Aku Santri?

Aku Santri?
Tak Tentu Arah


__ADS_3

"Mau kemana sekarang?" Tanya Farhan padaku.


"Gak tahu, bawa aja aku kemana pun. Asalkan aku bisa sedikit lega. Pikiranku sangat penat. Kalau pun aku langsung pulang. Justru malah tambah pusing. Apalagi lagi Bi Ina gak ada di rumah."


"Kalu begitu gimana kalau kita nongkrong dulu aja. Katanya lo pengen tenangkan?"


"Terserah, aku ikut aja. Tapi jangan malam-malam. Motorku masih di rumah Ferry. "


"Santuy, gue jamin pikiran lo bakal seger lagi setelah ini. Buruan naik!"


Aku segera menaiki motor Farhan. Cara melepaskan beban pikirku membuat otakku tertawa. Jalanku meliak-liuk, membawa segudang kebingungan, berbusana rapi, tak lupa pula tiga sampai empat buku aku bawa di dalam tas bersama handphoneku. Tapi, kau tidak pernah berkata aku ingin pergi kemana. Lalu, apa yang kau cari?


Aku mencoba memberikanku satu kode. Berharap aku sadar diri. Bahwasanya waktuku habis untuk bergurau dengan buaian mimpi. Terus saja aku mengelak, kataku "Kau tidak tahu apa-apa tentang aku. Jadi bisakah kau diam?!"


Aku biarkan masalah menikmati anyaman hidupku. Nikmatilah saja. Karena aku tidak pernah seperti dirimu.


Dulu, ketika aku sedang dilanda kebahagiaan. Aku lupa diri. Dan meninggalkan aku yang aku. Sekarang aku sudah merasakan betapa tidak enaknya hidup seperti ini. Aku menegurku, agar aku tidak merasakan apa yang pernah aku rasa. Tetap aku bilang "Diam! Urus saja urusanmu sendiri!"


Dan sekarang. Aku tertawa melihat penderitaanku, terbahak-bahak. Bahkan lebih. Aku tahu aku malu bercerita. Atau sekadar menyeduhkan kopi hangat padaku seperti saat aku bersama diriku sendiri. Aku malu teguranku tidak aku balas. Hanya secuil kata yang membuat hati semakin perih. Sekarang, nikmatilah. Aku akan menyambut kapan pun aku mau. Ingat! Aku akan menyambut jika aku menjadi diri sendiri.


Tak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju.

__ADS_1


"Tempat apaan ini?" Tanyaku.


"Katanya lo pengen tenang kan? Udah pokoknya lo ikut gue aja."


"Tapi gak ke tempat kaya gini juga kali."


"Udah pokoknya lo ikut gue aja."


Tempat dimana seumur hidupku baru kali ini aku menginjaknya. Gemerlap lampu warna-warni, wanita dengan rok mini bertebaran, banyak berdudukan pria dewasa yang sedang menghisap rokoknya, musik yang menurutku aneh, dan botol minuman haram yang berbaris di atas meja tamu.


"Kamu gila ngajakin gue ke tempat beginian? Lagian kamu juga belum shalat. Ngapain juga mesti mampir kesini?" Nadaku agak sedikit kasar pada Farhan. Aku terkejut kenapa dia bisa-bisanya terpikir untuk mengajakku ke tempat seperti ini.


"Pokoknya lu diem dulu. Nanti gue kasih sesuatu yang bisa buat lo bahagia." Kedua tangan Farhan memegang pundakku.


"Tunggu sebentar, gue telpon temenku dulu ya. Lo duduk disini sebentar." Farhan meninggalkanku keluar.


Pemandangan apa yang sedang aku liat? Seorang gadis muda berkerudung, masuk ke dalam diskotik karena tidak berdaya menghilangkan rasa sedihnya. Lucu sekali aku ini.


Terlihat Farhan kembali bersama temannya.


"Nih, gue tunjukin ke lo ramuan anti galau. Semuanya ada di orang ini. Pokoknya lo santuy aja." Kata Farhan menunjukan temannya padaku.

__ADS_1


"Kenalin dia Hadi teman rumahku." Imbuh Farhan.


"Gue Hadi, lo Aleya kan?"


"Iya, salam kenal."


"Duduk bro duduk! Biar ngobrolnya asyik." Tawar Farhan ke Hadi.


Dalam hati, aku merasa keanehan mengganjal. Kenapa juga Farhan musti memanggil temannya kesini. Aku sungguh tidak butuh kehadirannya sama sekali. Ditambah pakaiannya yang amburadul, rambutnya panjang, giginya ompong, dan tubuh yang begitu kurus.


"Jadi langsung aja nih. Aleya gue cuma mau nawarin ke lo barang yang dijamin bisa membuat lo tenang. Untuk sekarang, ambil aja tanpa bayar. Kalau lo merasa nyaman dengan barang itu. Lo boleh minta lagi sama gue entar."


"Emang barang apaan?" Tanyaku polos.


"Nih, cukup empat kapsul aja setiap lo pengen."


Tidak seperti yang aku duga. Seorang Farhan menawarkanku barang haram seperti ini. Apalagi aku tahu dia dulu begitu sangat religius. Wajar bila wajahnya yang tampan dan kereligiusannya membuat para gadis sepertiku terpikat. Ini aneh, aneh sekali.


"Hmm gimana ya Han. Kamu tau kan itu barang apaan?"


"Iya, pokoknya lo coba aja dulu. Gak musti sekarang, kapan pun lo mau, coba aja. Bawa aja dulu barang ini."

__ADS_1


Apa yang harus aku lakukan disaat seperti ini. Separah ini kah hidupku? Aku selalu dihadapkan dengan dua perkara yang tidak jelas. Tolong biarakan aku bernafas sejenak.


__ADS_2