Aku Santri?

Aku Santri?
Sadar Diri


__ADS_3

Hari kemarin mulai terlihat membereskan sinar mentarinya. Pertanda malam akan datang segera. Hujan yang turun satu jam lalu mulai lelah menyirami dunia. Sekarang tinggal gelap malam menyelimuti segelintir suasana. Bersamanya ia datang membawa kedinginan angin tak bersuara.


Ibu mulai beraktivitas, setelah delapan hari menemaniku dirumah. Keadaan seperti ini kembali muncul. Sepi dan tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Walau Bi Ina sudah berada disini, dan dia sudah memaafkanku. Tapi tetap, hal itu tidak bisa menutupi kesendirianku. Apalagi aku harus mendengar kabar yang entah aku harus bahagia atau sedih.


Waktu acara tahlil Saeful, Ayah Sasha memberitahuku, Sasha sekarang sudah diterima di sekolah Az-Zaitun, sekolah khusus kajian Qur'an dan tahfidz.


Sasha mendapatkan beasiswa berkat pengetahuannya yang luas, ditambah bacaan Qur'annya tartil dan enak didengar. Wajar saja, Sasha diterima dengan beasiswa penuh sampai lulus.

__ADS_1


Dan aku disini, tampak jelas murung raut wajah didepan cermin. Memperlihatkan aroma hati bingung memendam seribu kata bersalin. Tidak ada kata, tak berwujud kalimat, juga bukan sebuah sair. Katanya bertanya padaku, inikah hariku? Apa ini hanyalah sihir?


Kesempurnaan harusnya menjadi pelebur kekurangan.


Namun tidak untuk hari ini. Aku dikeluarkan dari sekolah, malam-malam aku habiskan hanya untuk berpesta, narkotika kini sudah masuk dalam otak dan jiwaku. Kebaikan dengan segala sumbernya harusnya aku dapatkan. Namun tidak hari ini. Cahaya penerang akal sekurangnya bisa menghapus kebodohan. Namun tidak hari ini. Lantas dimana hariku sebenarnya? Mengapa tidak menyapa hatiku? Mengapa tidak menegur akalku? Sudikah dia bahwa nanti ku menyesal disana?


Aku begitu gelap. Aku tak mampu melihat apapun. Hanya terbaring lemah di kehitaman ruangan yang sesak dengan lembaran angan. Saat itu pula aku merasa mati dalam kehidupan. Aku terus menikmati itu dan terus menikmati itu. Hingga pada akhirnya aku tersingkirkan dari keberadaan banyak manusia.

__ADS_1


Lalu, ketika aku mati pikir, ada satu titik putih dalam diri menyapaku dengan halus. Titik putih itu seakan membisikanku dan memberikan aku banyak tawaran jalan. Aku bingung harus mengambil berapa. Karena dalam anganku hanya kebaikan yang muncul. Atau aku harus menjalankan semua. Walau aku sadar diri, bagaikan aku sudah tak sanggup lagi meminum air dengan tangan kanan, alias sudah susah untuk menjalankan kebaikan. Sesanggup apapun aku, keterpaksaanlah yang mendorongku. Bukan karena ada mutiara kecil yang dapat membuat yang lain menjadi besar, yaitu niat.


Aku harus berjalan di cabang yang akarnya sama yaitu sepi dan sedih. Namun menurutku itu menjijikan. Bagaimana tidak, aku harus menjadi orang lain padahal aku ada. Aku harus berpura-pura berbicara dengan orang lain, aku harus berpura-pura berbincang dengan orang lain, aku harus berpura-pura bahagia. Jika itu aku lakukan, kemana aku? Tapi ini jalan yang seharusnya aku tempuh. Aku tau ini begitu kotor dan jorok. Demi kebisingan ini, aku akan jalankan.


Jam sudah berjalan cepat. Aku merasa aku tidak harus seperti ini. Menjadi orang lain dan menipu diri sendiri. Apakah aku harus duduk dan menjadi aku? Bukankah aku yang aku jauh lebih jijik dibanding aku yang bukan aku? Bahkan aku mati dalam kehiduapn yang ada. Bukankah itu sangat gelap dan pekat?


Bingung menumpuk di kepalaku. Ia memenuhi alam sadar dan bawah sadarku. Semua membuat kepalaku menjadi sesak tak mampu menahan. Aku kacau, aku rusak, aku parah, aku hancur, aku bukan aku. Ini sangat gelap. Kapan ini berujung, atau jangan-jangan ini tak berujung?

__ADS_1


"Tuhaaaan!" Jeritku keras tak bersuara.


"Oh ya, aku masih punya Tuhan. Aku lupa."


__ADS_2