Aku Santri?

Aku Santri?
Tergoda


__ADS_3

Aku ingat, ketika di club malam itu, aku menitipkan tasku pada Farhan. Mungkin ketika itulah Farhan menaruh kapsul haramnya ke dalam tasku.


Aku sangat kesal. Mungkin jika Farhan ada disampingku, pipinya sudah tidak akan tenang lagi. Aku akan gampar dia sampai tersadar. Tidak berpikir kah dia bahwa Tuhan sangat benci perbuatan seperti itu?


Rasa malasku sudah mencapai puncak. Aku benar-benar sudah merasa bahwa hidupku ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Apa-apa yang ada di sekitarku justru membuat kepedihanku menjadi tiada tara.


Bayangkan, dalam satu hari saja, semua orang yang aku sayang pergi satu persatu. Sasha, Bi Ina, Ferry, dan terakhir si Farhan. Mau lari kemana lagi jika aku sudah kosong seperti ini?

__ADS_1


Pada akhirnya akalku menyerah. Ia tidak ingin lagi berpikir tentang hidup, kepalaku pun ikut merasakannya, pusing dan berat. Sampai pada akhirnya aku biarkan saja tubuhku terjatuh, mataku terpejam, tanganku terhampar, kakiku terlentang, dan nafasku keluar pelan dari mulut ini. Nikmat sekali jika aku terlelap.


Tapi, jam terus berjalan. Walau seluruh ragaku merasakan kenikmatan yang hakiki. Namun ada satu yang mengganggu. Yaitu pikiranku yang tidak kunjung berhenti memikirkan realita yang terjadi hari ini.


Aku coba hentikan dia. Tetap saja, bayang-bayang semu itu menggoda otakku agar terus berpikir. Aku balikkan tubuh mengarah ke kanan, tetap saja tidak hilang. Aku balikkan tubuhku ke kiri, tetap tidak hilang. Aku balikkan tubuhku kebawah dengan bantal menindih kepalaku, tetap bayangan semu tentang realita itu tidak hilang.


Harus dengan apakah agar aku bisa menikmati seluruh tubuh, jiwa, dan akalku tenang?

__ADS_1


"Solusi, solusi, solusi datanglah!" Aku teriak sambil menepuk-nepuk kepalaku sendiri.


Disaat yang bersamaan, entah darimana datangnya bisikan itu datang. Aku jadi malah teringat tentang kapsul yang diberikan Farhan padaku. Apakah benar kapsul itu bisa membuat pikiranku menjadi lebih tenang?


Benar saja, kakiku pun ikut penasaran, ia tiba-tiba menarik tubuhku bangun dari tempat tidur. Sedikit demi sedikit terus menghampiri tasku yang berada di samping lemari belajarku. Tak sampai disitu, tanganku yang tidak tahu menahu, juga memberanikan diri mengambil kapsul haram itu. Dan mulutku pun tidak bisa menahan gejolak. Pada akhirnya semua kapsul itu pun masuk kedalam tubuhku dengan bantuan satu gelas air bening. Setelah meminum pil itu, aku sangat merasa bahwa seluruh jiwa ragaku tidak mampu menahan larangan Tuhan. Padahal aku sendiri yang ingin menampar Farhan, karena dia telah memberikan kapsul terlarang in padaku.


Aneh, tidak perlu waktu yang lama, satu persatu anggota tubuhku begitu ringan, seperti apa yang sering aku lihat di sinetron. Pikiranku menjadi berubah. Aku yakin, pikiranku lebih bahagia jika dibandingkan dengan sebelum aku meminumnya. Pantas saja jika banyak remaja seusiaku yang terbuai dengan kenikmatan seperti ini. Ah, nikmat sekali. Ingin rasanya hidupku terus seperti ini. Tidak lupa juga aku sampaikan ungkapan hatiku Farhan. Terima kasih sudah menaruh barang ini ke dalam tasku. Mimpiku untuk bahagia telah terkabul.

__ADS_1


Mataku lebih tenang terpejam, tubuhku menjadi rileks, pikiranku teristirahatkan, dan seluruh ragaku terbaring lemas penuh kenyamanan.


Aku berharap, besok akan terus seperti ini. Setidaknya sampai aku menemukan keindahan yang baru.


__ADS_2