Aku Santri?

Aku Santri?
Berubah


__ADS_3

Keesokan harinya, aku terbangun ketika matahari sudah sedikit terangkat ke atas. Baru pertama kalinya aku tidak bersemangat mengahadapi hari. Tidak seperti biasanya, sewaktu ada Bi Ina dan Sasha di dalam hariku. Sekarang, keberadaan mereka jauh dariku. Entah akan seperti apa aku menghadapi dua belas jam ke depan.


Aku lihat jam sudah pukul sembilan lebih lima menit. Aku masih terbaring malas diatas keranjang. Apakah ini efek dari obat yang kuminum tadi malam?


Waktu terus berjalan, dan aku masih tetap merebahkan tubuhku. Tidak ada niat sedikit pun untuk melakukan aktivitas. Bahkan, perutku sudah mulai lapar. Tapi aku tetap asyik menikmati kenyamanan empuknya keranjangku.


Lama-lama bosanku muncul. Jam menunjukan pukul enam belas pas. Seakan waktu begitu cepat berjalan. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Sepertinya ada pesan baru masuk.


"Bagaimana? Lo udah minum belum tuh obat?" Pesan itu dari Farhan.

__ADS_1


Dia muncul kembali disaat aku seperti ini. Mungkin sudah waktunya aku berhenti dari kesepianku. Aku ingin bahagia seperti semalam.


"Belum Han. Oiya, nanti malem kamu mau kemana?" Balasku.


"Ketempat biasa. Kalau lo gak ada temen. Kesini aja kita nongkrong."


"Yaudah, nanti malem aku kesitu Han."


"Gak usah, nanti aku tunggu aja di warung Pak Deden. Tiga rumah dari rumah Ferry."

__ADS_1


"Oke. Sampe ketemu ntar malam ya. Love you."


Aku bingung harus melakukan hal seperti apa. Jika aku tetap seperti ini, menghadapi hidup dengan kesepian dan kesedihan. Bagaimana aku bisa merasakan hidup bahagia, jika hari-hariku sepi dan sedih? Pilihan terakhir untuk mengakhiri kesepianku ini, satu-satunya adalah aku rela bersama Farhan. Aku ingin bersama orang yang aku sayang, dengan tetap membawa kebahagiaan.


Berawal dari malam ini hidupku mulai berubah. Aku susah bangun pagi, shalat lima waktuku hilang, sekolahku berhenti, hidupku sekarang benar-benar jauh dari apa yang aku harapkan dulu. Bahkan aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku melakukan kegiatan anak muda yang jelas-jelas dulu aku sangat membencinya?


Hari berganti hari, hidupku mulai jauh dari kesepian. Aku merasakan hidup seperti ini begitu nikmat. Malam-malamku terisi dengan canda tawa di diskotik bersama lelaki dewasa. Kesedihanku hilang dengan hanya meminum kapsul anti galau. Aku bebas melakukan apapun tanpa harus dibatasi. Semua yang aku rasakan begitu indah. Tidak heran, banyak remaja seusiaku menyukai hal semacam ini. Bahkan, aku merasakan lebih nyaman seperti ini ketimbang aku harus mengingat Tuhan, atau hanya sekadar duduk lima menit untuk membaca Al-Qur'an.


Setiap malam datang, aku hidup dalam dunia yang berubah. Tapi ada satu hal yang paling tidak aku suka. Yaitu ketika Farhan dan teman-temannya membahas masalah-masalah nafsu padaku. Bahkan mereka memintaku untuk memuaskan hasrat mereka. Untungnya aku tidak seperti wanita sebayaku yang merendahkan diri mereka sendiri. Menyerahkan keistimewaan mereka hanya untung sekadar kepuasaan belaka, hanya untuk nafsu cinta, hanya sekadar sayang dengan seseorang. Aku tidak semurah itu. Aku disini hanya ingin bahagia dengan caraku yang berbeda. Bukan untuk merendahkan harga diriku di atas rasa lelaki. Bahkan, untuk mencium bibir pun aku tidak sudi. Walau kadang aku menyesal, kenapa dulu Farhan bisa memegang tanganku. Andai dulu aku termasuk orang yang berpikir, tentu aku akan menolak. Sayang, waktu itu aku masih menjadi orang yang bodoh. Memberikan yang seharusnya tidak aku berikan.

__ADS_1


Pagi datang lagi, dan aku masih tertidur. Hampir setiap hari sejak malamku tidak lagi sepi. Tubuhku akan terbangun ketika matahari sudah berjalan keatas. Aku bahkan sampai berhenti sekolah. Teman-teman dan guru sekolahku sempat datang ke rumah. Tapi sengaja, aku tutup gerbang rumahku rapat-rapat.


Pesan daring dari Bu Yasmin pun aku biarkan. Untungnya, pihak sekolah tidak punya nomer handpone orang tuaku. Jadi, biarkan orang tuaku sibuk mencari apa yang mereka cari. Mungkin dengan begitu, mereka merasa bahwa hidupnya lebih menyenangkan walau harus mengorbankan masa depan anaknya. Aku pun menyukai duniaku yang sekarang. Tidak ada beban apapun, bebas sebebas bebasnya.


__ADS_2