Aku Santri?

Aku Santri?
Teringat Kembali


__ADS_3

Rambutku masih basah. Aku baru saja selesai mandi. Sekarang giliran Ibu.


Memandang dari jendela ketika gelap malam mulai ramai. Langit berwarna kuning khas senja, sedikit demi sedikit luntur dan hilang. Tiba-tiba pikiranku terbesit akan masa empat bulan silam. Ketika aku tidak sadar diri melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan. Hanya karena alasan sedih dan sepi, aku harus menidurkan Imanku.


Aku menidurkan imanku dengan terlelap di kala matahari tengah menyampaikan salamnya pada bumi, boleh saja aku terlelap, meninggalkan suara adzan dzuhur dengan berjumpa mimpi. Aku terbangun ketika udara mulai sejuk, sinar senja berkilau tipis di baluti warna kuning emas, aku tidak mendengar suara adzan ashar. Mungkin waktu ashar itu sudah pergi. Terasa sangat membosankan, aku duduk sebentar, menyalakan gadget merahku. Ternyata banyak sekali kabar-semu yang aku terima. Aku buka satu persatu. Aku tersenyum, aku senang dan aku tersakiti. Terdengar suara adzan maghrib. Dalam hati berkata, aku ajak dulu otak ku untuk bahagia beberapa menit saja. Waktu berhenti, namun aku masih berjalan. Sampai adzan isya berkumandang, aku jawab ah maghribku belum kusambangi. Aku menyesal.


Terus berjalannya waktu, aku lanjutkan dengan dunia malamku, dengan minuman kerasku, dengan musik dan jogetan wanita penghibur. Aku minum lagi, aku senang, aku bahagia, aku mengantuk, aku tertidur, aku tak merasa kesal. Terbangunkan oleh panas pagi hari. Teriakku, jam berapakah ini. Aku lupa, aku sengaja. Aku ingat, aku lupa subuhku telah hilang.


Terus menerus tanpa henti kala itu aku lupakan imanku. Perintah Tuhan hilang dalam hari-hariku. Yang ada hanya mengotori diri dengan perbuatan yang tidak jelas sama sekali manfaatnya untuk diri.


Dari kejadian itu semua, ada yang wajib aku ucapkan saat ini, mungkin, terima kasihku pada Tuhan. Alasan kenapa aku harus mengucapkan kalimat itu sangat banyak. Salah satunya, ketika aku melihat tidak sedikit dari pemuda-pemudi di sekitarku satu persatu mulai terjerumus ke dalam lembah kemodernan hidup sama sepertiku dulu.


Saya berterima kasih sekali pada Tuhan atas teguran kenyataan ini. Aku tidak habis pikir, Tuhan menegur hatiku lewat jalan yang tidak aku sukai. Tuhan membuat hidupku penuh kesepian dan kesedihan. Sehingga pada akhirnya aku buntu jalan, dan saat itulah Tuhan menyapaku. Sekali lagi, aku berucap syukur pada-Mu wahai Pemilik ragaku, Engkau telah menepuk hatiku hingga aku tersadar.


Walau demikian, aku tidak menafikan kemanusiaan pemuda-pemudi seusiaku yang mungkin, Tuhan belum menyapa mereka. Aku tahu, kemodernan mereka bukanlah sebagai tolok ukur untuk menilai bahwa mereka orang tidak baik, orang jahat, sesat, kafir, buruk, dan kata-kata lain yang mempunyai makna menjatuhkan.


Aku tahu, berhentinya aku dari kehidupan seperti mereka bukan berarti aku sudah menjadi manusia yang super sempurna, baik, taat beragama, sholihah, dan kata-kata lain yang mempunyai arti meninggikan.


Dari kejadian ini, aku sadar, mereka manusia dan aku manusia. Tuhan bisa saja memberikan mereka teguran pada satu menit ke depan hingga pada akhirnya mereka tersadar. Tuhan juga bisa menyesatkanku kembali satu jam ke depan. Bodoh jika aku berani mengklaim mereka dengan seenak lidah berbicara. Padahal aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang diri sendiri, kapan aku baik dan kapan aku buruk.


Aku jadi teringat kembali ucapan Sasha, bahwa hidup tidak akan terlepas dari tiga masa. Masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.


Masa lalu, tidak bisa terulang, hanya bisa dijadikan sebagai cermin dan tolok ukur hidup. Mengambil hal penting dimana kejadian, tindakan, kesalahan, kebaikan, dan pengalaman hanya bisa dijadikan sebagai bahan untuk perbaikan diri dan tolok ukur untuk kehidupan berikutnya.

