
Ketika kami hendak melangkahkan kaki untuk masuk ke rumah Kiyai. Tiba-tiba datang pemuda tampan dengan baju koko putih, sarung, dan peci hitamnya yang elegant. Sembari berlari pelan, namun tangannya tetap memeluk erat kitab suci. Apakah dia sang Kiyai yang Ibu maksud?
"Maaf Bu!" Pemuda itu menundukan kepalanya.
"Ibu, ada perlu apa ya?" Lanjutnya.
"Oh ini, saya mau mendaftarkan anak saya. Kebetulan saya juga alumni sini. Abah Hasannya ada de?"
"Maaf Bu, Abah Hasan untuk sekarang tidak bisa menemui tamu. Kalau Ibu mau daftar, mari saya antar ke TU pondok." Tetap dengan gaya membungkukkan kepala dan setengah badannya.
"Oh iya de, yaudah antarkan Ibu ya. Sudah lama Ibu tidak kesini. Bangunan pondoknya sudah banyak berubah. Tapi dari dulu rumah Abah masih tetap seperti ini saja ya?"
"Iya Bu, kata Abah, yang penting santri-santri di sini pada betah. Biar rumah Abah saja yang rusak. Kalau pondoknya jangan." Sambil ketawa kecil yang membuat aku terpesona.
"Ayo Bu mari saya antar." Tetap dengan gaya seperti tadi. Aku tidak tahu maksudnya apa.
Dalam perjalanan ke TU, aku ditemani minyak wangi pemuda itu yang harum, begitu harum sekali. Seakan langkah kami sedang berada di jalan menuju surga.
"Maaf Mas, apakah Mas ini Kiyai?" Tanyaku.
__ADS_1
"Bukan, saya hanya musyrif pondok saja."
"Oh, tapi kenapa minyak wanginya Mas sangat harum?"
"Kata Abah Hasan, dianjurkanya minyak wangi untuk dipakai, itu mempunyai alasan. Alasannya karena ia mengandung manfaat bagi manusia." Ia tersenyum kecil nan manis.
"Manfaat? Manfaat seperti apa ya Mas?" Tanyaku penasaran.
"Minyak wangi mampu membahagiakan hidung orang lain dari sengatan bau badan yang tak sedap. Ia juga membahagiakan hidung yang memakai. Namun jangan lupa, jika minyak wangi itu justru membuat orang lain tidak merasa nyaman dan muak. Maka minyak wangi tersebut dianjurkan untuk tidak dipakai. Oh, iya minyak wangi yang saya pakai menggangu ya. Maaf ya kalau mengganggu, besok berarti saya tidak harus pakai lagi."
"Jangan Mas, justru minyak wangi yang Mas pakai sangat harum. Kalau kata mas, minyak wanginya sudah membahagiakan hidungku."
"Lah kok bisa gitu Mas, kan kita gak pakai minyak wangi." Tanyaku penasaran lagi.
"Sama dengan minyak wangi. Memakai hijab bagi perempuan, sangat dianjurkan untuk dipakai, jika dengan itu harga diri dan kehormatannya merasa lebih aman dari gangguan. Dan jika dengan itu manusia lain bisa lebih nyaman dan damai. Seperti nyaman dan damainya nafsu laki-laki ketika memandang. Namun, jika keadaan sangatlah aman, nyaman dan damai. Maka bolehlah melepas hijab itu dengan cuma-cuma. Seperti di dalam rumah misalnya. Bukan hal aneh, membuka aurat di luar rumah dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Ini sama dengan kasus memakai minyak wangi yang orang lain tidak suka menciumnya. Itulah kenapa saya bahagia melihat Ibu dan Ade."
"Owalah, saya baru tahu Mas."
"Nanti kita belajar bareng disini ya. Salam kenal, saya Arief Rohman. Dan kita sudah sampai di TU. Mangga Ibu boleh langsung masuk. Saya mau kembali mengerjakan sesuatu yang harus saya kerjakan."
__ADS_1
"Terima kasih ya de Arief, sudah mengantarkan Ibu dan anak Ibu. Terima kasih juga sudah memberikan sedikit ilmunya."
"Ma'asyukri Ibu, saya permisi dulu Ibu." Dengan membungkukkan badan yang sama persis seperti awal dia datang. Bedanya, dia tersenyum manis menatap wajahku.
Arief Rohman, dia pria langka yang pernah kutemui. Senyum dan nada bicaranya membuatku terpesona. Apakah aku akan bertemu dengannya lagi?
"Woy, kok malah memandangi Arief terus." Tegur Ibu.
"Eh, ndak kok Bu." Aku terkejut setelah lama aku memandang langkah kaki Arief semakin menjauh.
"Ndak apanya. Orang jelas-jelas sampai gak kedip gitu. Dia ganteng ya? Aleya suka ya?" Sambil tertawa kecil Ibu bertanya padaku.
"Kata siapa, orang Aleya cuma mandang doang kok."
Aku sadar diri, menggunakan bahasa sebagai ungkapan, terkadang mencakup kemungkinan tidak bisa ditangkapnya sebuah makna yang terkandung di dalamnya, seperti aku yang sedang mencintai namun aku tidak mau mengakui. Padahal jika dilihat dari raut wajahku yang memerah. Maka akan ditemukan realita bahwa aku adalah orang yang sedang jatuh cinta.
"Yaudah, itu sih tergantung hati Aleya saja. Masa iya, Aleya gak tertarik sama pria seganteng dia." Tertawa Ibu seakan meledekku.
"Apa sih Bu. Tuh TU nya bentar lagi tutup, sekarang kan sudah jam empat sore."
__ADS_1
"Oiya, yuk masuk!"