
Aku masih menangis. Ingin sekali Sasha menenangkanku disaat seperti ini. Hanya Sasha yang bisa menenangkanku.
"Waduh De Aleya jangan nangis, toh Sasha pergi demi cita-citanya sebagai hafidzoh. Ini kan kesempatan De Aleya mendukung penuh cita-cita Sasha."
Benar memang ucapan Om Samsul. Tapi apakah Sasha se-eogis itu meninggalkan sahabatnya? Mungkin Sasha juga tahu kesepianku. Sasha juga pasti tahu hanya dialah satu-satunya teman yang selalu ada.
"Udah Ya, lo harus kuat. Lo juga harus mengejar cita-cita lo juga. Jangan sampai kalah sama Sasha. Kan enak kalau di masa depan kalian bertemu dengan membawa cita-cita kalian." Imbuh Farhan menyemangatiku.
Perkataan mereka memang benar. Karena mereka tidak sedang berada di posisiku sekarang. Tapi andai mereka tahu, hati yang sakit ini, tidak mau menerimanya. Seakan sesak sekali dalam dada.
"Om apa ada pesan dari Sasha untuk saya?" Tanyaku mencoba mencari pisau ketenangan, yang sekiranya dengan itu, dadaku sedikit lebih lega.
"Kenapa gak tanya langsung aja ke Sasha lewat pesan daring?" Tanya Om Samsul.
"Sasha kan tidak punya HP Om. Buat refreshing juga dia kan make HP mamanya."
"Kenapa gak coba telpon Mamanya?" Imbuh Om Samsul memberiku ruang gerak.
"Oh iya Om, saya coba ya."
__ADS_1
Aku mencari handphone di dalam tas kecilku. Aku ambil dan langsung menelpon nomer Ibu Suci, mamanya Sasha.
"Tut, Tut, maaf nomer yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."
"Hmm, nomernya tidak aktif Om." Celetukku lesu.
"Waduh gimana ya, Papanya Sasha juga kayanya lagi bawa mobil, takut ganggu. Yaudah biar Sasha lebih tenang, bagaimana kalau kita shalat maghrib dulu aja. Nanti kita lanjut. Barang kali hati De Aleya lebih tenang setelah shalat."
Tiba-tiba Farhan berdiri sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Oh terima kasih Om, nanti kita shalat diluar aja. Kita gak enak, gak ada Sasha juga. Ya kan Aleya?" Tepis Farhan. Seakan dia ingin segera pergi.
"Yaudah Om, kita pergi dulu ya Om, terima kasih atas infonya ya Om." Farhan membungkukan punggungnya kembali sambil mencium tangan Om Samsul.
"Wah, bukannya lebih enak shalat bareng disini."
"Gak enak Om, takut nganggu Om Samsul. "
"Oh yaudah, ati-ati di jalan. Soalnya masih maghrib. Di depan juga ada masjid. Barang kali mau mampir kesitu."
__ADS_1
"Iya Om, rencananya kita mau shalat disitu. Kita pamit ya Om." Imbuh Farhan.
"Om, Aleya pamit dulu ya Om." Sambil mencium tangan Om Samsul. Kakiku beranjak meninggalkan ruang tamu.
"Iya hati-hati ya. Besok atau lusa datang lagi aja kesini. Biar De Aleya cerita sama Papanya Sasha. Kan enak lebih jelas."
"Iya Om, insya Allah besok atau lusa saya kesini lagi."
"Krek krek brem!" Suara motor Farhan menyala.
"Ayo Leya!" Teriak Farhan dari luar gerbang rumah Sasha.
"Iya tunggu sebentar!"
"Om, kita pamit ya, Assalamu'alaikum."
"Alaikumussalam. Ati-ati ya De."
Kakiku beranjak pergi meninggalkan rumah Sasha menuju Farhan yang sedari tadi menungguku diatas motornya.
__ADS_1
Kacau sekali pikiran ini. Kepala terasa berat, seakan sedang ada banyak batu besar yang tersangkut. Ingin tertawa, tapi mulut tidak tega melihat hatiku. Ingin teriak, tapi mulut tahu bahwa hatiku tidak membutuhkan itu. Harus dengan apa agar aku bisa sedikit lega dan bahagia? Bukankah hariku sudah sepi? Lantas harus dengan apa lagi agar sepi dalam diri ini pergi jauh tak pernah singgah lagi padaku.