
Aku masih belum mengerti apa yang Ibu katakan tentang siapa Ayahku. Dia sudah memberi tahu aku, kalau Ayahku sekarang bukanlah Ayah kandungku yang sebenarnya. Lantas siapa Ayahku? Bukankah dari kecil aku sudah bersama seorang Ayah? Aku penasaran sekali. Aku ingin mendengarnya langsung dari Ibu.
Jam menunjukan sudah pukul dua belas malam lebih lima belas menit. Aku duduk disamping jendela kamarku. Sembari menunggu Ibu pulang, aku terus saja memikirkan siapa Ayahku.
Andai Ayahku yang sebenarnya adalah Saeful, aku benar-benar tidak sudi. Kelakuannya begitu kotor, aku tidak ingin mempunyai orang tua sebejad itu. Semoga saja kedatangan Ibu memberiku kabar bahagia.
Waktu terus berjalan. Tapi mobil Ibu belum juga datang. Mataku sudah tidak kuat menahan kantuk. Apalagi efek dari minuman beralkohol itu membuat badanku menjadi lemas.
Akhirnya, karena tidak kuatnya mataku menahan kantuk, aku putuskan saja untuk beranjak dari samping jendela dan merebahkan tubuhku. Sudahlah, aku ingin Ibu membangunkanku ketika dia sudah pulang.
Tak berapa lama setelah aku terlelap. Aku terkejut. Dibalik pintu terdengar teriakan orang memanggil-manggil namaku. Akhirnya aku terbangun dari tidurku.
"Aleya, bangun!"
Terdengar sangat jelas, itu suara Ayahku sambil terus menerus mengetuk pintu kamarku dengar keras. Untuk apa dia datang kemari. Bukankah dia sudah melukai hati anaknya, atau jangan-jangan dia ingin melukai hati Ibu juga.
"Mau ngapain kamu kesini!?" Aku tidak tahan melihat wajahmu. Pergi sana! Aku tidak butuh kedatanganmu!" Balasku teriak dari dalam kamar.
"Aleya plis dengerin Ayah dulu. Biar masalahnya selesai."
"Bodo! Aku tidak butuh penjelasanmu. Dengan melihat langsung juga sudah cukup membuktikan kalau kamu bukan laki-laki baik."
__ADS_1
"Kalau Aleya tidak mau buka! Ayah akan dobrak pintunya!"
"Silahkan! Aku tidak takut!"
Disisi lain, aku mendengar mobil Ibu datang. Tak butuh pikir panjang. Aku langsung berlari menuju jendela kamar lalu berteriak keras.
"Ibu! Ibu! Laki-laki jahat itu ada disini. Ibu cepatlah. Aku takut !"
Aku tidak perduli dengan tetanggaku yang sedang tidur. Yang ada dipikiranku sekarang, adalah menemui Ibu.
"Ibu cepatlah!"
Aku melihat Ibuku keluar dari dalam mobilnya. Dengan memakai kerudung yang begitu anggun.
"Ibu, Ayah ada disini. Tolong Aleya Bu!"
Mendengar ucapanku itu, Ibu bergegas lari masuk kedalam rumah.
Tapi di lain sisi, Ayahku terus berusaha membuka pintu kamarku. Suara teriakannya membuat aku tidak tahan untuk menangis.
"Hahaha, awas saja kalau pintu ini sudah terbuka."
__ADS_1
Nada bicara Ayah semakin membuatku takut. Apakah dia mulai seserius ini.
"Sana lebih baik kau pergi saja dari rumah ini! Aku tidak butuh orang tua sepertimu!" Teriakku keras.
Setelah beberapa menit. Akhirnya, Ayahku berhasil mendobrak pintu kamarku. Dengan muka memerah, dengan mimik wajah yang menakutkan, dia menatapku seperti manusia yang sedang dirundung emosi.
"Mau ngasih tau ke Ibu ya? Itu tidak bisa dibiarkan."
Nada bicara Ayah itu yang membuatku segera ingi berlari. Aku familiar sekali. Nada itu seperti di film-film horor yang sering aku lihat.
Harus bagaimana ini? Sedangkan langkah Ayah sedikit demi sedikit terus mendekatiku. Apa yang harus aku lakukan.
"Aleya, pintu rumahnya dikunci dari dalam." Teriak Ibu dari luar.
Kondisi seperti ini jauh dari apa yang aku pikirkan.
"Dasar anak tak tahu diri. Berani-berani kau merusak segalanya. Kau pikir kau akan selamat sekarang? Hah!? Aku sudah baik-baik menyuruhmu untuk tidak lari. Andai sejak awal kau tidak berlari. Mungkin nasibmu tidak akan seperti ini."
"Pergi kau! Sana aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Pergi! Pergi!" Teriakan campur tangis aku lakukan.
Langkah kakiku sudah pada batasnya. Hanya tinggal jendela kamarku dibelakang. Tidak ada pijakan lain. Aku tidak bisa berpikir lagi. Sedangkan langkah Ayah sudah semakin dekat.
__ADS_1
"Kau mau apakan anakmu ini hah!?" Ucapan bercampur tangis ketegangan tetap tidak mau pergi, ia terus menyelimuti seluruh tubuhku.
"Haha, tentu saja, mulutmu akan berbahaya jika kau bercerita semua pada yang lain. Sebaiknya aku sekarang menghilangkan nyawamu. Setelah itu aku akan ke bawah untuk segera menutup juga nyawa Ibumu."