Aku Santri?

Aku Santri?
Dipertemukan


__ADS_3

Ketika pagi tak mampu menidurkanku. Ketika suara syahdu itu tak mampu melelapkanku. Ketika suara syahdu lantunan serangga malam, menyebut-nyebut Tuhannya. Aku berdiri diatas air yang dingin, mengunyah angin malam berserta embun pagi menyatu menyapa. Aku hilang ditengah hamparan sajadahku yang kusut nan berdebu. Tuhan aku hilangkan dalam hati.


Malamku tak terasa untuk berbaring memuaskan diri. Satu persatu fikiran duniawi menyusup liang gelisah. Menjadi beban dahsyat menusuk kedasar alam bawa sadar. Gairah lanjutku menutup ribuan pintu. Terkunci hampir rapat susah mencari lubang yang longgar. Padahal Tuhan ada disana.


Aduhai malang jejakku berapa bulan. Menghilang tiada kabar kudapatkan. Gelapnya jalan hidup menentukan aku pada titik, dimana air mataku menangisi sesuatu yang tidak. Kelam begitu kelamnya rasa pada jiwa, mengada-ada yang tiada dalam pilu. Dan Tuhan selalu ada.


Tolong lompatkanlah aku pada waktu kelamku datang. Aku ingin menyusun kembali diriku yang sebenarnya diriku. Bukan yang aku kenal sekarang, bukan pula aku yang dulu.


Sematkan aku pada masa aku sudah membangun istana. Pada masa aku berdiri menyapa mereka yang selalu tidak ada. Pada masa aku tersenyum bahagia bersama dia yang aku cinta.


Malamku, maaf aku tak jumpa denganmu. Aku hanya ingin kesepihan dalam diri lenyap. Dengan meninggalkanmu aku bisa hidup beserta impianku yang aku panjatkan pada Tuhan-Mu. Maka, inilah sibukku menggantung dalam kejelekan dimata diri yang tak tahu lebih dari sekadar cukup.


Gemetarnya jasad menandakan aku harus segera berlari. Panggilan keras menyeruh dari atas kubah tempat berbakti. Nama Tuhan dan Rasul disebut-sebut beberapa kali. Dalam awal dan akhir ditengahi ajakan untuk segera bersuci.

__ADS_1


Tegak, sunyi dan diam tak ada sedikit cela ku pandang niar itu. Cara mengangkat tangan penuh keyakinan yang indah bak pelangi dilangit biru. Indah, menenangkan jiwa ketika berada disela dalam satu.


Seluruh tubuhku berucap kalimat sama, penuh harap agar tak menjadi pilu.


"Usholi" aku ucapkan. Sebagai pembuka hubunganku dengan Pemilik raga ini. Mulailah mulut melantunkan beberapa kalimat suci. Mata tertuju pada satu arah datar bermakna itulah sebuah pengormatan untuk Ilahi. Sayang, semua tidak sesuai alur nada kekhusyuanku ini.


Pikiranku melayang dan hilangnya Tuhan padanya.


Masih teringat dosaku akan masa lalu. Hanya karena kesepian dan kesedihan Usholliku hilang hanya sebatas berdirinya kaki pada sajadah raya. Mungkin juga semua itu hanya sebatas penggugur kewajibanku sebagai hamba.


Sebenarnya aku malu pada niatku. Namun, tidak demikian yang aku rasakan. Bisa-bisanya dihadapan Sang Raja aku tak malu. Dengan penuh tidak sopan permintaan itu aku haturkan.


"Tuhan maafkan aku. Aku sudah seperti ini."

__ADS_1


Malu, mau ataukah maklum seorang hamba? Rindu, khusyu' ataukah berdiri pura-pura? Ibadah, amal sholeh ataukah tidak diterima? Sah, batal ataukah tidak terlihat adanya?


"Maaf!" Ucapku sekali lagi.


"Usholliku belum seperti mereka. Inilah aku Tuhan, hamba-Mu yang hina."


"Maaf! Maaf! usholliku seperti ini. Tidak berwujud bakti."


"Maaf! Maaf! usholliku belum mampu mengagungkan-Mu. Belum sesempurna perintah-Mu.


Terimalah usholliku walau tak seutuh Rasul-Mu. Wahai Sang Maha Segala diatas segala."


Malam ini, hanya aku dan Tuhan. Aku ingin selalu dekat dengan-Nya. Bersama-Nya pula, aku begitu tenang. Seperti inikah hidupku jika aku selalu bersama-Nya. Aku harus mencari tempat, dimana aku harus terus seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2