Oke?"


"Brok! Brok! Brok!" Farhan mengetuk pelan gerbang rumah Sasha.


"Assalamu'alaikum! Punten!"


Tidak berapa lama muncul seseorang dengan memakai sarung, baju muslim, dan peci hitam. Mukanya masih basah. Sepertinya dia baru saja mengambil air wudlu. Tapi selama aku bersama Sasha disini, aku baru melihat wajahnya.


"Maaf Pak, Sashanya ada?" Tanyaku.


"Kita sahabatnya Pak, saya Aleya sahabat kecilnya Sasha. Saya juga sering main kesini."


"Oh, De Aleya, ayuk masuk dulu, gak enak kalau ngobrolnya di luar. Apalagi sudah mau maghrib begini."


Pikiranku sudah merasa tidak enak. Jangan-jangan benar kata Bu Yasmin, Sasha pindah sekolah. Lantas apa alasan Sasha hingga secepat itu memutuskan untuk pindah. Padahal sebelum-sebelumnya Sasha tidak pernah bercerita tentang masalah ini sedikit pun padaku.


"Silahkan De duduk!"


"Jadi kalian temennya Sasha? Kenalin Bapak pamannya Sasha. Panggil saja Om Samsul. Ada yang bisa Bapak bantu?"


"Oh iya Om, jadi gini Om, tadi pagi saya sama Sasha ada sedikit konflik. Hanya masalah kecil sih, cuma waktu itu Sasha kayanya marah banget sama saya. Saya takut gara-gara itu Sasha tidak mau berteman lagi sama saya."

__ADS_1


"Kamu De Aleya kan?"


"Iya Om."


"De Aleya sudah tau kalau Sasha hari ini dapat panggilan dari Jakarta?"


"Jakarta Om? Kok Sasha tidak cerita sama saya Om?"


"Saya kurang begitu paham tentang hubungan kalian. Tapi untuk masalah Sasha, dia Alhamdulillah mendapat beasiswa untuk kuliah meneruskan pendidikannya di Mekkah. Dan sekarang, dia dan keluarganya sedang berangkat ke Jakarta untuk mengurus berkas- berkas yang harus disiapkan. Kemungkinan hari rabu dia berangkat ke Mekkah."


"Om gak boong kan?"


"Iya De, makanya sekarang saya disuruh jagain rumah. buat tiga hari ke depan."


Mendengar informasi dari Om Samsul, air mataku seketika turun. Disaat seperti ini kenapa kesedihan justru ikut campur? Atau mungkin waktu itu aku bersalah? Tapi pikiran lain mengatakan aku sombong. Aku pastikan bahwa waktu itu aku salah. Tak pernah melakukan, tak pernah diperbuat, tak pernah juga disengaja, tak pernah menanyakan, tak pernah bercerita. Aku pastikan juga itu salah.


Aku malu, tidak seperti pada orang lain. Dengan Sasha aku merasa bahwa dia tak pantas untuk dibincangi dengan manusia semacam aku. Aku pun merasa bahwa kadarnya bukan terpaku padaku. Entahlah, aku merasa ini sangat membuatku terdiam. Hatiku dan mataku menangis. Air mata seakan tidak ingin berhenti sejenak. Ia terus mengalir membasahi daerah pipiku.


Bertahun lamanya aku tancapkan persahabatan kita. Tak pernah aku biarkan sedikitpun tergoncang dengan derasnya badai kecantikan, kekayaan, kesetiaan. Aku tetap menaruhnya ditempat yang begitu aman. Hingga orang yang ingin mengambilnya tak akan aku biarkan.


Mengapa aku masih menaruh hati pada manusia yang tak sedikit pun sama denganku? Seberapa pun aku tanyakan perihal itu, tetap aku jawab "Dia sahabatku."


Aku berbohong pada diri hanya untuk menyenangkan diriku yang kesepian. Bodoh.


Walaupun begitu keunikan ini yang terus membuat juang dalam dada melontarkan diri keluar. Mencambukku dengan sabetan maut yang ketika aku mulai melupakan, tapi dia tetap menanam kembali wajahnya.


Tuhan, jika dada ini kelak bersatu dalam satu tali. Maka tunjukanlah bahwa dia pun juga berbelas kasih padaku. Aku rasa dengan itu, aku bisa memupuk kembali dan membiarkan ia tumbuh bersama senyumnya yang mempererat.

__ADS_1


__ADS_2