Aku Santri?

Aku Santri?
Tidak Terduga


__ADS_3

Baru pertama kalinya aku mengendarai sepeda motor secepat ini. Biasanya aku tidak pernah menarik gas motorku sampai setarik ini. Tapi demi maaf dari Sasha, aku rela walau harus mengorbankan tubuhku.


Disaat rumahku belum jauh dari larian sepeda motorku. Kira-kira tiga ratus meter. Entah kenapa ada yang tidak beres dalam benak setelah melihat ada mobil ambulan berhenti di salah satu rumah temanku. Aku redahkan putaran roda motorku. Semakin pelan dan terlihat Bi Aja -ibu temanku menangis histeris. Aku berhenti karena rasa penasaran. Apa yang terjadi dengan keluarga temanku?


Aku dorong perlahan motorku di tempat motor-motor yang lain. Ternyata sudah ada banyak motor yang terparkir disini. Mobil pribadi juga ada. Pasti ada kejadian besar yang terjadi.


Aku lepaskan pelindung kepalaku. Diam sejenak dipinggir motorku. Membereskan kerudung dan baju yang menurutku belum rapi. Dan bergegas menghampiri Bi Aja. Terlihat Bi Aja sedang di pelukan tetangganya. Bi Aja terus menangis.


"Ferry! Ferry! Jangan tinggalin Ibu nak.!" Jerit Bi Aja keras. Aku penasaran apa yang sedang terjadi.


"Assalamu'alaikum. Maaf Bu, ada kejadian apa ya? Saya temannya Ferry." Aku bertanya pada salah satu Ibu-Ibu yang sedang menemani Bi Aja.


"Ferry meninggal dunia De." Jawabnya membuat aku tidak percaya.


"Kapan Bu, perasaan kemarin saya lihat dia masih sehat." Rasa penasaranku semakin memuncak.


"Dia ketusuk De gara-gara tawuran tadi pagi."


"Oh, yang di jalan Cibedus bukan Bu?"

__ADS_1


"Iya de. Padahal sudah ada polisi. Tapi tetep aja tidak bisa dihentiin."


Ternyata keramain tadi pagi yang kulihat ketika pulang sekolah, itu adalah kematian Ferry teman ngajiku dulu. Aku tidak percaya. Ferry si baik hati dan sering dijuluki ustadz oleh teman-temannya. Justru meninggal seperti ini. Dari sini aku merasa, bahwa aku tidak sepatutnya sombong pada hidup. Karena aku tidak tahu kapan, bagaimana, dan sedang apa aku akan meninggal.


"Oh, begitu Bu. Terima kasih Bu atas infonya."


Tubuhku langsung lemas setelah mendengar berita kematian Ferry. Tidak kusangka Ferry akan secepat itu meninggalkan keluarganya.


Sepertinya mod-ku sudah berubah drastis. Keinginan untuk menemui Sasha menjadi tidak ada lagi. Pikiranku kemana-kemana. Jika aku lanjutkan menemui Sasha, aku takut tidak kuat diperjalan dan jatuh pingsan.


Sejak kejadian tiga tahun lalu. Kala aku masih duduk dibangku SMP. Aku terjatuh dari lantai dua sekolahku. Hingga tubuhku tidak bisa bergerak sampai empat bulannya lamanya. Dan setelah sembuh, tubuhku menjadi lemah seperti ini. Lelah sedikit saja tubuh langsung lemas dan seakan tidak ingin melakukan apa-apa lagi.


Ah nikmat sekali, merasakan duduk disaat tubuhku lelah.


Walau sudah sore, nampaknya disini hawanya begitu panas.


"Mau minum?" Suara laki-laki menawarkan minuman botol padaku.


"Eh, Farhan, lama tidak ketemu." Aku menoleh kebelakang. Aku terkejut.Tiba-tiba bibirku tersenyum kecil padanya. Ternyata dia adalah mantanku waktu aku duduk di kelas tiga SMP.

__ADS_1


"Sudah lama disini?" Sambung Farhan.


"Enggak, baru aja sampai."


"Tumben gak bareng Sasha. Biasanya kemana-kemana kalian sering berudaan. "


"Iya, kita lagi ada masalah dengannya. Jujur aku yang salah disini. Niat awalnya sekarang aku mau ke rumahnya. Tapi pas diperjalanan rumah Ferry rame. Yaudah aku berhenti dulu disini. Eh pas mau lanjut kesana tubuhku kumat."


"Oh yaudah, sekarang aja kita kesana. Tunggu apalagi. Setelah kelar dari Sasha. Aku langsung kesini lagi buat ikut tahlil."


"Tapi aku gak kuat bawa sepeda motor kalau lagi kaya gini."


"Tenang, kamu tinggal boncengan sama aku. Motor kamu taruh aja disini dulu. Isya Allah aman."


"Oke, oke, ayo keburu Sasha pergi dulu." Aku langsung memakai helmku. Dan "Krikkrik breem!" Kita berangkat.


***


Berbocengan dengan Farhan seperti ini, mengingatkanku pada kenangan kita dulu. Apakah Farhan masih menyimpan rasa untukku?

__ADS_1


__ADS_2