Aku Santri?

Aku Santri?
Pilihan


__ADS_3

"Terserah lo Han, maaf aku mau ke toilet sebentar. Dimana ya?" Aku beranjak dari tempat dudukku sambil menengok kanan-kiri mencari jalan ke toilet.


"Ah lu mah gak asyik. Padahal kan hari ini kita sudah resmi jadian."


"Tapi gak musti kaya gini juga kan? Buruan dimana toilet? Aku udah gak tahan."


"Sini ikut gue!"


Farhan berjalan di depanku. Untuk mengalihkan dari barang tersebut, aku sampai terpaksa berpura-pura ingin pergi ke toilet. Dalam kondisi seperti ini, kadang aku merasa menyesal. Tapi mau bagaimana lagi. Beginilah hidupku, dimana masalah yang kecil, selalu menjerumuskanku pada masalah yang lebih besar. Hari ini, apapun hasilnya, aku mencoba untuk menghindarinya.


"Tuh, dari sini juga keliatan. Tinggal lurus aja. Inget jangan ke cat yang warna merah, air kerannya mampet, nanti lo gak bisa cebok."


"Aku titip tasku dulu. Takut ribet pas buang air."


"Jangan lama-lama. Gue mau langsung cabut ke tahlilan Ferry."


"Bentar kok, cuma buang air kecil."

__ADS_1


"Yaudah gue kesana dulu."


Setelah beberapa menit aku merenung di kamar kecil, aku segera kembali bersama Farhan dan Hadi. Tampaknya mereka sedang asyik berbincang. Aku tidak tahu apa yang mereka obrolkan. Aku sangat berharap, mereka tidak sedang membicarakan dan sudah melupakan barang haram itu.


"Udah pipisnya? Kalau udah, kita langsung balik ke rumah Ferry. Bentar lagi adzan isya soalnya."


Farhan masih ingat dengan jadwal tahlilan Ferry. Tapi dia tidak ingat sama sekali dengan shalat maghrib yang dia tinggal. Walaupun kedua-keduanya baik. Tapi shalat sangat dianjurkan.


"Aku ke rumah Ferry cuma ngambil motor aja. Habis itu aku langsung cabut pulang."


"Mau gue anterin sampai rumah gak?" Tawar Farhan padaku.


Setelah aku tahu Farhan seperti itu, aku justru seperti hilang gairah padanya. Bahkan mungkin rasa sukaku padanya hampir hilang.


"Yaudah, ayoklah keburu gak ke kejer. Takut sampai sana tahlilannya sudah kelar." Farhan beranjak dari tempat duduknya dan langsung bergegas keluar.


"Di, lo disini aja dulu. Kelar tahlil, gue balik lagi.!" Teriak Farhan pada Hadi.

__ADS_1


"Ya gue tunggu Han!"


Lima belas menit waktu berlalu. Sampailah aku dan Farhan di kediaman Ferry. Tampak para bapak-bapak ramai berdatangan. Pemandangan seperti inilah yang begitu langkah. Tidak melihat mereka dari starta apapun. Kaya, miskin, semuanya duduk bersama untuk mendoakan orang terdekat mereka.


"Han aku pulang duluan ya. Aku malu banyak bapak-bapak."


"Oke, nanti malam aku chat lo. Jadi usahain jangan bobo dulu."


"Bodo amat. Aku ngantuk. Gue duluan ya."


"Oke hati-hati."


Akhirnya, aku sendiri lagi. Padahal, aku berharap ada waktu lebih bersama Farhan. Andai dia seperti yang aku kenal dulu. Mungkin, kesedihanku ini sedikit tertutup walau tidak sepenuhnya. Lebih baik seperti ini, aku bersama kesendirianku.


Selang berapa jam ketika aku sudah di rumah. Seperti biasa, aku dengan sepi duduk bersama di samping kamar. Melihat indahnya malam dihalaman rumahku. Jangkrik bersiul mesra, sepoi angin malam yang terus menggelitiki, bintang-bintang kecil yang imut nan berseri, langit hitam tanpa rembulan, indah sekali sepiku ini bersama mereka.


Disaat aku sedang menikmati kesendirianku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Aku lihat ada pesan dari Farhan. Setelah aku buka pesan itu, aku begitu sangat terkejut.

__ADS_1


"Kalau lo bener-bener sedih. Gue udah taroh ramuan penghilang sengsara di tas kecil lo. Kalau lo gak percaya, cobain aja dulu."


Bagaimana aku tidak terkejut, masih sempat terpikirkan saja oleh otak Farhan agar aku tetap mencoba barang haram itu. Aku penasaran dan akhirnya aku membuka tasku. Ternyata benar, ada tujuh biji kapsul yang aku tidak tahu sama sekali namanya.


__ADS_2