Aku Santri?

Aku Santri?
Terluka


__ADS_3

Aku tidak percaya ayahku melakukan hal sekotor itu. Dia menunjukan sesuatu yang tidak sepantasnya aku lihat. Jika akhirnya seperti ini, seharusnya aku tidak penasaran. Aku sebaiknya duduk saja di meja sembari minum. Biarkan saja mereka berkencan tanpa harus aku lihat.


"Aleya!?" Muka ayah terkejut ketika aku membuka pintu kamar. Dan dia melihatku berdiri di depan pintu yang raut muka yang berbeda.


"Ternyata seperti ini Ayahku. Meninggalkan anaknya berminggu-minggu hanya untuk menikmati wanita lacur. Kau tahu, kalau Ibu melihatmu, aku yakin, dia tidak akan sudi mempunyai suami sepertimu. Jangankan Ibu, Aleya juga tidak sudi mempunyai orang tua seburuk dirimu.!!"


Mataku merah basah, emosiku mulai muncul ke permukaan tubuh, tanganku mengepal, gigiku geram, tak tahan menahan gejolak amarah. Ingin sekali aku memukul laki-laki biadab itu, apalagi menampar keras-keras muka wanitanya.


"Aleya dengar Ayah dulu, ini hanya salah paham." Ayahku berusaha menenangkanku, dan dia perlahan-lahan mendekatiku.


"Jangan deketi aku! Aku tidak mau mempunyai orang tua sebusuk dirimu. San katamu perbuatan seperti ini salah paham!? Salah paham!? Otakmu sudah dijual ya!? Hah!? Jelas-jelas kalian berdua sudah melepas pakaian, dan ingin berbuat sesuatu. Kamu bilang salah paham!? Otak kalian benar-benar tidak ada!"


"Jaga bicaramu anak kecil tak tahu diri!" Saut wanita lacur itu.


Dia kira aku wanita kecil yang tidak tahu diri. Bahkan menurutku mereka inilah manusia yang tidak tahu diri. Negosiasi untuk menceritakan penjelasan palsu seperti di film-film. Aku tidak sebodoh yang dia sangka .


"Diem dulu kau Lastri!" Bentak Ayahku.


"Aleya, dengerin Ayah dulu, Ayah akan ceritakan semuanya."


"Tidak usah penjelasan. Mataku sudah melihat sendiri. Ngapain butuh penjelasan. Dasar dongo! Aku akan cerita semuanya ke Ibu. Kamu gak pantas bersama Ibu. Paham!?"

__ADS_1


Aku berpaling dari mereka dan lari secepat mungkin. Aku tidak ingin melihat wajah laki-laki itu lagi. Bagiku, wajahnya begitu membuatku tidak tahan ingin mencabik-cabiknya. *Na*jis sekali mempunyai orang tua yang tidak tahu diri.


"Aleya tunggu! Dengerin Ayah dulu! Aleya!"


Teriak Ayahku dari belakang. Aku terus berlari keluar.


"Aleya tunggu! Dengerin Ayah dulu!"


Aku tak menghiraukan teriakannya sedikit pun. Biarpun mulutnya sampai berbusa sekalipun. Aku tahu dia akan berbohong dengan penjelasannya. Jelas, hatiku tidak ingin mendengar.


Setelah aku mengambil tasku aku segera berlari ke luar club. Aku yakin dia tidak akan mengejarku lagi. Atau kalau pun memaksa, dia benar-benar sudah gila, berlari hanya menggunakan celana dalam di depan banyak orang.


Aku menengok kebelakang, tampaknya benar, dia sudah tidak mengejarku lagi. Tanpa pikir panjang, aku segera menghidupkan motorku. Dan langsung tancap gas. Tak sabar aku ingin bertemu Ibu disaat hatiku seperti ini.


Benar-benar rusak hati ini. Ia tidak sanggup menahan bermacam-macam kesedihan. Sesak jiwa ini, walau setiap hari hanya ada sepi. Perih akal ini, di setiap jamnya harus memikirkan tajamnya sayatan hidup. Lelah mata ini, menahan air mata busuk tentang jalan takdir.


Setelah berjalan dengan kecepatan penuh. Akhirnya motorku tiba juga di rumah megahku yang sepi. Tapi itu hanya halu. Pada hakikatnya rumahku ramai sekali dengan kesepian dan kesendirianku.


Sesampainya di rumah. Aku segera menelpon Ibu. Aku ingin Ibu pulang malam ini juga. Aku tidak kuat.


"Tuuut!"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Bu." Suaraku merengek. Air mataku tidak bisa berhenti memikirkan kejadian itu.


"Iya, Sayang ada apa? Lah kok nangis. Tidak biasanya Aleya nelpon Ibu sambil merengek seperti itu."


"Ibu, maafin Aleya, selama tiga bulan ini Aleya tidak berangkat sekolah. Dan setiap malam juga Aleya pergi ke diskotik Bu. Aleya tidak mau sendiri. Apalagi Aleya tadi lihat Ayah selingkuh sama wanita lain. Ibu malam ini pulang ya."


Tangisanku tidak bisa dibendung lagi. Seperti inikah wanita jika sedang bersedih?


"Apa? Ayah selingkuh!?"


"Iya Bu, pokoknya Ibu harus pulang malam ini. Aleya gak mau sendiri lagi."


"Benar-benar tuh si Saeful. Ternyata benar, selama ini dia ada maksud kenapa menikahi Ibu setelah Ayah kandung Aleya meninggal. Bi Ina ada disitu kan? Sama Bi Ina dulu, Ibu langsung pulang sekarang."


"Ayah kandung Aleya Bu? Bukannya Saeful itu Ayah Aleya?" Tanyaku penasaran.


"Saeful bukan Ayah kandungmu nak. Nanti Ibu cerita kan ya pas dirumah. Pokoknya Aleya sama Bi Ina dulu."


"Bi ina juga pulang ke rumahnya Bu. Katanya dia sudah bilang ke Ibu."


"Ini parah. Yaudah sekarang Ibu otw pulang ya."

__ADS_1


"Iya Bu hati-hati."


Laki-laki biadab itu bukan Ayah kandungku? Aku mempunyai Ayah kandung yang lain? Bi Ina pergi pun Ibu terkejut. Ada apa dengan rumah ini?


__ADS_2