Aku Santri?

Aku Santri?
Sepi


__ADS_3

"Bagaimana? Sudah baikkan?" Kata Bu Yasmin guru BK-ku.


"Iya Bu agak mendingan." Jawabku lesu.


"Rumah Aleya sepi sekali. Kemana Bi Ina? Biasanya beliau sering ngasih Ibu minum kalau nganter Aleya pulang."


"Ada dibelakang Bu, mungkin lagi masak buat makan siang."


"Sayang sekali ya, rumah segede ini tapi sepi." Celetuk Bun Yasmin sambil melihat-lihat benda yang ada di ruang tamu.


"Ya begitulah Bu, semenjak kakek tiada, rumah jadi sepi sekali. Ibu saya jadi jarang pulang. Ayah juga sebulan sekali. Itu pun cuma ngasih uang buat jajan Aleya. Setelah itu langsung pergi lagi. Saya pengen punya keluarga seperti Sasha Bu."


"Walaupun Aleya sendiri, tapi kan Allah masih memberi Aleya ayah yang peduli, ibu yang sayang Aleya, dan menurut ibu harta yang berkecukupan juga itu salah satu pemberian Allah. Kurang baik apa Allah sama Aleya?"


Senyuman Bu Yasmin begitu membuat hatiku sedikit terhibur. Tapi, tidak membuat hati ini berhenti menangis. Untuk apa harta sebanyak ini tapi lupa dengan kebahagian keluarga. Bukankah jauh lebih indah jika berkecukupan dengan satu keluarga yang utuh? Tentu rasa syukur pada Tuhan pun akan bertambah.


"Ngomong-ngomong, Aleya tidak apa-apa kalau sendiri? Soalnya Ibu mau langsung balik ke sekolah. Ibu mau ngurusin berkas buat Sasha." Ibu Yasmin berdiri dari tempat duduknya sembari membereskan tas kecil miliknya.


"Kenapa dengan Sasha Bu?" Aku terkejut mendengar perkataan Bu Yasmin.

__ADS_1


"Lah Aleya belum tau? Kan Sasha besok mau pindah sekolah."


"Pindah Bu? Kok dia gak bilang-bilang ke saya Bu?" Padahal tadi pagi kita berangkat bareng."


Aku sangat terkejut mendengar informasi dari Bu Yasmin. Kenapa Sasha tidak bercerita kepadaku kalau dia ingin pindah sekolah. Bukannya biasanya dia selalu bercerita apapun tentang hidupnya. Tapi kenapa sekarang dia malah memberiku kabar tidak langsung. Ya Tuhan, permainan apa lagi yang Engkau buat? Hidup ku sudah sepi setelah Ayah dan Ibuku jarang sekali menemuiku. Kenapa sekarang Engkau harus menjauhkanku dengan sahabatku?


Hati yang sepi itu tidak bisa dihibur dengan canda dan tawa. Ia hanya akan tersenyum dengan tulus ketika ada orang terkasih yang datang menemaninya.


"Yaudah nanti Aleya ke rumahnya Sasha aja setelah pulang sekolah. Untuk sekarang Aleya istirahat dulu biar cepet sehat. Ibu masih banyak urusan. Takut nanti Ibu yang kena marah Pak Imron. Ibu berangkat dulu ya."


"Oh yaudah Bu, nanti saya main ke rumah Sasha pas pulang sekolah Sasha."


"Hati-hati ya Bu. Salam buat temen-temen disana."


"Ok. Ibu berangkat ya. Assalamu'alaikum."


Suara mobil Sekolah yang mengantarku pulang sudah tidak terdengar. Dan inilah waktu dimana aku mulai merasa sepi.


"Oiya, aku belum minta maaf sama Bi Ina. Aku keterlaluan banget udah ngusir Bu Ina sampe segitunya. Tapi kok Bi Ina tidak ada di halaman rumah. Biasanya jam segini dia lagi nyiramin bunga. Mungkin dia lagi masak."

__ADS_1


Aku menuju ke dapur. Tampaknya dari kejauhan pun suara memasak juga tidak ada.


"Bi Ina, Bi Ina!"


Ternyata benar, Bi Ina tidak ada di dapur. Sepi sekali, tidak ada suara apapun dalam rumah ini. Kursi yang bagus, lukisan mahal yang berjejeran, lantai yang begitu bersih, peralatan rumah tangga yang komplit, dan seorang anak gadis yang kesepian


"Bi Ina! Bi Ina!" Teriakku dari ruang tamu.


"Kok tidak nyaut. Pasti Bi Ina tidur. Coba aku cek kamarnya."


"Tok, tok!" Aku ketuk pintu kamar Bi Ina. Di pintu itu ada foto Bi Ina dan keluarganya begitu harmonis. Sepertinya Bi Ina beruntung mempunyai keluarga seperti itu.


"Bi, Ina! Bi!" Panggilku pelan.


"Apa aku buka aja pintunya. Tapi aku takut mengganggu Bi Ina kalau dia sedang tidur. Bagaimana ini. Apa Bi Ina masih marah padaku karena kejadian waktu subuh. Ya Tuhan, andai aku bisa mengulang waktu."


"Bi Ina, Bi Ina!" Sekarang nadaku sedikit berbeda. Aku sedikit merengek khas manja anak kecil. Berharap Bi Ina mau membukakan pintunya untukku.


"Gak ada suara apa-apa, apa aku buka aja pintunya? Bismillah aku buka aja pintunya. Semoga tidak aku tidak mengganggu Bi Ina."

__ADS_1


"Krekek!" Setelah pintu dibuka.


__ADS_2