Aku Santri?

Aku Santri?
Pemabuk


__ADS_3

Langkah ayah semakin mendekat. Tidak ada pilihan lain, aku harus melawan dan lari ke bawah bersama Ibu. Lalu pergi dari rumah ini. Walaupun yang aku rasakan begitu pening. Untung saja waktu di diskotik, aku hanya beberapa teguk saja meminum anggur merah. Andai, aku melihatnya setelah aku meminum beberapa gelas. Mungkin nasibku tidak sebaik ini. Dan dalam kondisi apapun seharusnya aku tidak boleh meminumnya. Dasar aku ini bodoh. Terlalu pasrah ditertawakan realita.


Kenapa dalam kondisi seperti ini aku masih memikirkan hal lain. Akhirnya aku putuskan untuk melawan pria tua ini. Apapun resikonya aku akan ke bawah bersama Ibu.


Langkah kakiku bergerak dengan sendirinya. Ia maju melawan arus langkah ayah. Aku melihat dengan jelas, pria tua itu berusaha menghadangku. Diposisi ini, mungkin aku yang diuntungkan. Sebab pria tua itu sedang terpengaruh minuman keras. Sehingga tubuhnya sedikit agak lemah. Tapi itu hanya prediksiku. Mau tidak mau aku harus melawannya.


Dan ternyata setelah dia berusaha menangkapku, aku dorong dia sekeras mungkin.


"Mau kemana kau hah!?" Nadanya khas pemabuk yang kehilangan kesadaran.


"Pergi kau!"


"Bruug!"


Akhirnya pria itu tersungkur. Ini kesempatan yang bagus untukku pergi ke bawah. Aku tengok kebelakang, nampaknya benar dia sudah terpengaruh minuman keras. Untuk berdiri pun dia kesusahan. Tanpa pikir panjang lagi, aku berlari secepat mungkin keluar rumah untuk menjemput Ibu.


Setelah berhasil melawannya, tidak kusangka, pintu rumah terkunci. Pantas Ibu tidak bisa masuk. Otakku berpikir lagi. Hasilnya hanya ada satu solusi, yaitu aku harus memecahkan kaca jendela depan. Aku mencari benda keras yang kiranya dapat memecahkan kaca.


Tiba-tiba,


"Praaang!"


Jendela rumah terpecah. Aku terkejut, apakah itu ulah pria tua. Aku melihat ke arah tangga kamar, tampak wujud pria itu belum terlihat.


"Aleya cepat keluar!" Teriak Ibu dari luar rumah.

__ADS_1


Oh ternyata Ibu yang memecahkan kaca jendela. Syukurlah, aku mulai sedikit tenang.


"Ibu, Aleya takut." Rengekku padanya.


"Sudah cepat!" Nanti Saeful turun.


Aku melihat lagi ke arah tangga. Pria tua itu belum juga turun. Mungkin benar, dia sudah tidak kuat lagi menahan efek dari minuman keras.


"Sepertinya dia sudah tidak bergerak lagi Bu, tadi Aleya liat dia sedang mabuk berat."


"Aleya yakin?


"Iya Bu, waktu Aleya dorong pun dia tidak melawan."


"Kalau begitu, Ibu akan masuk."


"Ibu ingin mengambil surat-surat penting. Dan beberapa benda yang penting juga."


Sempat-sempatnya Ibu berpikir seperti itu dalam kondisi seperti ini. Apakah memang pikiran wanita itu lebih fokus ketimbang laki-laki dalam perihal materi? Aku pun tidak tahu.


"Nanti saja Bu, takut dia turun."


"Kalau dia sedang mabuk, kenapa mesti takut, kita kan berdua." Tegas Ibu.


Dipikir-pikir benar juga apa yang Ibu katakan. Akhirnya aku percaya saja dengan keputusan Ibu.

__ADS_1


Ibu masuk kedalam rumah, dan segera menuju kamarnya. Aku berjaga-jaga di bawah tangga, takut pria tua itu datang dan mengancam.


"Ibu cepat!" Teriakku.


"Sebentar sayang!"


Benar saja, tidak berapa lama, dari dalam kamarku, pria tua itu muncul. Tangan kanannya menyandar ke tembok, tubuhnya sedikit membungkuk, dan tangan kirinya memegang dada. Sepertinya pria itu sudah tidak kuat lagi berjalan. Tapi, dia memaksa terus berjalan walau di depannya ada tangga yang harus dia turuni.


"Ternyata kau masih disini ya anakku sayang?" Nadanya tetap sama. Khas pemabuk berat yang sedang merasakan efek alkohol.


"Berhenti! Nanti kau akan jatuh!" Teriakku keras setelah langkah kakinya tidak sadar diri melewati anak tangga. Dia terpeleset dan "Brug!".


Tubuh pria itu terjatuh, menggulung diri di satu demi satu anak tangga, dari mulutnya pun muncul bercucuran darah, tangannya mencoba meraih sandaran yang dapat menghentikannya dari laju turun nya tubuh ke bawah. Tapi sayang, itu tidak berhasil, sekujur tubuhnya terkapar dengan berlumuran darah diwajah.


"Ibu!!!! Tolong!! Ibu!!!" Teriakku penuh ketakutan.


Kejadian ini mengingatkanku pada peristiwa dua tiga tahun lalu. Kala aku terjatuh dari lantai dua. Aku yakin itu sangat menyakitkan.


"Ada apa nak?" Tanya Ibu tergesa-gesa dengan membawa beberapa kertas di tangannya.


"Astaghfirullah! Kamu apakan Saeful, Aleya?" Tambahnya.


"Dia terjatuh dari tangga Bu." Aku menangis dan memeluk Ibu.


"Astaghfirullah, kalau sudah seperti ini. Kita harus lapor polisi." Tegas Ibu.

__ADS_1


Kejadian ini membuat hatiku sangat terpukul. Tidak terbesit sama sekali jika akhirnya akan seperti ini.


__ADS_2