__ADS_1


Adapun masa sekarang adalah waktu untuk melaksanakan hasil dari perbaikan diri didasari dengan tolok ukur yang sudah dilakukan pada masa lalu. Dalam arti, waktu sekarang adalah satu-satunya hal yang perlu ditekankan atau diprioritaskan dengan perbaikan. Dimana masa sekarang bisa juga dikatakan kunci dasar dari masa sebelumnya dan masa yang akan datang.


Sedangkan masa yang akan datang adalah hasil akhir, apakah baik, atau malah sebaliknya tidak jelas. Dua masa sebelumnya, yakni masa lalu dan masa sekarang sangat menentukan masa yang akan datang. Tidak dipungkiri jika kedua masa tadi adalah hal terpenting dari kehidupan. Baik buruknya hasil akhir ditentukan oleh masa dulu dan masa sekarang.


Oleh karenanya, aku harus mengetahui dengan sadar apa yang dikatakan Sasha padaku, dan aku harus dengan sadar pula pada apa yang akan aku akukan.


Menyedihkan sekali hidupku. Hanya berpangku tangan pada sahabat yang sekarang keberadaannya tidak sedang bersamaku.


Kilau senja sudah berganti hitam. Aku masih saja merenung.


"Krek! Brug!" Terdengar pintu kamar mandi. Mungkin Ibu sudah selasai membersihkan tubuhnya.


"Aleya sudah shalat?" Tanya Ibu padaku.


"Lah, kenapa, nanti waktu maghribnya habis lo?"


"Iya Bu, Aleya tadi kepirikan tentang hidup Aleya dulu. Kenapa ya Aleya harus memilih jalan yang salah untuk menutup kenyataan pahit Aleya?"


"Sayang, Ibu akui, itu kesalahan Ibu. Andai Ibu, tidak terlalu fokus dengan perusahan Kakekmu, mungkin kejadiaanya tidak seperti ini. Ibu hanya takut perusahaan Kakekmu diambil oleh Saeful, makanya Ibu harus ikut mengurusi."


"Sepenting itukah Bu? Bukannya anak Ibu yang satu ini lebih membutuhkan Ibu?"


"Sayang, ini juga demi kamu. Ibu ingin mempertahankan perusahaan Kakekmu untuk masa depanmu."

__ADS_1


"Tapi, justru Ibu merusak masa depan Aleya." Tangisku tak tahan diri keluar mendengar jawaban Ibu.


Ibu mendekatiku, lalu pelukannya menyelimuti tubuhku.


"Sayang maafin Ibu, mulai sekarang, Ibu akan selalu ada untukmu. Ibu janji."


Tangisannya menyusul tangisanku. Hanya karena skenario yang Tuhan ciptakan, aku merasa ini semua seharusnya tidak perlu ditangisi.


"Pokoknya, mulai sekarang, Aleya harus jadi lebih baik lagi. Ibu senang sekali, Aleya sudah mau mondok. Padahal, itu cita-cita Ibu dan Ayah Hababi, tapi kamu baru sadar sekarang."


"Aleya sangat bersyukur Bu, Allah masih baik sama Aleya, Allah masih menyapa Aleya, Allah masih menegur Aleya."


"Yaudah, sekarang, kita shalat maghrib dulu ya. Kita curhat sama Allah, kita bertima kasih sama Allah atas apa yang Allah berikan pada kita sekarang."


"Iya Bu, Aleya sudah rindu pada-Nya."


Setelah aku dan Ibu melaksanakan shalat, Ibuku harus pulang. Walau rasaku masih ingin selalu ditemani, tapi inilah jalan yang harus aku tempuh. Toh nanti setelah isya, aku akan berkenalan dengan teman baruku di sini. Tak sabar hati menanti perjumpaan dengan mereka. Akan kah mereka adalah jawaban Tuhan untuk melengkapi kesendirianku? Aku tidak tahu sebelum aku menjalaninya.


Ibu sudah siap untuk beranjak pulang. Walau aku tahu, raut muka Ibu masih belum tega melepas anaknya. Tapi, aku rasa dulu Ibu sudah terbiasa dengan ketiadaan hadirnya diriku.


"Sayang, Ibu pulang ya. Ingat tujuan Aleya datang kesini untuk apa, jangan malas-malasan, harus nurut sama guru, kalau tidak halangan shalatnya jangan ditinggal. Pokoknya, Ibu percaya, Aleya bisa jadi orang yang lebih baik seperti apa yang Ibu dan Ayah Hababi idamkan."


Kecupan kening dari Ibu, menandakan ceritaku di sini sudah dimulai. Semoga, apa yang aku harapkan menjadi sesuatu yang indah untukku nanti.

__ADS_1


__ADS_2