
Memang benar, cinta pertama sulit untuk dihilangkan dari ingatan. Walaupun ada sebagian orang yang mampu melupakannya. Tapi aku termasuk orang yang susah melupakan. Apalagi ketampanan Farhan sangat diperebutkan di sekolah SMP-ku dulu. Ditambah dia pintar dalam segala bidang. Sayang disayang, dia playboy kelas kakap. Tidak munafik aku pun sampai tergila-gila padanya. Bagaimana wanita lain? Tentu perasaannya tidak jauh berbeda denganku.
Entah dengan siapa dia sekarang. Yang pasti aku yakin dia sudah punya kekasih. Sangat tidak wajar laki-laki secakep dia masih jomblo. Kecuali, laki-laki yang benar-benar memegang teguh prinsipnya. Atau kata Sasha " Laki-laki yang takut Tuhan." Lah, Kenapa hati ini malah membahas Farhan? Padahal dia bukan siapa-siapa.
"Rumah Sasha deket sini kan?" Tanya Farhan. Tapi aku sedang merenung dan tidak mendengar apapun.
"Hey, rumah Sasha deket sini kan?" Ulang Farhan dengan nada yang sedikit kerasz. Sontak suaranya membuatku kaget. Aku terbuai lamunan ternyata.
"Eh iya Han maaf, entar di depan ada pertigaan belok kanan Han."
"Yaelah, lagi mikirin apaan sih? Mikirin gue ya?"
"Enak aja, aku kan bukan siapa-siapa kamu lagi."
"Menjadi siapanya gue sekarang juga tak masalah. Kan aku masih jomblo."
Mendengar celetukannya, hati seakan merasa bahagia. Kebahagiaan itu menular ke bibirku. Sampai otak ini tidak bisa memikirkan bahwa Farhan itu playboy.
__ADS_1
"Ah kamu aja jomblo, seminggu hati kosong aja galaunya setengah mati."
Aku berusaha meyakinkan hati, bahwa Farhan itu benar-benar jomblo. Walau aku tahu, pura-pura cuek dan berbohong pada diri itu sakit.
"Serius! Gue masih jomblo."
Aneh, perasaan apa ini. Cinta pertamaku mengatakan kekosongan hatinya. Bagaimana mungkin aku sedih. Justru rasa ini ingin sekali mendengar dari mulutnya kata-kata romantis seperti dulu.
"Kamu aja dipercaya. Udahlah, itu belokan deket warung kopi belakangnya rumah Sasha. Jangan sampai kelewat."
"Owalah, bisa aja ngalihin perbincangannya. Padahal gue cuma mau bilang gimana kalau kita CLBK?"
"Bisa aja kamu. Kamu kan udah mutusin aku waktu dulu. Dan itu sangat sakit."
Iya benar, itu sangat sakit. Tapi kenapa hati ini tidak mau melepaskannya. Apakah sebodoh ini cinta?
"Jeg jeg jeg!" Motornya berhenti di belokan menuju rumah Sasha.
__ADS_1
"Eh, kok berhenti disini Han?" Tanyaku penasaran.
"Ini sebagai bukti kalau gue serius mau balikan."
Farhan turun dari motor dan tangannya mendekat ke tanganku. Lalu, kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Pegangan tangan oleh mantan yang kucintai.
Tuhan, aku berdosa. Tapi kenapa dosa ini begitu membuatku bahagia? Kenapa Tuhan? Aku bahagia Farhan kembali mencintaiku. Aku bahagia Tuhan. Boleh kah hari ini saja aku berdosa dengan rasa bahagiaku? Maafkan aku.
"Bagaimana? Sudah percaya?" Farhan tersenyum kecil. Kedua tangannya berada diatas pundakku. Muka manisnya membuat bibir ini tidak bisa berkata lagi.
"Maukah kita mulai dari awal lagi? Aleya aku masih cinta padamu."
Sesadis inikah cinta? Merasa berdosa tapi tidak ingin melepasnya. Begitu indah, nyaman, nan membuat hati tidak ingin merasakan yang lain.
"Kamu gak boongkan?" Tangis kebahagian ini membuat mulutku begitu berat berucap.
"Iya Leya, masa gue boong. Oke, kita akan lanjutkan bincang ini setelah bertemu Sasha. Aleya jangan nangis, kan ada aa Farhan disini. Sasha pasti maafin Leya."
__ADS_1
Perbincangan itu berhenti sesaat. Tidak masalah yang pasti hatiku begitu bahagia sekarang. Terima kasih Tuhan! Aku mohon untuk sekarang berilah hambamu kebahagiaan lebih dengan dibukanya pintu maaf dari Sasha. Dan setelah Sasha memaafkanku, aku akan melanjutkan cerita cintaku bersama Farhan.